TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENAMBAH ILMU



Waktu yang tersisa, Lidya gunakan sebaik-baiknya. Gadis itu sudah selesai dengan konselingnya. Waktunya sisa beberapa hari lagi. Ia belajar full tentang titik-titik syaraf manusia.


"Jangan mengumbar tenagamu. Kau juga butuh," ujar Shen mengingatkan.


Kadang satu hari Lidya disuruh memasang kuda-kuda. Berada di suhu minus karena sudah masuk musim dingin.


"Dia sangat kuat akan keyakinannya," ujar Sheng pada Gio yang juga dilatih kekuatan titik-titik syarafnya.


"Sekarang lawan, Nonamu!" titah Shen.


"Tapi Tuan ...."


"Lidya!"


Lidya memberi serangan pada Gio. Beberapa titik menjadi incaran gadis itu.


Gio sedikit kualahan. Pria itu kena tendangan dan pukulan Lidya.


"Serang Lidya, agar aku tahu sampai mana kekuatannya!" titah Sheng setengah memekik.


Gio akhirnya menyerang nonanya. Ia yakin jika Virgou mengetahui hal ini, ia akan digantung oleh pria itu.


Bug! Bug!


Dua pukulan mengenai tubuh kecil Lidya, gadis itu sampai terjajar ke belakang.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Gio khawatir.


"Tenang, Om. Iya nggak apa-apa," jawab sang gadis.


"Sudah cukup. Aku tahu kekuatan Lidya," sahut Shen menyudahi Sparing tersebut.


"Kai benar-benar kuat. Aku, yakin jika kau berlatih lebih giat lagi, kau bisa mengalahkan Gio dengan mudah," jelas Shen dengan sangat antusias.


Gio mengangguk membenarkan, sedangkan, Juan dan Hendra begitu takjub melihat kekuatan nonanya.


Selama tiga hari tersisa, Lidya mempergunakan waktunya untuk belajar dengan giat. Demian begitu kehilangan gadis itu. Ia bertanya pada Jac, kemana gadis itu.


"Di mana dia, Jac? Aku merindukannya," ujar Demian.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, Nona sedang memperdalam ilmu akupuntur pada senshei Shen di kawasan China town," jawab Jacob.


"Hmmm ... aku juga ingin berlatih di sana," sahut pria tampan itu. "Kita juga telah lama tak mengunjungi senshei Shen bukan?"


"Akan saya atur Tuan," sahut Jacob lalu membungkuk hormat.


Sore hari, kedua pria itu benar-benar mendatangi pria yang sudah lama mereka kenal.


"Selamat sore Senshei," sapa pria itu ketika masuk ke rumah Shen.


"Kau masih ingat dengan si tua ini ternyata," sahut Shen kesal.


Demian terkekeh. Ia memang datang lebih dulu dari pada Lidya. Sepuluh menit kemudian, gadis itu datang bersama ketiga pengawalnya.


Sedang di tempat lain, Darren tengah memandangi sosok cantik yang sedang melakukan treatment pertolongan pertama pada kecelakaan.


"Yang pertama kalian lakukan adalah menjauhkan semua barang berbahaya. Dibawa ke tempat terbuka, jangan mengerumuninya, usahakan luka lebih tinggi dari pada jantung!" jelas gadis itu. "Dan yang paling penting adalah jangan panik!"


"Bagaimana kau menolong hatiku yang sedang kacau? Padahal tak ada balon hijau yang meletus," gumam pria tampan itu.


Budiman tampak memperhatikan tuan mudanya. Ia sangat yakin jika Darren memiliki perasaan pada gadis yang kini pemuda itu pandangi.


"Kau sudah dewasa ternyata. Kau bisa memilih wanita yang memang memiliki kualitas sempurna," gumam Budiman mengamati tuan mudanya.


Pria itu telah menelusuri semua yang berkaitan dengan Aini Citra. Bahkan semua data gadis itu sudah berada di tangannya.


Aini Citra, gadis berusia dua puluh tahun, lahir di desa kecil. Hidup sederhana, ayahnya hanya bekerja sebagai staf biasa sedang ibunya seorang ibu rumah tangga. Kedua orang tua gadis itu telah meninggal dunia semenjak Aini berusia tiga belas tahun. Gadis itu pun menjadi yatim piatu hanya dalam waktu tiga bulan saja. Karena setelah ibunya yang berpulang, sang ayah menyusul tiga bulan kemudian. Hidup sebatang kara. Tanpa sanak saudara. Seorang anak genius, mendapat beasiswa dan menjadi dokter di usia sembilan belas tahun.


