TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BABY SITTER YANG BERMASALAH



"Apa yang kalian lakukan pada Adik-adikku!' pekik Rion murka.


Haidar mendengar teriakan putranya. Pria itu langsung naik ke atas. Herman dan Virgou yang melihat suami dari Terra naik juga ikut-ikutan.


"Baby ada apa?" tanya Haidar.


Herman dan Virgou datang kemudian. Rion sudah masuk ke kamarnya. Lalu.


Plak! Plak! Plak!


"Berani nya kalian mencubit dan memelototi adik-adikku!" bentaknya.


Ketiga perempuan itu terkejut. Rion memanglah tubuhnya belum terlalu besar. Bocah berusia delapan tahun itu, masih terlihat kecil di mata orang dewasa. Tetapi tenaga Rion tak bisa dibilang kecil. Tamparan itu benar-benar membuat pipi ketiganya memerah.


Melihat Arimbi menangis sambil mengelus tangannya. Haidar, Virgou, Herman dan Budiman langsung terkejut. Virgou langsung masuk kamar dan mengamit tangan Arimbi yang lecet, kulitnya hingga terkelopek akibat cubitan itu.


"Baby ... baby ...," panggil Virgou ikut menangis melihat luka itu.


Pria itu langsung menggendong Arimbi yang menangis.


"Daddy ... huuuu .. uuu ... syatit Daddy ... hiks ... hiks!"


Haidar gemetar melihat luka ditangan Arimbi, seumur hidupnya ia tak pernah menyakiti putrinya. Herman langsung mengusir ketiga baby sitter tersebut. Budiman menenangkan anak-anak yang menangis karena takut.


Khasya, Terra dan Puspita naik ke atas mendengar ada tangisan dan bentakan. Melihat Herman hendak menampar ketiga perempuan muda yang sudah ketakutan dan pasrah. Langsung dihentikan oleh Puspita dengan memeluknya. Karena ia yang masuk terlebih dahulu.


"Ayah ... jangan Ayah!'


Terra melihat ketiga baby sitter yang menangis ketakutan. Lalu melihat anak-anak yang juga menangis dan ditenangkan oleh Budiman. Virgou yang menangis memeluk Arimbi dan Haidar yang gemetar ketika mengelus lengan gadis kecil itu.


Terra mendekatinya dan melihat bekas tanda cubitan yang begitu mengerikan menurutnya. Matanya langsung terbelalak. Rion juga menangis di sana.


"Baby," Khasya langsung memeluk Rion.


"Turun kalian bertiga dan tunggu di ruang tamu!" titah Terra.


"Budi!" Terra memanggil pengawalnya.


Budiman langsung berdiri dan melaksanakan perintah Terra. Menggiring ketiga perempuan itu dengan tatapan dingin. Setelah ketiga perempuan itu digiring oleh Budiman ke ruang tamu. Terra menghampiri Rion yang menangis memeluk adik-adiknya yang baru baju atasannya yang terbuka.


"Ganti baju dulu yuk," ajak Terra.


Herman yang sudah tenang. Akhirnya mengucap terima kasih pada Puspita yang telah menahannya berbuat kasar pada ketiga baby sitter tersebut. Wanita istri Virgou itu mengangguk sambil mengulas senyum.


Semua anak-anak diganti bajunya, oleh Terra, Khasya dan Puspita. Bayi mereka masih tertidur tenang di kamar itu. Tak terganggu dengan tangisan kakak mereka. Hanya sedikit menggeliat membuka mata lalu tertidur lagi.


"Baby, sakit ya sayang?" tanya Terra pada Arimbi.


Gadis kecil itu mengangguk. Ia masih dalam gendongan Virgou dan menolak diganti bajunya. Ia memeluk erat pria itu, hingga terlelap.


"Pa," panggil Terra pada suaminya yang masih kosong.


Haidar tersadar. Ia langsung melihat Arimbi yang terlelap dalam dekapan Virgou. Perlahan air mata menetes di pipinya. Terra langsung sedih melihat suaminya yang begitu menyayangi anak-anaknya. Ia pun memeluk pria yang sangat ia cintai itu.


"Arimbi tidak apa-apa. Itu hanya luka kecil," ujar Terra menenangkan suaminya.


Haidar mengangguk lalu pandangannya terhenti pada Rion yang kini, tengah dihapus air matanya oleh Herman.


