
Mendengar penolakan dari mulut gadis dan juga alasannya. Membuat Darren terdiam. Ia lupa jika ada ibu dan ayahnya. Ia lupa belum memperkenalkan gadis itu pada kakak yang merawatnya dari ia kecil hingga bisa sesukses ini.
Ia juga lupa, jika Aini adalah wanita terhormat. Tentu saja ia harus melamarnya secara baik-baik pula.
"Kalau begitu, bersiap lah engkau kukenalkan dengan kedua orang yang merawatku," ujar Darren langsung.
Aini terdiam. Hatinya berdebar luar biasa. Budiman kaku seketika.
"Secepat inikah pemuda ini akan menikah. Oh ... usiaku sudah berapa?" keluhnya dalam hati.
Keteguhan hati Darren tak dapat diubah. Pria susah berucap pantang untuk menjilat kembali ucapannya.
Darren berdiri lalu menatap Budiman. Salah satu pria yang ada bersamanya ketika ia kecil dulu.
"Baba?"
Budiman mengangguk. Ia menyetujui apapun pilihan tuan mudanya. Budiman tak ingin egois. Ia akan berada di depan semua orang untuk melindungi Darren.
"Kita akan kenalkan Nona Aini pada, Nona Terra dan Tuan Haidar. Tetapi, apa Tuan muda sudah mengatakan siapa diri Tuan pada Nona?" tanya Budiman.
Darren lagi-lagi menepuk keningnya ia lupa. Pria itu melihat benda melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi waktu pulang. Ia menatap gadis di depannya. Banyak sekali rintangan yang harus ia lalui untuk mengukuhkan hati.
"Kita istikharah ya," ajak pria itu.
Aini mengangguk setuju. Gadis itu juga belum memantapkan hati ke jenjang yang lebih serius. Ia masih takut dengan segala perbedaan yang terlihat antara dirinya dan Darren.
"Kalau begitu. Kita ta'aruf selama tiga bulan. Aku sangat berharap kau lah jodohku," ujar Darren memastikan diri.
"Bismillah Pak. Semoga Allah merestui-Nya," sahut Aini.
"Aamiin," sahut Darren.
Sementara di rumah. Marni dan Dono saling memaki satu sama lain. Dua anak yang tak berdosa begitu ketakutan di pojok ruang. Ditya menutup telinga sang adik dengan dua tangannya. Ia menangis tertahan.
"Terus ini bagaimana!" bentak Dono akhirnya.
"Hutang kita sudah banyak pada Pak Burhan!" lanjutnya.
"Itu masalahmu. Kau selalu berjudi. Mengambil rumah Mba Darni agar punya rumah memang ideku. Tetapi, yang menaruh Aini di panti adalah dirimu!" tekan Marni mengingatkan. "Kau kalah judi lalu menjual sertifikat rumah dengan harga murah. Kita ngontrak juga sudah habis masanya, itu juga karena kamu!"
"Semua aku ... semua aku!' bentak Dono tak terima.
"Ya, semua karena kamu lah!"
Plak!
"Aarrghh!" pekik Marni.
Dono menampar istrinya keras hingga nyaris terjatuh di lantai. Anak-anaknya menangis. Pria itu kesal sekali. Pikirannya buntu. Ia sudah tak memiliki apa-apa lagi. Pikirannya satu. Bagaimana ia mendapat uang untuk membayar hutang pada Burhan senilai lima puluh juta.
Dono melirik kamar Aini. Ia yakin, jika kemenakannya itu memiliki barang-barang berharga. Ia pun mendekati kamar itu. Anak-anak berhamburan memeluk ibu mereka.
"Mak!"
Marni hanya menangis. Ia juga sudah tak tau harus apa lagi, karena jujur utang itu juga ia nikmati membeli beberapa perhiasan untuk menunjang penampilannya. Wanita itu ingat, jika ia membeli perhiasan pada salah satu tetangganya yang kaya raya.
Begitu Burhan datang menagih utang. Marni berniat menjual emas-emasannya ke toko emas. Sayang, ternyata emas itu palsu semua bahkan surat-surat nya juga palsu.