"Nona Terra harus melihat gadis ini. Aku yakin, dia pasti sangat setuju," ujarnya kemudian.


Sedang di benua lain. Kini Lidya kembali berlatih, ia menyerang Demian dengan sangat serius.


"Kau serius lah, dan lihat seberapa kuat Lidya!' titah Shen.


Ternyata perkembangan Lidya jauh lebih pesat dibanding ketika ia melakukan Sparing bersama Gio. Bahkan pengawalnya itu sangat terkejut dengan kekuatan nonanya.


Bug!


Kedua-duanya terjajar ke belakang. Jacob bertepuk tangan. Ia begitu puas dengan pertandingan yang baru saja ia lihat.


"Kau kurang serius Demian!" tegur Shen.


Demian hanya menggosok tengkuknya. Lidya mengangguk membenarkan. Ia merasa jika pria itu tak sepenuhnya menggunakan kekuatannya.


"Senshei, besok Iya, pulang. Iya mau berlatih titik-titik syaraf lagi," pinta gadis itu.


"Ya, baik lah."


Shen merasa kurang melatih gadis itu, waktu membatasi semuanya.


"Mungkin satu tahun lagi Iya bisa datang lagi," sahut gadis itu.


"Pelajari dengan benar, jangan sampai salah!" sela Shen.


Lidya melipat bibir ke dalam. Gadis itu akhirnya serius mempelajari titik-titik syaraf manusia.


Qi dikatakan mengalir melalui meridian, atau jalur, di tubuh manusia. Meridian dan aliran energi ini dapat diakses melalui 350 titik akupunktur di dalam tubuh. Meridian Ren (di jalurnya ada dua puluh empat titik akupunktur). Lidya hanya belajar intinya saja, yakni dua puluh empat titik akupuntur.


Gadis itu juga melatih kekuatan jari-jarinya. Ia juga membeli seratus jarum akupuntur sekali pakai. Sesuai standar WHO.


"Ini sertifikasi akupuntur mu, Lidya," ujar Shen memberikan sertifikasi dengan nilai Grade tiga.


"Kau sangat cepat belajar dan menguasai semua teknik yang kuberikan. Gunakan sebaik-baiknya," ujar Shen penuh haru.


"Terima kasih Senshei!" ujar Lidya lalu memberi hormat dengan membungkuk tubuhnya.


Demian ikut memberi penghormatan pada pria itu. Ia sangat kagum dengan kegeniusan Lidya.


"Kau pasti bisa bijak dalam menerapkan semua ilmu yang kau miliki, Lidya," sahutnya.


Lidya tersenyum dengan sangat manis. Demian terpana dengan senyuman itu.


"Jadi besok kau pulang, Lidya?" tanyanya lagi.


"Ya, besok saya pulang, Tuan," jawab gadis itu.


"Bisakah aku minta tolong padamu?" tanya Demian sedikit takut-takut.


"Apa itu Tuan? Sebisa mungkin saya akan laksanakan jika bisa," sahut Lidya sedikit cemas..


"Tolong kau jaga hatiku yang kau bawa dan tolong rindukan aku juga mintalah, agar kita bisa bersama suatu saat kelak," ujar Demian dengan tatapan kesungguhan.


Rona merah menjalar di kedua pipi sang gadis, ia sangat tersipu dengan kata-kata pria tampan di hadapannya.


"Maaf, Tuan. Saya tak bisa janjikan itu. Karena jodoh saya serahkan pada kehendak Allah. Tetapi, jika bisa menjadikan anda yakin. Saya menjaga hati ini untuk yang halal," jawaban tegas Lidya sedikit membuat Demian tak bisa berharap lebih.


Namun, Demian meyakini jika Lidya adalah jodoh yang Allah persiapkan untuknya.


Kini, pria itu menatap mobil yang membawa tubuh mungil gadisnya pergi. Shen menepuk bahunya.


"Bersabarlah, Demian!"


Pria itu mengangguk. Ia akan terus bersabar, hingga batas kesabarannya.


bersambung.


Hai Readers ... maaf ya atas keterlambatan update hari ini. Karena tadi mati lampu dan signal sangat buruk. Besok lagi yaaa ...


next?