TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
POSESIFNYA PARA AYAH



Sudah satu minggu anak-anak bersekolah, dari senin hingga jumat. Hingga para ayah berinisiatif untuk mengantar putra putri mereka. Para ibu disuruh di rumah saja.


Haidar, Virgou dan Herman berjalan kaki bersama delapan anak mereka, termasuk Darren, remaja itu juga turut mengantar adik-adiknya. Tentu saja dikawal oleh sepuluh orang bodyguard.


Lagu sama dinyanyikan oleh mereka. Kebetulan Budiman ikut serta dalam keseruan.


"Oh ibu dan ayah syemamat padhi ... tu peldhi belajan syampai tan nanti ... pelamat pelajan nat benuh semanat lajin lah syelalu pentu tau dapat ... holmati dulumu sayani teman pitulah pandana tau mulidna Baba!"


"Loh, kok muridnya Baba?" tanya Herman sedikit heran.


"Tan, mananan Baba Pudiman," jawab Kean polos.


Budiman tersenyum penuh kemenangan. Sedang Haidar dan Virgou berdecih melihat pengawal Terra itu besar kepala.


"Budiman di lagu tersebut maksudnya bukan Baba, sayang," sahut Darren menjelaskan.


Haidar, Herman dan Virgou langsung mengangguk Hanya Budiman yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"Biar, kenapa sih," rajuknya.


"Tidak boleh, Ba. Harus diberitahu benarnya," sahut Darren.


"Tlus, talo butan Baba spasa Tata Dallen?" tanya Arimbi bingung.


"Budiman yang di maksud adalah sikap kita sebagai murid, Baby. Berbudi dan beriman. Anak yang berbudi dan beriman adalah anak yang menghormati guru dan menyayangi temannya," jelas Darren lagi.


"Oh ... bedituh ...!" sahut semuanya sambil mengangguk.


"Tapi, eundat pa'a-pa'a tan talo jadi mulidna Baba?" tanya Sean.


"Nggak apa-apa Baby," jawab Budiman langsung.


"Nanti, Baba akan mengajari kalian, Ok!" lanjutnya.


"Oteh!" sahut mereka semua.


Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Semua anak langsung berpencar laksana tim penyambutan antara laki-laki dan perempuan.


"Hi, Sean!" sapa gadis kecil manis bermata sipit menyapa.


Sean hanya tersenyum tipis.


"Hi, Kean!" kini gadis kecil berlesung pipi dengan mata jeli menyapa Keanu.


Satu persatu semua anak laki-laki mendapat penggemarnya masing-masing. Bahkan ada yang sampai berebutan senyuman dari Satrio.


"Ih, Satlio senyum ke aku!" seru gadis kecil nan centil.


"Ih, ke aku itu!" sahut gadis kecil satunya lagi.


"Halo, Nai ... Arimbi!" sapa Theo. "Selamat pagi!"


Keempat pria dewasa menoleh dan langsung menatap tajam pemilik suara. Theo, langsung kaku. Darren hanya bisa menggeleng kepala. Lalu menenangkan bocah laki-laki itu sebelum ia menangis.


"Hai adik, apa kabar. Saya kakaknya Arimbi dan Nai. Ayo, kita masuk," ajaknya.


Darren menghalangi pandangan Theo dari tatapan tajam ayah-ayah mereka. Sedang baik, Herman, Haidar, Virgou dan Budiman mulai gusar ketika putri mereka disapa oleh lawan jenisnya.


"Anak siapa itu tadi?" tanya Haidar gusar.


Budiman langsung mengedar pandangannya. Ia tak melihat wajah-wajah penunggu anak-anak yang mirip dengan anak laki-laki tadi. Malah para ibu-ibu berbisik-bisik dengan genit memandangi mereka berempat.


"Astaga, itu benar cowok-cowok ganteng. Yang satunya emang udah tua sih, tapi masih gagah ih," bisik salah satu ibu dengan make up menonjol dan berpakaian mewah.


"Iya, itu suami-suami yang kemarin istri-istrinya mengantar. Ibu Terra, Bu Puspita sama Bu Khasya! Tapi satunya lagi nggak tahu, itu juga ganteng banget .. apa doi jomlo yaa?" jawab salah satunya sambil menatap genit Budiman.


Budiman yang ditatap seperti itu, langsung bergidik ngeri. Terlebih ada yang membasahi bibir dengan lidahnya ketika pria itu bertatapan dengannya.


"Sepertinya, yang mengantar bukan ibu atau ayahnya," sahut Budiman kembali duduk.


