
Dua hari berlalu. Fabian kembali menyuruh salah satu anak buahnya untuk kembali mendatangi Darren.
"Gimana Dar?" tanya Fabian dengan gaya angkuhnya.
"Maaf, saya tidak tertarik," jawab Darren tenang.
"Loh kok nggak mau?" tanya Fabian dengan nada tidak suka.
"Loh hak saya dong Kak, mau ikut atau enggak," jawab Darren enteng.
"Ya, nggak bisa gitu dong. Kan kita sama-sama anak orang kaya, jadi kita itu harus bersatu," sahut Fabian merayu.
"Tapi, yang kaya bukan saya kak, orang tua saya," ujar Darren lagi-lagi menolak.
"Ya, kan nanti kekayaan orang tua kamu ya ke kamu. Tenang aja, ikutin aku, kamu bisa mendapatkan apa yang kau mau. Semua gadis di kampus ini akan tunduk di kakimu," tawar Fabian enteng.
"Maaf, saya nggak mau," tolak Darren tegas.
Remaja itu pun meninggalkan Fabian begitu saja. Hal itu tentu membuat pria yang dipanggil prabu oleh mahasiswa yang menjadi anak buahnya pun marah.
"Hei, kamu homo ya?" ledeknya lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh anak buahnya.
"Ya, saya homo. Homo Sapiens," sahut Darren enteng.
Fabian makin keras tertawanya. Otaknya yang tak bisa berpikir apa itu homo sapiens, langsung mencap Darren penyuka sesama jenis.
Berita Darren yang homo pun menyebar luas ke penjuru kampus. Hal itu pun sampai ke telinga Haidar. Pria itu pun resah atas gunjingan para mahasiswa tentang putranya. Terlebih, para dosen dan dekan mulai menyoroti Darren.
"Selama dia tak membuat dampak buruk di kampus. Kita biarkan saja. Tetapi, jika meresahkan dan berbuat di luar norma masyarakat. Kita harus panggil walinya," ujar salah satu dekan ketika melakukan rapat disipliner.
Sebenarnya banyak dosen dan dekan yang tidak menyukai Haidar. Sikap tegas dan tak pandang bulu membuat mereka tak bisa bermain curang dengan para mahasiswa atau mahasiswi mereka.
Haidar menatap putranya yang begitu santai dengan gosip yang beredar. Melihat putranya kini dijauhi perempuan dan ada beberapa laki-laki yang mendekat. Membuat ia khawatir.
Darren tidak pernah menyanggah berita miring itu. Rumor pun semakin luas beredar ke seluruh fakultas. Bahkan sampai ke telinga empat sahabat Darren.
"Dar," panggil Cello dengan napas terengah-engah.
"Widih tumben nih anak hukum main ke sini!" sahut Darren tersenyum menyambut sahabatnya Cello.
"Bilang sama gue. Lu bukan homo kan?" tanyanya gusar.
"Loh, emang Lo bukan tah?" tanya Darren bingung.
"Eh ... gue masih normal ya. Enak aja Lo!" sentak Cello tak terima.
"Loh, yang bilang Lo nggak normal siapa?" tanya Darren makin bingung.
"Lo tadi nuduh gue!" jawab Cello sengit.
"Nuduhnya gue gimana?" tanya Darren makin pusing dengan sikap Cello yang menyalahkannya.
"Itu tadi!" seru Cello.
"Apaan?!" Darren makin bingung dan mulai tersulut emosi.
"Lo ... aarrghh! Gue nggak mau sahabatan sama Lo lagi!" putus Cello meninggalkan Darren yang juga marah padanya.
"Ya terserah Lo!"
Tidak hanya Cello yang menyambangi Darren, bertanya tentang rumornya penyuka sesama jenis itu. Genta, Fery dan Keno pun juga marah karena tuduhan Darren.
"Hei kalian marah sama gue itu kenapa sih? Gue nggak pernah bilang Lo nggak normal ya!" bentak Darren.
"Gue nanya homo itu apa? Apa sejenis penyakit? Atau sejenis apa? Otak kalian kok pada ke arah yang salah ya?" sahut Darren sengit.
"Homo adalah genus dari Kera besar yang terdiri dari manusia modern dan kerabat dekatnya. Genus ini diperkirakan berusia sekitar 2,3 hingga 2,4 juta tahun, kemungkinan berevolusi dari leluhur australopithecine, dengan munculnya Homo habilis. (sumber Wikipedia).!" lanjut Darren lagi.
Genta, Ferry, Keno dan Cello pun terdiam. Mereka berpikir memang ke arah berlainan dengan Darren.
"Makanya otak itu dilurusin bukan dibengkokin!" sindir Darren lagi-lagi sengit pada empat sahabatnya.
"Otak Fabian kok kalian curi. Heran gue!" sarkas Darren lagi.
Remaja tanggung itu pun meninggalkan empat sahabatnya itu. Dengan enam pengawal. Darren pun pulang. Hari ini dia sudah selesai mata kuliah. Mestinya pun ia pulang satu jam lalu.
Namun, perkara ucapan homo sapiens membuat ia banyak diserang tuduhan dan gunjingan macam-macam. Sampai rumah pun ia harus menghadapi tatapan tajam ayahnya.
"Papa mau ngomong sama kamu. Bisa?" Darren mengangguk.
Mereka berdua pun berjalan ke ruang kerja Haidar. Terra membiarkannya. Haidar belum memberi tahu permasalahan pada istrinya.
"Duduk!" titah Haidar.
Darren pun duduk dengan tenang. Remaja itu tahu tujuan sang ayah menyuruhnya berbicara padanya.
"Bisa jelaskan pada Papa apa yang terjadi tiga hari ini?" tanya Haidar langsung ke permasalahannya.
Darren menghela napasnya. Ia pun bercerita tentang Fabian yang mengajaknya bergabung menjadi pengikutnya. Jelas saja Darren menolak, karena mengetahui siapa itu Fabian Arsendo Winata.
"Karena menolak itulah Darren dikatain homo. Ya Darren jawablah. Emang Darren homo. Homo sapiens!" jelasnya.
Haidar akhirnya pun terkekeh geli. Ia hampir menyimpulkan putranya memiliki orientasi menyimpang. Padahal Homo artinya adalah manusia purba.
"Ya, sudah. Maafin Papa karena nyaris menuduhmu yang tidak-tidak," sahut Haidar.
"Iya Pa. Kalau otaknya nggak jauh dari pikiran jelek mah, pasti ke arah sana. Padahal Homo sama Gay itu udah beda arti beda huruf lagi!' sahut Darren sedikit kesal.
Haidar mencibir putranya.
"Dasar tengil!'
"Tengil gini anak Papa!" balas Darren santai.
"Hais ... kamu ya," ujar Haidar lalu mengacak rambut putranya gemas.
Darren terkekeh. Ia pun memeluk sang ayah. Haidar membalas pelukan sang putra dengan hangat.
"Maafin Darren ya Pa. Sudah buat Papa jadi trending topik di universitas," ungkap Darren meminta maaf.
"Iya, sayang. Papa juga ya, minta maaf. Besok Papa akan buat Mading tentang pengertian apa itu homo," sahut Haidar.
"Makasih Pa."
"Sama-sama, sayang."
bersambung.
Homo sapiens adalah
Manusia atau orang adalah spesies primata dengan populasi yang terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki serta otak yang kompleks yang mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit. Wikipedia
next?