
Waktu berlalu, persiapan pernikahan Gabriel dan Widya makin dekat, bahkan menghitung hari. Pria itu makin lama makin religius. Tiada hari ia lewati tanpa berdoa dan pergi ke gereja.
Widya juga seorang katolik. Gadis itu juga makin sering memegang rosario miliknya. Banyak doa-doa meminta kelancaran ia lontarkan dalam setiap ia berdoa pada Tuhannya.
Bart terus memberi nasihat pada cucu laki-lakinya itu.
"Nanti, ketika kau sudah menikah. Ingat lah satu hal, kau sudah hidup berdua dengan orang lain. Ia berbeda keinginan, berbeda pendapat juga berbeda pikiran. Kau tidak bisa lagi egois, kau tidak bisa lagi bersikap semau mu."
Gabe mengangguk tanda mengerti. Esok adalah hari pernikahannya. Ia memilih hari kamis untuk pemberkatan nikah dan resepsi ia selenggarakan hari minggu.
Frans juga tak berhenti memberi petuah pada putranya. Meita juga suka menelepon Gabe, ia juga meminta Gabe banyak belajar dari pernikahan kedua orang tuanya.
"Ini, dua adikmu," ujarnya memperkenalkan dua adiknya.
"Hai, boy, girl," sapanya.
Dua anak berusia empat dan lima tahun itu langsung menatapnya dengan sangat antusias.
"Hi Bro!" sapa Brandon dan Charlotte dengan senyum lebar.
"Mungkin suatu hari kami akan menyambangi mu," jelasnya memberi tahu.
"Kami akan menunggumu," sahut Gabe mengakhiri sambungan telepon.
Gabe menatap kakeknya yang tengah berbincang dengan Virgou. Kedua pria itu tengah mendiskusikan sesuatu untuk esok hari.
Para wanita mengurusi semua perihal kecil, memastikan baju pengantin telah siap, juga persiapan lainnya.
Gabe, sengaja menggelar pemberkatan nikahnya di hari kamis. Pria itu sangat tahu, seluruh keluarganya tak bisa mengikuti jalannya pernikahan di gereja, kecuali Bart, kakeknya. Semuanya akan hadir ketika resepsi pernikahan.
Sedih, pasti ia rasakan, karena ketika hari sakralnya justru tak satu pun keluarga mengikuti jalannya upacara pemberkatan. Tetapi, itu sudah menjadi pilihan keluarganya. Mereka juga tidak pernah mengusik atau mengganggu ketenangan ibadat pria itu.
Terra melihat wajah sedih kakak sepupunya itu. Ia sangat tahu pergolakan hati pria itu. Ia mendekati, dan memberi pelukan hangat pada Gabe.
"Kami tetap berdoa yang terbaik untukmu, Kak. Walau tak bisa mengikuti seremonial di gereja. Kami tetap mendoakan mu," jelasnya menenangkan.
"Terima kasih, Te. Terima kasih," ungkapnya.
Terra mengusap punggung kakaknya. Memberi kecupan hangat di kening Gabe. Lalu mengurai pelukannya.
Seperti biasa, para bocah yang selalu ingin tahu. Begitu penasaran dengan ekspresi wajah dari pamannya.
"Bommy, tenapa Om Babe mutanya seupelti olan mawu nayis?" tanya Kean pada Gisel.
Gisel hendak menjawab, Kean sudah mendatangi pria besar itu. Balita tampan bermata biru itu menatap Gabe dengan polos.
"Om Babe," panggilnya sangat lembut.
Melihat kemenakannya memanggilnya dengan cara sedemikian rupa membuatnya menangis. Kean langsung memberi pelukan, ia juga ikut menangis. Melihat salah satu saudaranya menangis. Para bocah menyambangi Kean.
"Om Babe ... hiks ... hiks!"
Lidya, Darren dan Rion juga mendatangi Gabe dan memberi pelukan pada pria itu. Arimbi mengusap air mata pria itu.
"Janan nayis Om ... hiks .. hiks!"
"Maaf sayang ... maaf," pintanya.
Terra juga mengusap matanya yang basah. Virgou dan Bart mendatangi Gabe. Virgou memeluknya. Pria itu kembali menangis.
"Tenang boy ... tenanglah," ujar Virgou menenangkan Gabe.
Bart ikut-ikutan menangis. Bukan karena perbedaan yang mereka sedihkan. Tetapi, tapakan langkah Gabe menuju jenjang paling tinggi dalam kehidupan, yakni pernikahan.
Waktu bergulir begitu cepat. Dahlan dan Gomesh menjadi pria penggiring pengantin untuk Gabe. Bart berada di sisi cucunya. Pernikahan Gabe disiarkan melalui chat live. Frans dan Leon mengenakan taxedo mewahnya, walau tak menghadiri secara langsung, tetapi mereka mengadakan pesta kecil di sana. Bahkan Meita dan Patricia berada di sana bersama keluarga mereka masing-masing.