"Sayang, aku begitu sakit melihat Arimbi dicubit sedemikian rupa. Bagaimana jika aku melihat Darren, Lidya dan Rion melewati setiap harinya disiksa oleh ibu kandung mereka sendiri," ujarnya lirih.


"Jangan ingat itu lagi, Mas," pinta Terra juga sedih.


Haidar menatap Virgou yang baru meletakkan Arimbi di ranjang dan mengantikan bajunya. Terlihat sekali wajah pria itu yang sangat terpukul. Haidar meyakini jika Virgou memikirkan hal yang sama dengannya.


Wajah Virgou yang tak terbaca, membuat Puspita sedikit takut. Terra langsung memeluk kakaknya.


"Kak, lihat Terra Kak. Lihat Terra!" Terra terus menyadarkan Virgou.


Lidya pulang melihat keanehan langsung keatas dan berlari. Ia seperti mengetahui ada hal yang tak beres terjadi.Terlebih melihat wajah-wajah sedih dan terluka di sana.


"Daddy, Mama!" panggilnya.


Virgou langsung tersadar mendengar suara Lidya. Pria itu langsung melepas pelukan Terra dan berhambur memeluk gadis kecil itu, lalu menangis.


Lidya memeluk pria besar itu. Terra mengajak semuanya turun kebawah dan membiarkan Virgou dan Lidya. Anak-anak sudah lapar. Khasya membangunkan Arimbi.


"Baby, makan dulu, sayang."


"Daddy ...!" panggil Arimbi.


"Iya Baby," sahut Virgou langsung menghapus air matanya.


"Gendong!" pinta Arimbi merentangkan tangannya.


Dengan sigap, pria beriris biru itu menggendong Arimbi. Lidya dan Khasya tersenyum.


"Bunda," panggil Lidya.


Khasya memberi ciuman lembut di kening putrinya itu.


"Ganti baju sudah itu makan ya," titahnya.


Lidya mengangguk. Sedang di bawah. Para baby sitter dipulangkan ke panti mereka. Herman sudah memecat ketiganya dengan bayaran yang setimpal.


"Saya akan mengadukan tindakan kasar kalian pada yayasan. Saya, tidak mentolerir apa pun!"


Ketiga perempuan muda itu tak bisa berkata apa-apa. Herman menyuruh pengawalnya mengantarkan ke mansionnya dan mengembalikan mereka ke yayasan di mana Herman mengambil mereka bekerja.


Nando dan Septian, para pengawal itu langsung mengerjakan tugasnya. Mengantar ketiganya. Anak-anak makan siang.


Arimbi sudah tidak menangis lagi. Lidya mengajak semua adiknya bermain. Setelah itu mereka tidur siang.


"Te!' Virgou memeluk Terra erat.


"Maafkan aku ... maafkan aku ... gara-gara aku ...."


"Sudah kak. Semua sudah berlalu, Te sudah lama memaafkan Kakak. Toh, kini Kakak sayang sama semuanya," ujar Terra memotong dan menenangkan pria tampan dengan sejuta pesona itu.


Herman juga merasa bersalah. Ia juga bagian dari masa sulit ketiga anak itu, Darren, Lidya dan Rion. Ia juga meminta maaf penuh dengan Terra dan mengucap terima kasih telah begitu menyayangi mereka.


"Assalamualaikum," Darren pulang memberi salam.


"Wa'alaikum salam, kok telat pulangnya?' tanya Haidar melihat jam di dinding.


Darren memciumi punggung tangan mereka semua. Lalu, tiba-tiba ia memeluk Terra dan sedikit merajuk.


"Mama."


"Hei kenapa sayang? Kenapa badanmu hangat?' tanya Terra ketika mengusap kening putranya.


"Tadi Darren seperti tersengat listrik di lengan. Padahal Darren nggak megang kabel apa pun. Trus, berasa sedih terus pas pulang ke rumah," jelasnya.


Betapa dekat naluri Darren dengan adik-adiknya. Terra pun menjelaskan kejadian barusan pada putranya itu.


"Sekarang Arimbi dan adik-adik mana?" tanya Darren panik.


"Baby sudah tidak apa-apa. Lidya sudah bersamanya. Kini semua bobo siang," jawab Terra menangkan Darren.


"Sekarang, kamu ganti baju lalu makan siang ya," titahnya.


"Iya, Ma," sahut Darren menurut.


Kini, semuanya sudah tidur siang. Para orang dewasa, kini duduk dan saling berdiam diri. Masing-masing pikirannya melayang entah kemana.


bersambung.