
Terra berlari kencang di sepanjang koridor rumah sakit. Semua orang langsung memberi jalan agar tidak bertabrakan dengan gadis itu. Terra terus mempercepat larinya hingga keluar rumah sakit bertingkat itu.
Sampai halaman. Gadis itu menoleh. Ia sangat lega pamannya tidak mengejar dan menariknya kembali ke dalam ruangan di mana kakeknya dirawat.
Entah mengapa, ia memutuskan untuk tidak melihat wajah kakek yang sangat ia rindukan. Kelebatan wajah ketiga adiknya yang menangis dan meraung memanggil namanya. Bahkan Terra dapat melihat bagaimana ketiganya menghilang begitu saja.
Gadis itu begitu cemas dan dilema sepanjang perjalanan menuju ruang perawatan sang kakek. Namun keputusan ia buat di saat-saat terakhir. Entah itu benar, atau tidak. Tapi, ia meyakini jika perbuatannya adalah benar.
"Aku harus pulang. Kasihan anak-anak, sepertinya mereka sangat ketakutan tadi," ujarnya bermonolog.
Gadis itu meraih ponsel dari tas selempangnya. Melakukan order taksi online menuju rumahnya. Butuh waktu lama, orderannya langsung ditanggapi. Lebih dari tiga puluh menit, gadis itu menunggu. Sepertinya, ia harus mengorder ulang. Karena orderan penuh.
Sementara di ruang rawat.
"Mana dia?" sebuah suara lemah dengan arogansi sangat besar.
Herman berbalik pada sosok yang berbaring lemah. Pria renta itu masih dibantu nafas oleh oksigen..Herman tertawa datar melihatnya.
"Dia lebih memilih ketiga adik yang kini menjadi anaknya dari pada melihatmu, pria tua," ujar Herman sarkas.
"Jangan kurang ajar kau Herman! Aku masih Ayah mu!" pria itu masih bisa membentak padahal dalam kondisi lemah.
Monitor langsung berbunyi. Detaknya makin tak beraturan. Para dokter lari berdatangan. Segera menangani pasien yang tiba-tiba anfal.
"Pak, saya harap anda tidak membuat pasien tertekan," peringat dokter serius.
Herman hanya mengangguk. Ketika para dokter telah pergi. Pria itu mendekati ranjang.
Netra sayu Hardi tampak terlihat kecewa padanya. Padahal sedikit lagi, cucunya akan melihat betapa menderitanya dia. Dan akan luluh dengan segala perintahnya kelak.
"Aku hanya ngucapin. Semoga Ayah lekas sembuh dan kembali lagi berkuasa penuh. Aku dengar Alea mulai memerintahkan para direksi untuk membuat perusahaan yang sama dengan Terra. Gadis bodoh itu membuat tender besar agar para investor yang kemarin gagal di proyek Terra akan datang melihat dan mendanai proyek yang ia bangun," j elas Herman pesimis.
"Entah dari mana ia dapatkan persetujuan untuk mengambil alih posisi tertinggi, sedang masih ada aku, sebagai pewaris sesungguhnya di sini," ujarnya lagi.
Netra Hardi nampak bergerak kesana-kemari. Tampak sekali jika ia mulai cemas. Alea secara sembarangan menggunakan tangannya untuk membuat persetujuan pemindahan kekuasaan.
"Kau bisa cekal dia ... hhh ... hhh!" suara tercekat terdengar.
Herman memilih menggeleng. Pria itu juga sudah mulai berani ambil keputusan. Selama ini ia sudah banyak berkorban dan menjadi kacung ayahnya.
"Selamat menikmati kehancuranmu sebentar lagi, Tuan besar Hardi Triatmodjo!" ucap Herman lalu pergi meninggalkan ayahnya.
"Herman tunggu. Berhenti ini perintah!" hanya suara lemah tak berdaya.
Nafas Hardi mulai tersengal. Pria itu kembali anfal. Bunyi monitor kembali berdering. Pada dokter kembali berlarian dan menangani Hardi.
Satu jam mereka berkutat untuk menyelamatkan nyawa pria tua itu. Entah beruntung atau memang pria itu masih berkeinginan untuk bertahan hidup. Monitor kembali normal, semua detak dan juga tekanan darah kembali berada pada posisinya. Para dokter bernafas lega.
