
Dari pagi semua orang sudah sibuk. Rumah Terra pun sudah lama dihias indah. Bunga-bunga hidup disusun menjadi sangat cantik. Tenda terpasang di depan rumah. Semua orang sudah banyak berkumpul. Mereka akan berangkat menuju duta besar Eropa. Sebuah gedung yang sama ketika Virgou menikah beberapa belas tahun lalu.
Semua sudah siap dan berangkat ke gedung tersebut. Lidya begitu cantik dengan gamis dan hijab warna putih dengan hiasan dan rangkaian melati menutupi kepalanya.
"Ata'Iya syantit banet," puji Domesh dengan mata berbinar.
Gomesh menangis melihat nona mudanya begitu cantik. Budiman juga tak berhenti menghapus air matanya. Sang penyejuk hatinya sudah ada yang menjaganya. Seorang pria terbaik, terkuat dan begitu tampan. Demian Harun Starlight.
"Kak, boleh nggak kalau Daddy yang jadi wali nikah Iya?" pinta gadis itu dengan suara tercekat.
Darren mengangguk. Ia sangat setuju jika Virgou menjadi wali adiknya itu.
"Kakak yang akan menjadi saksinya," ujar Darren lagi.
Semuanya sampai di gedung yang ditunjuk. Hiasan melati dan mawar menjuntai di setiap sudut ruangan. Sebuah meja dan kursi disusun di tengah aula.
Virgou ada di sana, ia akan menjadi wali dari Lidya pria itu berkaca-kaca menatap anak gadisnya. Terra duduk dengan suami dan Herman. Dua pria yang begitu berat melepas Lidya. Jangan lupa, nyaris semua pria tak rela melepas gadis istimewa itu.
Demian datang dan langsung duduk di tempat. Penghulu dan Virgou ada di depannya. Lidya ada di sebelah pria itu.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Penghulu memulai acaranya. Semua pada hening dan menyaksikan acara akad. Semuanya duduk dengan rapi dan tertib. Semua mengusap air matanya. Saf menghapus air mata Khasya, Puspita dan Kanya. Gisel bersama Seruni dan Widya mereka saling menguatkan satu dengan lainnya. Ayah ibu Budiman juga sibuk menenangkan putranya yang selalu menghapus air mata.
"Apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya penghulu.
Semua diam tak ada yang bersuara.
"Baik, silahkan jabat tangan walinya?" titah penghulu.
Demian menjabat erat tangan Virgou. Dua tangan yang dingin dan gemetaran.
"Silahkan, Tuan Black Dougher Young!"
"Bismillahirrahmanirrahim ... Ananda Demian Harun Starlight bin Dominic Hasan Starlight. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young binti Ben Hugrid Dougher Young dengan mas kawin dua puluh lima gram emas dan uang satu juta seratus dirgham dibayar, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young binti Ben Hugrid Dougher Young dengan mas kawin tersebut di atas tunai!"
Satu tarikan napas Demian ucapkan ijab kabul.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah!" nyaris semua tamu mengucap kata sah termasuk Darren dan Jac sebagai saksi.
"Alhamdulillah ...."
Penghulu mengucap hamdalah. Terra menangis haru begitu juga semuanya. Lidya menandatangani surat nikah dan beberapa berkas. Usai itu Demian membaca perjanjian nikah yang ada di belakang buku nikah. Usai membaca, Demian menyematkan cincin kawin di jari manis istrinya. Lidya mencium punggung tangan sang suami dengan taksim. Demian mengecup kening istrinya.
"Alhamdulillah ... sekarang kalian sudah sah menjadi suami dan isteri!" ujar penghulu memberi selamat.
Demian tersenyum bahagia. Ia menatap istrinya penuh kemesraan. Kini bagian sungkem.
Lidya bersimpuh dengan air mata berderai di lutut Terra dan Haidar, kakak sekaligus ibu dan ayahnya.
"Maa ... kini Lidya sudah sah menjadi seorang istri. Minta doa dan restunya ... Lidya minta maaf jika selama ini, Iya kurang berbakti pada Mama ... hiks ... hiks!"
"Pa ... terima kasih Papa ... terima kasih telah menjadikan Iya anak Papa. Terima kasih telah dengan bangga Iya adalah putri Papa. Sekarang, ijinkan Lidya berpindah bakti pada suami. Minta doa dan restunya, Pa .... huuu ... uuu!"
Terra dan Haidar menangis pilu. Keduanya menciumi anak gadisnya. Sehabis Lidya bersimpuh pada Terra dan Haidar kini berganti Demian.
"Ma ... Pa ... terima kasih telah mempercayakan Lidya pada saya. Saya berjanji akan membahagiakan putri Mama dan Papa semampu saya hingga napas saya berhenti," janji Demian pada Haidar dan Terra.
