
Satu bom molotov dilempar ke halaman kampus. Beruntung semua tim sudah siap. Mereka langsung memadamkan api. Pasukan kepolisian merangsek. Mobil yang ditumpangi orang-orang berpakaian hitam panik. Mereka kembali melempar bom molotov. Gomesh menangkap benda itu sebelum jatuh ke tanah lalu melemparnya lagi ke arah pelempar. Mobil yang tengah melaju dan berisi orang langsung melompat keluar ketika benda yang mereka lempar berbalik ke arah mereka.
Dalam mobil bak terbuka itu ternyata berisi bahan bakar dan kain yang dibuat untuk membuat bom molotov. Maka tak ayal mobil itu langsung terbakar. Pengemudinya panik, melompat keluar dan jatuh bergulingan di aspal. Mobil yang terbakar melaju kencang hingga menabrak pohon di pinggir jalan.
Tim kebakaran langsung bertindak. Beruntung nyala api bisa dipadamkan hingga tak menimbulkan ledakan..
"Tangkap semuanya!" titah komandan polisi.
Para penjahat terluka parah karena melompat dari mobil yang melaju kencang. Beruntung tidak ada korban jiwa.
"Semuanya ada empat belas orang. Kondisi mereka luka robek juga memar karena jatuh menyelamatkan diri," lapor salah satu perwira polisi.
"Baik. Bagaimana kepala genknya. Apa sudah ditangkap?" Perwira polisi itu mengangguk.
"Markas mereka ada di bawah fly over xx. Bapak tidak akan percaya jika ketua mereka adalah anak berusia empat belas tahun," lapor perwira itu.
Geng Kobra pun sudah dibekuk. Haidar bernapas lega. Mereka semua yang tertangkap adalah residivis kambuhan.
"Saya jamin, Genk ini tidak akan ada lagi," janji komandan polisi.
"Terima kasih. Saya ingin keamanan tetap terjaga dan selalu kondusif. Untuk hukum dan selanjutnya, pengacara universitas ini akan mengaturnya," sahut Haidar yang kini sudah menjabat sebagai rektor.
Sedangkan di rumah. Rion tengah bercakap dengan keempat adiknya. Naisyah Hovert Putri Pratama di panggil Baby Nai, Muhammad Narsean Hovert Putra Pratama, dipanggil Baby Sean, Ali Narendra Hovert Putra Pratama dipanggil Baby Al dan Daud Naraka Hovert Putra Pratama dipanggil Baby Daud. Bayi-bayi empat bulan ini sangat antusias mengobrol dengan Rion, kakak mereka.
"Baby, manti palo budah Peusal ... banan matal pama Mama ya," nasihatnya bijak.
"Palo Baby memua matal manti Ata' Ion batal mawah pama memuana. Menelti!" ancam Rion.
"Ba, ba, ba," semua sepertinya mengerti apa ucapan kakak mereka.
Rion mengangguk puas. Ia pun turun dari box tempat di mana adik-adiknya di letakkan. Balita itu sudah bisa baik turun box dengan tinggi sampai 50cm dari lantai itu.
Balita itu mencari keberadaan ibunya. Terra tengah menyiapkan makan siang. Ia tidak ke kantor. Tidak ada acara begitu penting. Semua ditangani oleh Rommy juga Aden.
Drrtt ... drrtt ... drrtt.
Ponselnya berdering. Terra melihat sebuah notifikasi pesan masuk dari Aden.
(Nona, besok adalah perekrutan calon sekretaris juga asisten pribadi. Apa anda ingin juga ingin mewawancarai mereka?)
Terra langsung membalas.
(Iya, Kak. Tolong siapkan semua ya.)
Aden mengetik ....
(Baik, Nona. Saya sudah mengirim datanya via email.)
Terra mengetik membalas pesan Aden.
(Baik. Kak, makasih ya.)
Aden mengetik ....
(Sama-sama.).
Berbalas pesan selesai. Makanan juga sudah dihidangkan. Rion datang lalu naik ke kursinya. Lidya masih asik dengan mainan bonekanya.
"Lidya. Ayo sini cuci tangan, kita makan, sayang," ajak Terra.
Romlah mengantar makanan untuk tim pengawal.
Lidya duduk di sisi pria itu. Mereka berdoa sebelum makan. Terra menyiapkan makanan untuk semuanya. Haidar tidak pulang mengurusi masalah yang premanisme di kampusnya. Sedang Budiman sedang melakukan pengawalan terhadap Gisel.
Belum usai makan, Terra mendengar salah satu anaknya menangis. Ia segera mencuci tangannya. Lalu masuk ke kamar dan menyusui. Usai menyusui ia pun kembali makan.
Belum habis makan. Kembali salah satu bayi Terra menangis. Sekali lagi ia mencuci tangan.
