TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENGOBATI LUKA SECARA PERLAHAN



Setelah menenangkan Darren yang menangis karena penyesalan begitu dalam. Terra memandangi ketiga anaknya. Sedang Haidar menatap kekasihnya dengan pandangan memuja.


"Kau harus kuat sayang. Jujur, jika aku yang mengalami ini, aku tak akan sekuat kau. Aku percaya Tuhan memilihmu, karena kau memang bisa dan sanggup melewati semua," ucap Haidar.


Terra menatap kekasihnya. Ia memang harus mengobati luka ketiga anaknya, agar bisa berbakti nanti pada suaminya, Haidar.


Sesaat wajahnya tiba-tiba merona. Haidar memandangnya aneh.


"Kenapa wajahmu?" tanyanya.


Terra menggeleng cepat. Pria itu malah tersenyum, ia yakin jika gadis yang menjadi kekasihnya itu memikirkan dirinya.


"Apa kau memikirkan ku?" goda Haidar.


"Ck. PD sekali dirimu," saut Terra malas.


Haidar tertawa. Hal itu membuat Lidya terbangun.


"Syapa tetawa?!' sentaknya marah.


Haidar langsung menghentikan tawanya. Terra melipat bibirnya ke dalam.


"Apa Iya mimpi?" tanya Iya kemudian tidur lagi.


Baik Terra dan Haidar menahan tawa mereka. Kembali pria itu menggenggam jemari kekasihnya.


"Menikahlah denganku, dan kita obati anak-anak kita secara perlahan," ajak Haidar.


Terra diam. Sungguh ia ingin begitu. Tapi, pikirannya bukan hanya tiga anak yang membutuhkan dirinya. Perusahaannya juga.


Gadis itu tak mungkin menyeret suaminya untuk turut serta dalam setiap masalah perusahaannya. Terlebih Haidar adalah seorang CEO juga.


"Dengan tingkat posesif Mas, Mas mau bersama menyembuhkan anak-anak?" tanya Terra tak percaya. "Sama Raka aja, Mas suka cemburu, apa lagi sama tiga anak ini."


Haidar terdiam. Ya, ia masih bersifat egois. Ia belum bisa berbagi dengan siapa pun jika itu menyangkut masalah Terra. Bahkan kemarin ia membuat Raka menangis karena berebut perhatian gadis itu.


"Hmm ... iya juga ya, kan nggak lucu pas lagi ***-*** tiba-tiba Rion atau Lidya datang mengganggu," ucapnya enteng.


"Mas ini. Kalau Lidya dengar ucapan Mas barusan, bakalan runyam nantinya!" runtuk Terra kesal.


Haidar hanya tersenyum kikuk. Pria itu kembali menciumi gadis kecil yang masih lelap.


Romlah dan Ani berada di ruangan kerja Terra bersama dengan Budiman ketika Haidar datang.


Beberapa saat, pintu diketuk. Rommy menyatakan jika pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan. Haidar pun bangkit dari rebahannya.


Pria itu juga mesti ke kantornya. Ia akan mengadakan rapat penting. Sedari tadi Bobby sudah memberinya pesan singkat agar dirinya segera hadir.


"Aku juga harus pergi," pamit Haidar.


Ketika Terra hendak meraih gagang pintu. Haidar menarik dan memeluk gadis itu erat. Terra membiarkannya. Ia juga butuh dekapan.


Haidar mengecup kening kekasihnya. Netra mereka bertemu, bibir mereka saling mengulas senyum.


Perlahan Haidar menurunkan kepalanya. Jantung Terra berdegup dengan kencang, ia bimbang antara menerima ciuman itu atau tidak.


Bibir itu makin lama makin dekat. Satu inci lagi, Haidar akan merasakan manisnya bibir Terra.


Cup.


Hanya menempel saja. Pria itu masih belum berani mencecap bibir manis itu. Lama ia menempelkan bibirnya. Setelah itu baru ia menjauhkan kepalanya.


Terra merona merah karena malu. Haidar mengusap bibir itu dengan ibu jarinya. Pria itu masih setia memeluk kekasihnya.


"Sayang ... nikah yuk," lagi-lagi ajakan untuk menikah terlontar dari mulut pria itu.


"Yuk, nikah sederhana aja tanpa resepsi dulu, biar halal semuanya," saut Terra.


bersambung.


akhirnya ...


next?