
Dalam perjalanan pulang Virgou melamun. Hal ini membuat Puspita istrinya langsung kesal bukan main.
"Mas ... mas!" panggilnya dengan suara keras.
"Ah ... ya?" tanya Virgou gelagapan.
"Mikir apa sih?" tanya wanita itu kesal. "Mikirin cewek cantik tadi?"
Harun masih terlelap di kursi khususnya. Virgou menatap istrinya dengan pandangan sedikit tajam. Tanda ia tak suka dengan cara istrinya yang terlalu cemburu. Puspita mengerucutkan bibir, ia baru lah melahirkan empat bulan lalu, dan suaminya sedang memikirkan wanita lain.
"Ya, aku memikirkan gadis tadi. Aku merasa mengenalnya," sahut Virgou tanpa ekspresi.
Puspita memilih diam. Ia tak menanggapi suaminya. Ia jadi ngambek. Virgou hanya mendengkus, jika ia egois maka Puspita tak akan berhenti mendiamkannya.
"Sayang ... please jangan seperti ini, oteh. Ba bowu," ujarnya lembut setengah memohon.
Puspita bukanlah wanita keras kepala yang ingin semua perbuatannya dibenarkan. Ia pun jadi bersalah terlalu mencurigai suaminya.
"Maafkan, aku sayang. Dia cantik sekali, aku cemburu," akunya.
"Astaga, apa aku tak punya anak perempuan, sampai aku harus melirik wanita lain?" tanya Virgou kesal.
Cup! Puspita mencium cepat bibir suaminya. Virgou akhirnya melembut. Ia memang selalu luluh dengan sang istri.
"Jonnas Velarial!' tiba-tiba pria itu mengingat nama yang begitu mirip dengan wajah gadis itu.
"Astaga, dia adalah putri dari ketua mafia paling berkuasa dan berpengaruh, Jonnas Velarial!" sahut Virgou mengingat.
"Maksudmu?" tanya Puspita tak mengerti.
"Gomesh, apa kau ingat dengan klan legendaris SoulWepon?" tanya pria beriris biru itu.
Gomesh lama mengingat itu. Ia seperti mengenal. Hingga beberapa saat pria itu langsung terpekik kaget.
"Dan yang menjadi bidan tadi adalah Nona Serenity Aurelie Velareal?" sahut Gomesh bertanya.
Maria yang duduk dan memangku putrinya bernama Bariana Gomesh, tak mengerti kisah masa lalu suaminya begitu juga Puspita.
"Ah, dia mengganti nama putrinya menjadi Safitri Aurelie dan membuang Velareal. Dulu aku melihatnya tiga kali sebelum sektor D terbongkar. Gadis itu baru berusia delapan atau sembilan tahun, seusia Darren!" sahut Virgou mengingat.
"Kalau tak salah, ia juga yang membawa para polisi masuk sektor itu, selain salah satu hacker membongkar semua kegiatan di sana?" sahut Gomesh sambil fokus pada jalan raya.
Virgou mengangguk. terjadi pertumpahan darah besar-besaran waktu itu. DYoung klan milik Bart, sang kakek juga jatuh saat terbongkarnya sektor D. Banyak para mafia dan pengusaha bangkrut saat itu bahkan mempengaruhi krisis keuangan dunia, beberapa negara sampai mengadakan pemotongan uang.
"Tapi, Tuan Velareal juga jatuh miskin kan waktu itu?" tanya Gomesh sambil melirik tuannya di kaca spion tengah.
Virgou mengangguk. Jonnas menikah dengan wanita asli Indonesia. Wanita yang cantik dan lembut. Virgou tak begitu kenal, tetapi pria itu banyak belajar seluk beluk mafia dari Jonnas.
Sedang di rumah Terra, Budiman menyerahkan satu berkas di ruang kerjanya. Pria itu juga menyampaikan keadaan Gio, sebagai kepala pengawal lapis kedua. Pria itu menjadi pion penting dalam pasukan pengawalan.
"Ini, adalah data diri dari Nona Safitri Aurelie, Nona!"
"Bud, kenapa Gio memilih menghukum dirinya, apa kesalahan pria itu?" tanya Terra.
Wanita itu sangat tau apa yang terjadi pada Gio. Mendengar penuturan Aini tadi, jika Gio habis dipukuli secara sadis.