Sedang, di rumah. Baik Darren dan kedua adiknya menunggu. Mereka seperti sedang menanti sebuah keputusan yang benar-benar akan menjadi akhir dari segalanya.
"Tata ... Mama pasti pulan tan?" Darren hanya mengendikkan bahu lemah tanda tidak tahu.
"Kita siap-siap ya, Dik. Jika Mama memindahkan kita ke panti asuhan," ujarnya lagi.
Lidya memeluk kakaknya erat. Sedang Rion hanya mematung wajah bayi montok itu tidak lepas dari pintu besar. Seperti menunggu seseorang datang. Seseorang yang melimpahkan mereka kasih sayang.
Sedang di jalan, Terra makin uring-uringan. Jalanan macet parah. Bahkan mobil yang ditumpanginya tidak bergerak sama sekali.
"Duh ... bisa lama kita di sini," ujar Terra kesal.
"Kita udah di tengah ini. Nggak bisa mundur ambil jalan alternatif. Terpaksa nunggu, sampai benar-benar terurai," jelas sopir lagi.
Terra hanya menghela napas. Ia masih melihat jam yang ada di layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 12.04. siang. Perutnya sudah mulai berbunyi. Tadi dia hanya sarapan sandwich.
Sedang di rumah. Ketiga anaknya masih menunggu dengan setia. Bahkan Lidya dan Rion juga masih bertahan seperti kakaknya yang tidak mau makan. Romlah membujuk mereka berulang-ulang. Tapi, ketiganya menolak.
Ani bahkan sengaja menggoreng ayam kesukaan Lidya. Bau harum makanan untuk memancing mereka. Sayang, sepertinya mereka benar-benar kuat. Tidak bergeming dari duduknya. Mata mereka masih mengawasi pintu.
Akhirnya, Romlah, Ani dan Gina juga ikut duduk. Mereka juga enggan menyantap makanan ya g sudah terhidang di meja. Deno juga sepertinya mengikuti ketiga rekan juga anak-anak majikannya untuk menunggu di ruangannya.
Waktu seakan begitu lambat bergulir. Mereka tetap duduk dalam penantian yang panjang. Lidya mulai menguap, perutnya juga sudah mulai perih, bahkan Rion juga mulai merengek.
"Den ... kasihan adik-adik. Makan dulu, yuk," lagi-lagi Romlah membujuk.
"Ya, sudah. Biar adik-adik saja yang makan, Bik. Darren masih kuat kok," ujarnya dengan suara tercekat.
Romlah mengajak Lidya dan Rion makan..Bahkan Gina sudah mengambil dan ingin menyuapi mereka. Tapi, keduanya tidak juga membuka mulut. Malah mereka menangis memanggil ibunya.
"Mama ... puyang, Ma ... Iya lapel ... hiks ...!"
"Iya, boleh maem, kok," ujar Darren.
Lidya menggeleng. Gadis itu setia menutup mulut. Rion bahkan melepehkan nasi yang sudah masuk sedikit ke mulutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.12.. Terra belum juga muncul. Darren mulai menangis. Ia meyakini jika ibunya tak akan kembali.
"Mama pergi ... hiks ... hiks ... Mama beneran pergi ... huuuuu ... uuuu!'
Tiba-tiba.
Cklek. Bunyi pintu terbuka. Darren tidak pasti akan pandangannya.
"Mama!" teriak Lidya.
"Mama pulang!' teriaknya lagi.
Darren masih tidak percaya.
"Mama!" kini Rion yang berteriak.
Darren mengerjapkan matanya yang buram. Sosok wajah yang sangat ia cintai muncul dengan derai air mata.
"Maafkan Mama sayang. Maaf Mama terlambat, tadi jalanan macet parah," ungkap Terra.
Darren tersenyum lemah. Romlah bercerita jika ketiga anak ini belum makan. Terra makin merasa bersalah. Gadis itu memeluk juga menciumi ketiga anaknya sambil meminta maaf.
Darren hanya tersenyum. Ia lega, mimpi buruknya tidak menjadi kenyataan. Mamanya kembali dan tidak akan meninggalkan dia juga adik-adiknya.
bersambung.
duh ... mewek lagi dah ah