TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
USAHA TERAKHIR CHERRYL



Sosok cantik bertubuh mungil dibalut dress dengan rok mengembang selutut tanpa lengan berwarna navi. Rambutnya digelung ke atas secara asal hingga membuat terkesan seksi. Wajahnya yang manis, hanya dirias tipis. Tanpa aksesoris berlebihan hanya kalung berbandul mutiara asli berwarna hitam. Terakhir heels hitam setinggi lima centi membalut kaki kecilnya. Sungguh sempurna.


Gadis itu berjalan dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi. Berdiri di depan pintu besar. Kemudian mengetuknya dengan benda berbentuk tapal kuda.


Tok ... tok ... tok!


Butuh waktu lima menit, pintu baru terbuka. Sebuah sunggingan senyum yang tadi menghias manis perlahan sirna ketika melihat sosok yang membuka pintu.


"Kau ada di sini?" tanyanya dengan rasa tidak percaya.


"Siapa sayang?' sebuah suara yang Cherryl kenal menyeruak.


Dengan senyum lebar, gadis itu langsung melangkah masuk dan melewati sosok yang membuka pintu untuknya.


"Mommy, Cher datang!' serunya dengan luapan kegembiraan.


Kanya hanya diam. Cherryl yang tadi tersenyum lebar dan merentangkan tangan mendadak mengatup mulutnya dan menurunkan lengannya perlahan ketika melihat tatapan tajam dari Bram.


Bram tepat berada di belakang Kanya istrinya. Pria itu keluar dari dapur setelah mendengar suara Cherryl. Dari dulu. Pria ini lah yang tidak menyukai gadis itu dekat dengan keluarganya. Tapi, ia tak mampu melarang Kanya karena istrinya terlalu baik kepada siapa saja yang bisa menaklukan hati putranya.


"Om," cicitnya.


"Glany!" tiba-tiba sosok cantik dengan rambut kemerahan datang dari dapur.


Lidya menatap wanita yang tidak ia kenali. Entah insting dari mana, gadis kecil itu langsung ketakutan begitu melihat mata Cherryl yang nyalang menatapnya.


Gadis kecil itu langsung berlari ke arah ibunya yang sedang berjalan mendekati Kanya dan Bram.


"Mama, Iya tatut!" bisiknya setelah berada dalam gendongan Terra.


Mata Cherryl kembali terbelalak setelah melihat wanita yang kemarin ditemui dan diakui sebagai istri Haidar, ternyata benar. Bahkan mereka sudah memiliki anak. Pikir Cherryl.


Perlahan, gadis itu menggeleng tak percaya.


"Mom, this is not true, is it?" cicitnya..


"Apa yang tidak benar?" tanya Kanya datar.


Cherry melihat cincin bermata Ruby melingkar di jari manis Terra yang tengah menggendong putrinya seperti koala.


"Mama!" lagi-lagi Cherryl dikejutkan dengan kedatangan Darren.


Melihat usia Darren, membuat Cherryl tersenyum sinis. Pikiran negatif langsung menyeruak masuk ke dalam otaknya.


Terra mengajak dua anaknya naik ke lantai dua. Cherryl tahu, hanya orang-orang dekat atau keluarga yang bisa naik ke atas. Dulu, ia dekat dengan Kanya. Tapi, ia tak pernah bisa menjejakkan kakinya ke lantai dua mansion keluarga Pratama.


"Ada apa kau kemari?' tanya Bram lagi.


"Emm ... Cher kangen Mommy Kanya," jawabnya sedikit manja.


"Maaf, tapi jangan lagi panggil aku Mommy. Aku bukan Mommy mu yang dulu lagi."


Sebuah permintaan keluar dari mulut Kanya dengan lugas. Cherryl tersentak. Enam tahun kepergiannya mengubah semua. Kehangatan dan cinta dari Kanya tidak lagi gadis itu dapatkan, bahkan lewat tatapannya saja.


"Tapi ...."


"Cukup Cherryl! Kami memiliki menantu yang harus kami hormati di sini!' sentak Bram.


"Kenapa ...?" tanya Cherryl sendu.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Wanita yang baru saja kau temui adalah menantuku," jawab Bram tegas..


Cherryl menitikkan air mata. Gadis itu membekap mulutnya. Ia pun memutar langkah dan berlari meninggalkan mansion itu. Ia terus terisak hingga di dalam mobilnya.


"Terra sialan!" umpatnya penuh kebencian.


Bergegas ia hapus kasar pipinya yang basah. Setelah menyalakan mesin mobilnya. Gadis itu segera menancapkan gas dalam-dalam. Perbuatannya membuat penjaga pintu gerbang kelabakan karena harus cepat-cepat membuka pagar agar tidak ditabrak mobil yang melaju kencang itu.


Sedang di dalam mansion Kanya memeluk Bram. Wanita itu memohon agar Terra dikawal beberapa bodyguard.


"Pa, Mama takut Cherryl menyakiti dan melukai Terra dan anak-anak."


"Jangan takut Ma. Papa sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk mengawalnya."


Bram memeluk erat. Tiba-tiba pria itu menarik tubuh istrinya ke kamar.


"Sayang ... yuk," ajaknya dengan mata dipenuhi kabut gairah.


Kanya merona. Wanita yang sudah tidak muda ini mencubit pelan lengan suaminya, namun sejurus kemudian ia pun mengangguk.


Tak lama, kamar itu tengah berlangsung satu adegan penuh cinta dan gairah.


bersambung.


next?