Mereka menunggu, hingga istirahat. Dua puluh menit kemudian. Bel istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Para bodyguard langsung merapikan anak-anak agar tidak saling mendorong satu dengan lainnya. Belajar dari Lidya terjatuh beberapa tahun lalu.


"Jangan dorong-dorongan yaa," pinta para bodyguard.


Anak-anak langsung berjejer rapi, keluar secara bergantian. Mereka lakukan itu setiap hari. Anak-anak pun sudah mulai terbiasa, walau kini mereka kembali saling dorong.


"Nai!"


"Limbi!"


Dua gadis kecil menoleh. Dua pria kecil yang tampan membawa kotak bekal mereka. Haidar langsung berdiri dan memanggil dua putrinya.


"Arimbi, Naisya!"


"Maaf ya, aku dipandhil syama Papa aku," sahut Nai ramah.


Arimbi langsung mendatangi tempat ayah mereka dan meninggalkan Nai yang masih berbicara dengan dua bocah laki-laki itu. Theo dan Bagas seperti sedih. Mereka berdua ingin berbagi kotak bekal mereka. Darren hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Dar, aduin Mama ntar," gumamnya pelan.


Tak terasa kini mereka pun sudah ada di rumah. Selama dua jam keempat pria berjulukan ayah itu. Nampak begitu puas dengan apa yang mereka lakukan..


"Ma, masa tadi Papa, Daddy dan Ayah melototin anak kecil loh," adu Darren.


Terra langsung menatap tiga pria dewasa itu.


"Baba juga iya," lanjut Darren mengadu.


Budiman, langsung mematung ketika hendak melarikan diri. Haidar dan Virgou cuek. Keduanya merasa benar. Herman malah membalas tatapan Terra horor.


"Jika begitu anak-anak laki-laki, besok Te pelototin cewek-cewek yang deketin mereka," ancam Terra acuh.


"Beda dong, Te," sergah Virgou tak terima.


"Sama!" tukas Terra tak mau kalah.


"Mereka hanya berteman, apa salahnya?" lanjutnya kesal.


"Besok, Papa, Ayah dan Daddy nggak usah nganterin lah, biar, Bunda, Terra sama Puspita aja yang anter!' sahut Khasya juga kesal.


"Bunda. Haidar kan menjaga anak-anak perempuan dari anak laki-laki yang menggoda," sela Haidar membela diri.


Herman dan Virgou mengangguk setuju. Begitu juga Budiman. Ia belum punya anak perempuan, jika punya, akan berlaku sama dengan tiga orang pria ini.


"Jaga juga jangan sampai dia nggak punya temen dong, Pa," sahut Terra kesal.


Perdebatan orang tua perihal betapa posesifnya ayah pada anak perempuannya, terdengar oleh anak-anak.


"Mama, Papa, Daddy, Mommy, Ayah, Punda!' panggil mereka semua.


Semua orang dewasa yang tengah adu argument itu pun menoleh pada anak-anak yang belum berganti baju. Para babysitter entah kemana.


"Loh, Mbak Sarah, Mbak Ayu dan Mbak Tiwi mana, kok belum gantiin baju kalian?" tanya Khasya langsung mencari ketiga baby sitter.


Ternyata mereka bertiga asik ngerumpi genit sambil mengamati para pengawal ganteng yang tengah mengecek keamanan.


"Oh ... kalian di sini ternyata ... bagus!"


Ketiga perempuan muda tersebut sangat terkejut ketika Khasya memergoki mereka. Terra dan Puspita juga tak habis pikir, kenapa para wanita muda jaman sekarang begitu genit dan centil.


"Anak-anak belum ganti baju!" sentak Khasya.


Ketiganya langsung berjalan cepat ke arah anak-anak, dan menggiring mereka ke kamar untuk mengganti baju. Rion pulang dan memberi salam.


"Assalamualaikum, Ion pulang!'


"Wa'alaikum salam," balas semuanya sambil tersenyum.


Rion mencium punggung tangan semua orang dewasa. Lalu ia pamit naik ke kamarnya untuk berganti baju.Tiba-tiba.


"Mba Tiwi, sakit!' teriak Arimbi lalu menangis.


Rion yang tengah masuk kamarnya mendengar teriakan itu langsung membuka pintu. Dilihatnya Arimbi menangis dan semua adik-adiknya ketakutan karena dipelototi oleh baby sitter.


"Apa yang kalian lakukan pada adik-adikku!" pekik Rion marah.


bersambung.


yaah cari perkara deh