
Waktu berganti hari, hari berganti bulan. Tak terasa hanya tinggal hitungan jam saja. Lidya kini berada di kamar sahabatnya. Menenangkan gadis itu.
"Selama nyaris satu bulan mengurusi data pernikahan, akhirnya selesai juga. Sebentar lagi Bang Jac akan menjadi suamimu," ujar Lidya begitu bahagia.
Putri ingin menangis. Tetapi, karena tatapan tajam MUA yang mendandaninya. Ia pun harus menahannya. Lidya sampai terkikik geli melihat sahabat tomboynya tak berkutik. Nania, sang ibu pun juga sangat bahagia bercampur aduk.
"Mama ...," Putri bersimpuh dihadapan ibunya.
"Ma ... maafkan Putri jika selama ini belum bisa berbakti secara penuh pada Mama ... hiks!"
"Ma, tolong ikhlaskan jika nanti bakti Putri akan berpindah seratus persen pada suami ... hiks ... hiks!"
"Sayang ... dengar Mama, Nak," sahut Nania dengan suara tercekat.
Lidya juga tak berhenti mengusap air mata dan ingusnya. Hidungnya sampai memerah dan matanya sedikit bengkak.
"Nak, Mama ikhlaskan kamu berpindah bakti pada suamimu. Hormati dia, berikan ia kenyamanan dan layani dia dengan segenap jiwamu. Karena setiap langkahmu adalah menjadi tanggung jawabnya," ujar Nania memberi nasehat.
Tok ... tok ... tok!
Pintu diketuk. Septian melongok.
"Mba, pengantin prianya sudah datang," ujar pemuda itu.
Putri gemetar. Nania menenangkan putrinya begitu juga Lidya. Ketiga wanita beda usia itu pun melangkah keluar. Jac memakai baju Koko warna putih, begitu tampan. Di sisinya Demian dan Dominic juga tak kalah tampan dengan setelan Koko hitam. Semua orang berbisik-bisik dari sebelum pernikahan.
"Ih itu suster bisa banget cari suami bule!" seru salah satu tetangga.
"Iya, pasti suster plus-plus," tuduh satunya lagi.
'Hah ... suster plus-plus?"
"Iya, emangnya ada tah wanita bener dapet bule, kalo nggak plus-plus. Biasa, memperbaiki keturunan. Palingan setahon nikah, dia cerai!"
Begitulah orang yang iri dan dengki melihat kebahagiaan orang lain. Menuduh sembarangan tanpa ada bukti.
Di sana Putri menatap ayahnya yang mulai berkaca-kaca. Kedua pengantin duduk di depan Dipto yang memandang keduanya. Ketika Jac datang bersama dengan Demian dan Dominic. Pria itu sempat rendah diri.
"Putri hanya gadis biasa, Tuan. Seorang perawat rumah sakit dari golongan menengah ke bawah. Apa kata kolega Tuan jika Putri menjadi istri dari Tuan Jacob Starlight?"
"Saya tak memandang status dan wajah. Saya sudah tertarik sejak mengenal Putri bahkan, dia selalu ada di jawaban shalat istikharah saya," jawab Jac penuh ketegasan waktu itu.
"Saya sebagai ayah, hanya mendukung apapun keputusan putra saya, Tuan Dipto," ujar Dominic dengan senyum lebar.
"Putri adalah gadis yang baik, sopan dan pintar. Masalah cantik, jelek atau apa pun itu. Saya tak perduli, yang penting putra saya nyaman dan cinta dengan Putri," lanjut Dominic.
Pria itu langsung melamar Putri saat itu juga. Dipto meminta anak perempuannya itu sendiri yang menjawab. Ia akan mendukung sepenuhnya.
"Saya menerima pinangan dari Bang Jac," jawab Putri tanpa keraguan.
Semua mengucap hamdalah. Dipto dan Dominic yang paling sibuk mengurus semuanya. Jika ayah Putri mengurus KUA setempat. Sedangkan Dominic mengurus di kedutaan besar negaranya. Proses dan antrian cukup lama, terlebih kantor urusan agama juga sedikit penuh. Ternyata, Tuhan memudahkan semuanya. Tanggal disetujui dan bisa menikah karena ada penghulu yang bisa menjadi petugas pencatat dan mensahkan pernikahan.
Hari pernikahan Putri menjadi kemarahan Virgou. Ketika mengurus pernikahan Darren, pria itu benar-benar tak mendapati tanggal yang kosong.
"Daddy, sudah lah. Kan Darren sama Aini juga sudah membatalkan ikatan mereka. Aini juga sudah mengembalikan cincin pertunangannya," ujar Puspita menenangkan suaminya.
Virgou akhirnya tenang. Hari pernikahan Putri dia hadir menjadi saksi dari pihak perempuan sedang dari pihak laki-laki Demian sendiri yang bersaksi.
"Apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya penghulu.
Semua diam, tak ada yang bersuara. Penghulu pun memberi pertanyaan pada Jacob.