Haidar menepuk dan memeluk Demian. Ia rela putrinya diambil oleh sosok pria gagah dan berani juga sangat pintar terlebih sangat menyayangi Lidya.
"Mama titip putri Mama. Tolong bimbing dia, jadilah imam yang baik untuknya," pinta Terra dengan suara serak.
Kini di depan Virgou dan Herman juga Bram dan Bart. Lidya bersimpuh. Keempat pria itu menangis tersedu terutama Virgou.
"Demian ... jika suatu hari kau sudah mulai tak mencintai Lidya. Segera kau kembalikan dia padaku! Karena hanya aku yang akan mencintainya sampai hilang nyawaku!" tekan Herman dengan suara lantang.
"Aku akan mencintai Lidya sampai napasku berhenti dan mencintainya lagi ketika napasku kembali!" tekan Demian.
Kini giliran Lidya di depan kakaknya. Darren sudah memeluk adiknya keduanya menangis.
"Kakak ... terima kasih kakak ... terima kasih!" pekik Lidya berurai air mata.
Darren menciumi adik perempuannya itu. Rion juga sudah tak tahan, ia memeluk kakaknya.
"Baby ... jangan nakal ya, nurut sama Mama ... hiks ... hiks!"
"Kak Iya ... huuuu ... uuu ... ba bowu ... kakak ... ba bowu!"
Saf ikut menangis melihat itu. Ia tahu semua kisah yang dialami Lidya. Suaminya menceritakan semua. Bahkan gadis itu menyaksikan trauma yang masih Lidya alami beberapa hari lalu.
"Ibu," rengek Lidya pada Safitri.
Safitri langsung memeluk dan menciumi pipi gadis pengantin baru itu sedang Darren memeluk Demian.
"Jaga diri dan jadi lah istri yang baik. Tutup aib suamimu, karena sekarang dia lah pakaianmu," petuah Saf pada Lidya.
Gadis itu mengangguk. Kanya memeluk Lidya, cucu perempuannya. Ia begitu ingat bagaimana gadis kecil itulah yang membuatnya jatuh hati dan meminta Terra menjadi menantunya. Khasya memeluk dan mencium Lidya begitu juga Puspita, Gisel, Seruni dan Widya.
Budiman dan Gomesh menangis ketika memeluk gadis itu. Tubuh Lidya seperti tenggelam dalam pelukan dua pria besar itu.
"Nona ... hiks ... hiks ... kau sudah menjadi seorang istri. .. hiks!" sahut Gomesh.
"Nona ... saya akan selalu ada untuk Nona. Di mana pun kapan pun!" janji Budiman.
Kini dua pengantin duduk di pelaminan. Tangan keduanya saling menggenggam. Semua tamu kehormatan datang para dokter dan perawat rumah sakit juga hadir memeriahkan pesta. Darren diikutkan resepsi di sana. Tadi pria itu ikut sungkem di kaki Terra dan Haidar. Keduanya kembali menangis bahagia.
"Sayang, dua anak kita langsung menikah. Tinggal Rion dan lainnya menyusul. Aku sudah tak sabar, siapa jodohnya Rion dan anak-anak ya?" tanya Haidar antusias.
Terra mengangguk. Kini semua putra dan putrinya beranjak dewasa. Satu persatu akan membentuk keluarga baru.
"Nanti kita tinggal berdua saja, sayang," ujar Haidar.
"Balo pemamat syian pemuana ... atuh Domesh si danten!"
"Atuh Spy si pimut!"
"Atuh Penua si pampan!"
"Atuh Bomesh si pait bati pidat pombon!"
Semua menoleh ke atas panggung. Virgou tersenyum lebar. Kali ini ia dan Safitri juga akan mempersembahkan sebuah lagu dangdut berjudul "Surga dunia,"
"Palantah pindahna ... Punia tulasa syaat ini ...
syaat imi talena balam ini balam pahagia ... oh punia ... Selasa padai tan ti suldha ....!" Domesh bernyanyi di awal lagu.
"Alangkah indahnya dunia kurasa saat ini .. saat ini karena malam ini malam bahagia oh dunia serasa bagaikan di surga!" Virgou menyanyikan lagunya dengan benar.
"Ku dirayunya, ku dicumbunya ... aduhai sungguh mesranya ...." Saf menyanyikan reffrain.
"Tercapailah segala gelora di jiwa ini ... tercapailah segala gelora di jiwa ini ... angan-angan ku melayang layang tinggi bagaikan serasa di surga ... oh dunia ... bagaikan serasa di surga ...."
bersambung ....
serrr ... hobaa!
next?