
Gabe datang ke mansion Herman ketika pagi menjelang. Ia tahu jika kakeknya datang. Pria tampan itu kini tengah menggendong Dewa.
"Hi Baby boy," sapanya.
Dewa tampak menggeliatkan tubuhnya, bayi mungil itu menguap lebar. Gabe gemas bukan main, ia menciumi Dewa hingga merengek lalu menangis kencang.
"Om Babe tenapa baby Pewa bi ditin nayis!" sentak Arimbi galak.
"Tidak apa-apa Baby, biar paru-parunya berkembang, bayi harus menangis ketika pagi datang," sahut Gabe, lalu dengan sigap membalik tubuh bayi itu dan membiarkan punggung kecil terpapar sinar matahari pagi. Dewa langsung tenang.
Khasya dan Herman membiarkan Gabe menjemur bayi-bayi mereka. Anak-anak semua sudah mandi dan wangi. Tinggal dua bayi yang belum mandi.
"Tot payina bi bemul taya paju pasah bawu bi suci?" tanya Nai cerewet.
"Baby, bayi memang harus seperti ini setiap pagi. Di Eropa matahari itu jarang muncul, jadi jika matahari datang para ibu akan menjemur bayi mereka," jelas Gabe.
Pria itu meletakkan Dewa ke dalam boxnya dan mengambil Dewi, melakukan hal sama yang ia lakukan pada Dewa.
"Pemanan peuldhi temana batahalina, tot suta eunda ada?" tanya Satrio ingin tahu.
"Di Eropa ada empat musim. Jadi matahari datang ketika musim semi dan musim gugur. Kami harus menunggu matahari pada waktu itu," jelas Gabe lagi.
Anak-anak pun mengangguk. Darren, Lidya dan Rion hanya menyimak penjelasan dari pria yang mestinya mereka panggil kakak itu.
"Anak-anak sarapan!" teriak Puspita.
Semua langsung berhamburan ke meja makan. Bart juga sudah duduk di kursinya. Nasi goreng seafood jadi menu sarapan mereka hari ini.
"Kau datang Gabe?" tanya Bart ketika melihat Gabe masuk sambil mendorong box berisi dua bayi.
"Ya, dia datang karena ada kau di sini. Jika tidak. Mana mau cucu tampan mu itu menyambangi tempat ini," sindir Herman.
Gabe memeluk Herman sebagai permintaan maaf.
"I'm sorry Ayah."
"Hmmm," Herman hanya berdehem saja.
Terra membawa bayi-bayi untuk dimandikan. Hari ini, Khasya tak melakukan apapun kecuali menyusui. Terra dan Puspita yang mengerjakan mengurus anak-anaknya.
Kini, semua sarapan. Virgou dan Haidar juga sudah duduk dan terkadang membantu Dimas memakan makanannya. Sedang, Maisya dan Affhan disuapi oleh Bart. Sedang yang lainnya bisa makan dengan rapi.
Sarapan usai. Para asisten rumah tangga membersihkan meja. Khasya masuk kamar untuk menyusui bayi kembarnya. Terra dan Puspita baru memakan sarapan mereka.
Para ayah tengah mengobrol santai dengan Bart. Sedangkan bocah-bocah yang kekenyangan duduk dipangkuan para pria.
Dimas, Lidya dan Sean yang dengan santai duduk bersandar dipangkuan Virgou. Maisya, dan Arimbi tengah berada di pangkuan Bart. Kean, Cal dan Al berada di pangkuan Gabe. Daud, Rion dan Satrio berada dipangkuan Haidar. Sedang Nai dan Affhan berada di pangkuan Herman dan Darren dengan tenang menyandar di bahunya. Semua menyimak obrolan para pria dewasa tentang bisnis.
"Papa, manti talo Cal pudah peusal boweh pidat jadi doptel?" sahut Cal di tengah pembicaraan orang tua.
"Boleh, sayang," jawab Haidar.
"Talo, Imbi mawu jadi bilot bewawat beumpul!" sahut Arimbi bangga.
Herman tersenyum mendengar cita-cita anaknya. Walau yakin nanti pasti akan berubah. Ia akan mengamini apa pun keinginan semua anaknya asal itu baik.
"Tlio mawu jadi basitlet!"
"Papan mawu jadi tutan masat!' seru Affhan.
"Satrio nggak jadi raksasa kayak Om Gomesh?" tanya Rion sambil menguap lebar, bocah laki-laki itu menyurukkan tubuhnya di pangkuan ayahnya.