"Sialan Bu Henny. Dia menipuku!" gerutunya kesal waktu itu.
Ketika ia mendatangi rumah besar itu, ternyata sudah kosong. Beberapa ibu-ibu kampung juga mencari keberadaannya. Mereka juga ditipu habis-habisan oleh Bu Henny.
Usut punya usut . Perempuan itu sudah kabur bersama anak dan suaminya entah ke mana.
"Mereka di sini hanya ngontrak!" sahut pemilik rumah memberitahu.
Semenjak ia dan Dono menjual rumah milik mendiang ibunya Aini. Mereka terpaksa pindah agar tak selalu menjadi nyinyiran warga kampung.
Mereka mengontrak rumah. Setiap bulan, Dono selalu rutin memberinya uang, ia tak tahu dari mana hingga begitu ia tahu ternyata dari utang dengan pak kades.
Makanya itu Dono memutuskan untuk mencari Aini dengan bertanya ke panti di mana gadis itu berada dengan alasan kekerabatan.
Krieet! Bunyi pintu terbuka, membuyarkan lamunan Marni.
"Mau ngapain kamu Pak?' sentaknya bertanya.
"Diam kamu!" bentak pria itu.
Ternyata benar. Aini menyimpan sejumlah uang di laci. Tak banyak, hanya lima ratus ribu rupiah. Walau kecewa, tapi pria itu mengambilnya juga.
Setelah mengambil uang itu. Dono menatap istrinya sambil memperlihatkan uang yang ada di tangannya.
Dono ke kamar dan diikuti istrinya. Lalu Dono keluar terlebih dahulu.
"Bapak pergi dulu, ya Mak!" sahut Dono.
"Ya," jawab Marni di dalam kamar.
Sebelum pergi. Dono mencium pipi dua putranya. Lalu bergegas keluar rumah. Ditya dan Radit memandangi kepergian sang ayah.
Lima menit kemudian, baru sang ibu keluar membawa kantung kresek hitam.
"Eh ... Bapak kalian sudah pergi?" tanya Marni.
Kedua bocah laki-laki itu pun mengangguk. Lalu wanita itu pun mendekati dua putranya. Ditatapnya lekat-lekat lalu ia mencium keduanya.
"Emak nyusul Bapak dulu ya, jangan nakal!' pesannya.
lagi-lagi kedua bocah itu mengangguk. Marni pun melangkah keluar. Sekali lagi menatap dua putranya lalu menutup pintu rumah.
Lama pintu tertutup, Ditya yang baru berusia empat tahun itu mengerti jika ibu dan ayahnya tak akan kembali.
"Bapak ... Emak!' panggilnya.
Ia melepas pelukannya pada sang adik. Radit bingung menatap kakaknya. Ditya pun melangkah lebar ke arah pintu. Mencoba meraih gagangnya, tapi tak sampai.
Tak hilang akal, ia melihat kursi makan. Ia pun mengambilnya dengan cara menyeret kursi itu.
"Dik, bantu Kakak!" ujarnya.
"Buat apa Kak. Mending Adit digendong kakak aja bial bisa sampai itu!" sahut Radit memberi ide.
Ditya pun langsung setuju. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat adiknya agar mencapai gagang pintu.
Cklek. Pintu terbuka.
"Bapak ... Emak!" teriak Ditya setelah meletakan adiknya.
Tak ada siapa pun.
"Kak ...," panggil Radit.
"Bapak ... Emak ... hiks ... hiks!" Ditya mulai menangis.
"Eh, anak siapa itu?" tiba-tiba suara wanita mengagetkan mereka.
Karena takut keduanya buru-buru masuk rumah dan menutup pintu. Dua-duanya duduk di depan pintu seakan-akan menahan agar tak ada orang yang masuk. Keduanya ketakutan setengah mati.
'Kakak ... kakak ... Adit takut!" cicit Radit.
"Ssshhh ... tenang Dik ... ada kakak di sini, kakak akan melindungi mu," sahut Ditya menenangkan sang adik..
Air mata kedua ya mengalir. Ditya berteriak dalam hatinya.
"Emak ... Bapak ... Ditya takut!"
bersambung.
eh ... 😥
next?