Air mata Frans berderai ketika sang pengantin wanita berjalan ke altar dengan. Memakai gaun pengantin dengan rok melebar dan menyeret ke belakang dengan atasan ala kebaya. Kepala Widya ditutup oleh layer tipis warna putih dengan taburan mutiara.
Widya diantar langsung oleh Sriani. Wanita itu sendiri yang akan menyerahkan putrinya karena sang suami telah meninggal dunia.
"Aku menyerahkan putriku secara penuh pada mu. Cintai dia dan hormati dia. Namun ketika cinta mu usai. Kembalikan langsung padaku, jangan pernah menyakitinya!"
Keduanya menghadap pastur yang memberkati pernikahan mereka. Setelah memberikan banyak doa. Kini keduanya mengucap sumpah pernikahan yang diawali oleh Gabe, baru kemudian Widya.
Pastur mensahkan pernikahan mereka. Kini keduanya tengah menyematkan cincin bermata berlian. Gabe membuka layer penutup wajah istrinya dan mencium kening setelah pendeta yang memintanya.
"Kalian resmi menjadi suami istri. Silahkan cium istrinya."
Acara pun dilanjutkan di rumah Widya. Setelah pemberkatan, tak banyak yang hadir bahkan keluarga dari gadis itu hanya beberapa paman dan bibi yang acuh.engira menikahi pria bule biasa.
"Kukira ia menikahi bule kaya raya. Sriani membungkus putrinya sedemikian rupa hanya diserahkan pada tenaga kerja asing!" sindir bibi Widya sinis.
"Iya, katanya sih, hari minggu besok baru diadakan acara resepsi nya. Aku yakin tidak sebesar ini," terka salah satu paman gadis itu mencibir.
Keluarga Gabe tidak membawa anak-anak mereka. Virgou sangat kesal dengan gunjingan paman dan bibi Widya. Ia sangat penasaran apa lagi kata-kata orang dekat adik iparnya besok ketika menghadiri perhelatan resepsi pernikahan.
"Semoga kalian tidak mati tersedak!" gerutunya sangat pelan.
"Hei, jangan bicara sembarangan, ah. Nggak baik!" tegur Terra yang ternyata mendengar gerutuan Virgou.
"Habis aku kesal," tekan Virgou dengan ekspresi merah padam menahan kekesalan.
Terra hanya terkekeh. Budiman, Haidar, Herman dan Bart hanya menggeleng. Istri-istri mereka tidak ikut karena bayi-bayi yang masih menyusui. Bram dan Kanya akan hadir ketika resepsi.
"Jika anak-anak melihat wajah kakak seperti ini, Kau akan dikatai," sela Terra mengingatkan.
Virgou akhirnya terkekeh pelan. Pria itu ingat ketika Bram dikatai jeruk masam oleh Sean, cucunya. Pria itu menatap sepasang pengantin baru yang kini berwajah bahagia. Ia pun tersenyum.
"Tinggal David yang belum menikah," sahutnya.
Tiba-tiba.
"Aarrghh!' pekik Terra tertahan.
"Te!" Virgou langsung sigap.
Terra merasakan kontraksi pada perutnya. Padahal ia sangat yakin jika ia akan melahirkan awal bulan depan. Ia sedikit mengolah napas. Menghitung waktu datangnya kontraksi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Bart yang ikut khawatir.
"Sayang," panggil Haidar cemas.
"Kak?" Budiman juga cemas.
"Te, apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Herman juga mulai cemas.
"Tenang. Ini hanya kontraksi pal .... aarrghh!"
Lagi-lagi Terra merasakan kontraksi. Kini ia sadar jika ini bukan kontraksi palsu.
"Kita ke rumah sakit!" titah Virgou.
"Grandpa, ada apa?" tanya Gabe khawatir. Ia datang dengan wajah cemas begitu juga Widya.
"Maaf, Gabe. Kami akan membawa Terra ke rumah sakit. Sepertinya tanggal lahirnya akan maju," jelas Herman.
"Kau tetaplah di sini, biarkan aku dan Haidar mengantar Terra," pintanya pada Virgou dan Bart.
Kedua pria itu mengangguk. Tak mungkin juga mereka meninggalkan pengantin begitu saja. Gabe juga butuh keluarga nya di sana.
"Baiklah, segera hubungi jika sudah ada perkembangan!' ujar Bart setuju. Virgou juga mengangguk.
Haidar langsung menggendong istrinya, Budiman langsung ke mobil dan membuka pintu untuk Haidar dan Herman.
Melihat Terra digendong membuat seluruh tamu bertanya-tanya. Virgou langsung menjelaskan jika memang adiknya telah dalam bulan ingin melahirkan, walau tidak menyangka akan datang lebih cepat.
Bersambung.
waaah ...
next?