"Saya, kurang tahu, Nona. Dari hukuman yang ia terima, bertanda ada upaya pengkhianatan, walau saya sangat yakin jika Gio tak akan melakukan itu. Dia sudah bekerja di sini selama dua belas tahun dan tanpa cacat!" terang Budiman.
Terra hanya menghela napas panjang. Ia mengangguk.
"Lalu keadaannya bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Lukanya masih belum sembuh, tapi ia sudah tidak demam lagi, bahkan bayang-bayang infeksi sudah tidak ada lagi. Kekuatan Gio patut diacungi jempol," jelas Budiman.
"Alhamdulillah," sahut Terra lega.
"Lalu, bagaimana dengan Safitri?" tanya Terra.
"Apa kau yakin?" tanya Terra yang ditanggapi gelengan dari adik iparnya.
"Iris matanya sudah menjelaskan jika dia bukan asli orang Indonesia. Tapi, data-data yang saya terima adalah yang tadi saya sebutkan," jelas Budiman.
"Nona Safitri mirip dengan anda Nona. Tersembunyi," sahut pria itu lagi.
Terra mengangguk. Melihat kepiawaiannya dalam mengikuti event kemarin, menandakan jika otak gadis itu yang menyembunyikan identitasnya dengan rapi.
"Saya, rasa, Nona Safitri bukanlah orang sembarangan," duga Budiman.
"Te, setuju! Ya sudah, kerjaan beres, kau boleh kembali. Makasih ya," ujar Terra.
"Sama-sama Nona!"
Budiman meninggalkan Terra di ruang kerjanya. Wanita itu mengambil laptop peninggalan mendiang ayahnya. Ia begitu penasaran dengan sosok yang mencuri perhatiannya. Melihat anak-anak yang langsung menempel seperti cicak pada sosok gadis bongsor itu. Ia sangat mengigat jika semua jodoh Dougher Young bisa menjadi magnet bagi anak-anak.
"Seruni juga pemalu, bahkan lebih pemalu dibanding Aini. Tetapi, anak-anak langsung lengket padanya begitu bertemu," gumamnya. "Bahkan Ibu Sriani yang kaku mampu menjadi magnet bagi anak-anak yang langsung bermanja dengan beliau ketika pertama kali datang."
"Tetapi, Aini? Semua anak-anak hanya menatap dan tersenyum ramah, lalu abai," Terra membandingkan dua gadis cantik.
"Apa Saf itu jodoh Putraku?" tanyanya lagi.
"Tapi, Safitri mengabaikan putraku seharian kemarin, padahal semua gadis nyaris histeris," lanjutnya bermonolog.
"Ah ... sudah lah!"
Terra menghentikan dugaannya. Sedang Safitri yang tengah memeriksa pasiennya bersin berkali-kali.
"Bu, apa anda sakit?" tanya asistennya.
"Tidak," jawab Saf, lalu menggosok hidungnya yang gatal.
"Apa debu ya?" tanya Suster itu.
Saf hanya mengangguk. Ia meminta suster mencatat perkembangan janin, dan ukuran perut sang ibu.
Jam istirahat berbunyi. Aini keluar dengan dua adiknya. Gadis itu masih membawa sang adik untuk bekerja. tempatnya makin rawan. Kini, ia sedang mencari hunian baru.
"Dik Dokter!" panggil Saf.
Aini langsung tersenyum lebar. Ia jadi sedikit manja dengan gadis yang berprofesi sebagai bidan itu.
"Bu bidan!' sahut Ditya dan Radit.
Safitri mengangkat dua adik Aini. Tak ada ekspresi berat yang nampak dari wajah gadis itu.
"Biarkan mereka jalan, Bu bidan," ujar Aini tak enak.
"Ah, apa Mba mu iri karena tak ada yang menggendongnya?" Cibir gadis itu bertanya pada dua balita dalam gendongannya.
Ditya dan Radit mengangguk dengan senyum lebar. Lidya keluar bersama Putri. Kedua gadis itu juga manja dengan Saf.
"Bu bidan," panggil Lidya dengan senyum lebar.
Safitri memang penyayang. Gadis itu seperti ibu bagi semua rekan dan pasiennya. Ia tak segan menegur dan menasehati. Wawasan dan kedewasaan gadis itu patut diacungi jempol.
bersambung.
oh ... anak mafia toh.
Hay Readers ... maaf dari kemarin othor cuma satu up nya ... di karenakan mata othor bermasalah dan sedikit pusing juga. nanti pasti up lebih dari satu kok. Oteh ... makasih ... ba bowu ❤️
next?