"Can you speak bahasa?"
"Iya pak, saya bisa," jawab Jacob tenang.
"Alhamdulillah ... soalnya saya nggak bisa bahasa Inggris," seloroh pria itu.
Semua terkekeh mendengarnya.
"Jadi apa kalian siap?" tanya pria itu lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim, siap!" sahut Jac tegas.
"Silahkan jabat walinya!" titah penghulu.
Kedua tangan dingin saling berjabatan, sedikit gemetaran sampai penghulu memegangi tangan keduanya.
"Tenang ... tenang," ujarnya lagi.
"Silahkan, Pak wali," penghulu mempersilahkan Dipto.
"Ananda Jacob Ali Starlight. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri pertamaku bernama Putri Dinaniah Binti Dipto dengan mas kawin peralatan sholat dan uang sebesar lima belas juta lima ratus ribu lima ratus lima rupiah, dibayar, tunai!"
Satu tarikan napas, Jacob mengucap ijab kabul dengan tegas dan tanpa kesalahan.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah!" ucap Demian dan Virgou kompak.
Semua mengucap hamdalah. Penghulu mendoakan kedua pengantin. Banyak petuah yang ia sampaikan pada keduanya. Tentang kewajiban suami pada istri dan begitu juga sebaliknya.
Lidya menangis haru. Terra memeluk anak gadisnya. Safitri begitu terharu. Darren dan Aini juga merasakan betapa sakralnya ketika pengucapan ijab dan kabul tadi.
Sepasang pengantin kini duduk di pelaminan. Dua tangan mereka saling bertaut erat. Lidya menggodanya.
"Cie ... pengantin baru."
Putri merona. Jac malah menggoda Lidya dan Demian yang kini berdiri berdampingan, dengan mencium tangan istrinya.
"Sudah sah dong!"
"Sialan kamu Jac!' ketus Demian kesal.
Lidya menatap pria yang menjulang di sisinya. Virgou menatap itu. Haidar dan Herman tengah mengobrol dengan para kolega yang juga merupakan kolega Starlight.
"Ehem," dehemnya.
Lidya menatap Daddynya. Netra sendu gadis itu menandakan jika, Lidya memiliki rasa pada pria yang dipandangi tajam oleh Virgou. Saf terkikik geli.
"Hahaha ... putrimu akan jadi perawan tua jika Paman terlalu posesif seperti ini," ledeknya dengan berani.
"Apa katamu?" sergah Virgou menatap tajam Saf.
"Ata' Dallen ... polonin Babitli!" selorohnya pada pria yang ada di bawah pelaminan.
Entah apa yang ada dipikiran gadis itu memilih berlindung di belakang Darren. Virgou tertegun. Terra yang melihatnya juga demikian. Senyum terbit di bibir wanita itu. Samudera, Benua dan Sky datang menyambangi Lidya. Mereka menatap Demian.
"Halo bistel ... wat yu nem?" tanya Sky begitu percaya diri.
Semua teralihkan dengan bahasa planet bayi itu. Demian memilih turun dari pelaminan, diikuti Lidya dan ketiga anak itu.
Ketika di bawah, pria itu menyamakan tingginya pada tiga balita itu. Samudera baru mau enam tahun, Benua baru mau empat tahun sedang Sky baru mau umur tiga tahun.
"Namaku Demian," jawab pria itu.
"Oh, Bemian," sahut Sky sambil mengangguk.
Dominic gemas dengan tingkah bayi itu. Demian pun langsung memberi kecupan pada pipi bulat kemerahan Sky.
Budiman dan Gisel hanya menatap bayinya. Mereka duduk bersama Khasya dan Puspita, Dav dan Seruni.
"Putan Bemian ... pati Pemian!" sahut Benua membenarkan.
"Bukan, tapi Demian!" ralat Samudera.
"Ah ... pama sadha!" sahut Sky acuh.
"Ata' Pemian bacalna Ata' Iya?" tanya Sky ingin tahu.
Rion yang ada di sana langsung menegur kakaknya.
"Kakak pacaran?" tanyanya tak suka.
Demian berdiri, menatap remaja yang sama tinggi dengannya. Ketampanan Rion benar-benar membuat kaum hawa sesak napas, jangan Rion. Kehadiran pria-pria Pratama, Herman dan Dougher Young membuat kaum hawa sakit kepala karena mereka semua tampan.
"Apa aku tak pantas menjadi pendamping kakakmu?" tanya Demian begitu lembut.
Rion terdiam begitu juga Darren. Terlebih Virgou, Haidar dan Herman, begitu juga Budiman.
"Baiklah, bagaimana aku tantang Kak Demian untuk bertanding!" tantang Rion.
"Baby," tegur Lidya.
"Boleh!" sahut Demian enteng.
Rion menahan senyumnya. Remaja itu pun menatap datar Demian.
"Kalau begitu kita main gobak sodor!"
bersambung.
nah loh ... Demian ... tau nggak permainan itu?
next?