"Eum, eundat pa'a-pa'a, padhi basitlet latsasa," ralat Satrio.
"Talo Ata'Ion mawu jadhi pa'a?" tanya Kean kini.
"Kakak mau jadi pengusaha, sama kayak Papa, Daddy, Om Gabe," jawab Rion.
"Kalo Tata Dallen?" tanya Kean lagi.
"Sama, seperti Papa," jawab Darren.
"Kakak Iya mau jadi Dokter."
"Wah sama taya Cal. Ah, Baud judha mawu jadhi botel!" ujar Daud.
"Nggak jadi guru ngaji?" tanya Darren.
"Eman botel eundat poleh baji dulu maji?" tanya Daud ingin tahu.
"Boleh sayang," sahut Virgou.
"Anak-anak kenapa nggak main?" tanya Puspita lalu duduk di sebelah suaminya.
"Betenyanan Mommy," jawab Maisya lucu.
Terra datang lalu mengajak anak-anak bermain. Anak-anak dengan malas mereka mengikuti Terra. Kini malah mereka yang berisik dalam permainan. Darren selaku yang paling dewasa di antara mereka akan mengalah dan menjadi penjaga.
"Ayah, Kean bawu balotean," pinta Kean dengan memelas.
"Apa itu balotean?" tanya Herman..
"Oke-oke, Yah," jawab Darren.
"Oh, Gabe pasangkan karaoke," titah Herman.
Gabe langsung memasang alat-alat karaoke. Para balita pun bernyanyi, tentu saja merusak lagu yang ada.
"Maisya bawu puluan!" Maisya langsung mengambil mik.
"Lagunya apa?" tanya Gabe.
"Bait betuntat punun!"
Lagu naik ke puncak gunung pun diputar. Maisya menggoyangkan pinggulnya. Rion selaku pengawas menatap para orang tua untuk tidak tertawa.
"Bait, bait betuntat bunun ... pindi, pindi betali ... bait, bait petutant bunun, bindi, pindi sepali.
Tili panan. Buwiwat paja panat bonon pemala aaa ... bili panan puwiwat paja, panat popon pelana ..."
Semua sudah kram perutnya. Mereka menahan tawa. Lagu selesai. Semua bertepuk tangan. Rion senang bukan main. Satu persatu anak bernyanyi. Puspita tak kuat, perutnya sudah sakit karena menahan tawanya.
"Mommy, ipu lehena tenapa bewah-bewah?" tanya Affhan dengan mik.
Terra terkikik geli. Ia tadi sudah menyembunyikan hasil karya suaminya di seluruh tubuh dengan foundation. Puspita langsung menyembunyikan buah cipta Virgou.
"Ipu tata Daddy pulu, syatit cinta," ingat Sean.
Virgou langsung terbahak. Ia ingat ketika Rion mengadu soal leher merah dan bibir bengkak Terra. Kini wanita itu malah manyun, ia sedikit malu tentang kejadian itu.
"Oh, itu alergi, Baby," sahut Rion yang ingat juga sama perkataan ibunya ketika terlihat tanda merah.
Hanya Darren yang sudah paham apa yang tengah dibicarakan. Bergaul dengan para mahasiswa sebelum waktunya, membuat remaja itu sangat tahu tentang hal dewasa.
"Hei, nyanyi lagi," pinta Bart mengalihkan pembicaraan.
Anak-anak kembali bernyanyi, semua senang. Bahkan Gabe juga menyumbangkan suara seraknya. Virgou tak mau ketinggalan satu lagu dangdut milik raja dangdut Rhoma irama. Begadang.
Semua balita bergoyang sesuai ajaran Virgou. Khasya, Terra dan Puspita hanya bisa menggeleng. Bahkan Haidar dan Gabe juga ikut bergoyang bersama anak-anak. Herman bertepuk tangan.
"Ayah, ayo goyang!" Rion menarik tangan Herman ikut bergoyang.
Akhirnya semua ikut menari bersama di selingi gelak tawa.
"Kalau banyak begadang muka pucat karena darah berkurang ... bila kena angin malam maka penyakit akan mudah datang ... dari lah itu sayangi badan, jangan begadang di tiap malam ... begadang jangan begadang ... kalau tiada artinya ... begadang boleh saja ... kalau ada perlunya ..."
bersambung.
oke jangan begadang ya Readers!
next?