Ternyata Baby Al pup. Dengan telaten Terra membersihkan kotoran putranya itu. Lalu memeriksa semua popok anak-anaknya. Setelah yakin aman, ia pun kembali keluar. Darren baru pulang sekolah. Tampak raut lelah. Pria kecil itu mengucap salam.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Ganti baju trus makan, ya," titah Terra sembari menjawab salam, juga memberi kecupan untuk Darren.
"Iya, Ma," sahut Darren menurut.
"Loh kok mendadak sayang? Kan, Mama nggak tahu jadwal Papa," sahut Terra menyesal.
"Iya, sih. Salah Darren juga nggak bilang dari awal. Darren takut menyusahkan, Ma," cicitnya lirih.
"Kenapa, bilang begitu sayang! Kamu anak Mama sama Papa. Tidak ada yang merasa susah oleh kalian. Jadi berhenti berfikiran seperti itu, ya!"
Terra selalu sedih jika Darren masih memisahkan diri. Padahal Haidar tak pernah membedakan kasih sayang semuanya. Walau kini sudah ada empat anak lahir dari rahimnya sendiri. Terra selalu berusaha menjadi ibu bagi semua anak-anaknya.
"Nanti, Mama coba tanya Papa ya, bisa atau tidak. Jika tidak bisa, boleh diganti sama Mama nggak?" Darren tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak Ma. Maafin Darren ya, Ma," sahut Darren.
"Sudah-sudah, ayo makan," ucap Terra menyuruh putranya makan.
Rion dan Lidya sudah selesai makan. Terdengar deru dua mobil berhenti. Haidar turun dari mobil. Kemudian Gomesh, Budiman juga Gisel ikut turun dari mobil yang lain.
Semua masuk setelah mengucap salam. Terra menyalim suaminya berikut anak-anaknya. Gisel mencium tangan Terra. Tradisi salim dengan yang lebih tua pun menjadi ritual keluarga Terra.
Haidar masuk kamar untuk berganti baju. Anak-anak sudah selesai makan. Romlah, Ani dan Gina membereskan piring kotor dan mengganti piring bersih.
Gomesh, Budiman dan Gisel menunggu Haidar di meja makan. Pria yang ditunggu muncul. Usai berdoa. Terra menyajikan makanan untuk suaminya. Lalu menyajikan untuk Budiman juga Gomesh sedang Gisel memilih menyajikan sendiri makanannya.
"Gimana, Mas?' tanya Terra sambil duduk di kursi sebelah suaminya.
"Alhamdulillah, semuanya tertangkap. Kepolisian sedang mengurus mereka. Pasal berlapis menanti. Sayang, ketua penjahat masih di bawah umur," jelas Haidar menjawab pertanyaan istrinya.
Terra hanya bisa mendengkus pasrah. Ia kemudian kembali berdiri menyiapkan susu untuk Rion dan Lidya. Kini Rion tidak pakai dot lagi.
"Sayang, ini susunya. Habis ini langsung tidur ya," titah Terra.
"Iya, Mama cewewet," sahut Rion.
"Hei ... Baby ngeledek Mama ya ... hmmmm!"
Terra langsung menyerang Rion dengan ciuman gemas. Balita itu tergelak. Lidya pun tak mau kalah.
"Mama celewet, tapi cantik," ujarnya.
Terra juga mencium gemas putri kecilnya. Lidya pun tergelak. Susu habis. Keduanya pun naik tidur. Mereka masih tidur bersama kedua orang tuanya.
Usai makan. Darren mendatangi Haidar.
"Pa, besok bisa nggak hadir diacara ayah dan anak," ujarnya hati-hati.
"Besok ya?" tanya Haidar sedikit berpikir.
"Kalau Papa banyak urusan, nggak ikut juga nggak apa-apa kok, Pa," sahut Darren cepat.
"Assalamualaikum!" tiba-tiba Virgou datang sendiri.
"Te, aku minta makan. Lapar!' ujarnya lalu duduk menyingkirkan Budiman dari kursi makan.
"Minggir kau!" Budiman menyingkir. Pria itu pun ke teras bersama Gomesh.
Terra mengambil makanan untuk Virgou.
"Memang ada acara apa di tempatmu, Dar?" tanya Virgou.
"Acara ayah dan anak, Daddy," jawab Darren lemah.
"Kalau Papamu, nggak bisa. Daddy yang akan mendampingi mu," sahut Virgou enteng.
"Kau pikir aku nggak punya waktu buat putraku apa!' saut Haidar sengit.
"Lah, kau tadi jawab permintaan anakmu aja pake mikir lama," sahut Virgou tak mau kalah.
Terra mulai memutar matanya malas. Kedua pria ini akan selalu begitu jika bertemu. Ada saja perdebatan tak berarti di antara keduanya. Gisel hanya tersenyum melihatnya, sedang Darren pun akhirnya bisa bernapas lega. Papa juga Daddynya akan mengantarnya besok.
bersambung.
Ah ... indahnya ...
Next?