
Saf duduk termenung sendirian. Satu jam lalu, rumah ini penuh dengan manusia. Saling, bercanda, saling meledek bahkan ada pertengkaran. Semua keributan didominasi oleh empat perusuh tampan yang menggemaskan. Siapa lagi kalau bukan Bomesh, Domesh, Sky dan Benua. Ada saja celetukan yang membuat semua orang tua terdiam. Bahkan keingintahuannya yang begitu tinggi.
"Ata'Babitli ... pemanna pulu talo deudhe padi pa'a?" tanya Bomesh yang asik meletakkan kepalanya di pangkuan Saf.
Saf yang gemas, mentoel-toel pipi bulat bayi gembul itu.
"Dulu kakak mau jadi Batman ... terus berubah jadi guru ... eh malah jadi bidan," jawab gadis itu.
Darren menatap gadisnya lekat. Terra sampai harus mengusap wajah putranya itu.
"Jangan seperti itu. Tidak boleh," tegurnya.
Darren mengerucutkan bibirnya. Haidar hanya menggeleng saja melihat kelakuan putranya yang sudah bucin itu.
"Pidan ipu pa'a sih teljana?" tanya Sky ingin tahu.
"Bidan itu kerjanya menolong orang yang hendak melahirkan," jawab Saf.
Kini rumahnya sepi dan sudah rapi. Semua membantunya beberes. Gadis itu sudah merindukan semuanya.
"Ih ... kok jadi kangen," keluhnya.
Seraut wajah tampan melintas dipikirannya. Gadis itu tersenyum simpul. Meraba detak di dadanya yang tiba-tiba bergemuruh. Lalu ia menyentuh pipinya. Tadi, entah sengaja atau tidak. Pria itu mencium pipinya.
"Ih ... dia mencuri ciuman di pipi," protesnya pada diri sendiri.
Sedang di tempat lain. Darren tersenyum-senyum sendiri ketika teringat secara tak sengaja ia mengecup pipi mulus gadis itu. Pria itu bergulingan di tempat tidur. Rasya dan Rasyid melihatnya.
"Ih, Kakak kenapa?" tanya keduanya lalu naik ke tempat tidur dan ikut bergulingan di sana.
"Kepo," sahut Darren.
Ketiga pria itu berbaring dengan kedua tangan menopang kepala.
"Kak Saf, cantik ya?" ujar Rasyid berpendapat.
"Iya. Ah, andai Rasya lebih tua. Mau jadi pacarnya," celetuk Rasya.
"Hei ... nggak boleh. Kak Saf itu milik Kak Darren!" sahut Darren tak suka.
"Ih, Kak Kean juga bilang kalau dia mau merebut Kak Saf dari Kak Darren!" sahut Rasyid menggoda kakaknya.
"Kalian masih kecil, jangan pacar-pacaran dulu," tegur Darren.
"Tapi, teman-teman Kak Kean udah punya pacar semua, malah ada yang udah punya istri," sahut Rasya.
"Itu karena umur mereka jauh lebih tua dari Kean, Rasya," jawab Darren.
"Lagi ngapain?" Rion datang.
Remaja itu merebahkan diri di sisi Rasyid. Lalu berbuat sama dengan saudara laki-lakinya.
"Lagi ngomongin Kak Saf!" jawab Rasya. Ia memeluk kakak panutannya itu.
"Oh, Kak Saf cantik," sahut Rion menanggapi.
Sedang di rumah Safitri bersin-bersin dari tadi.
"Ah ... masa iya, aku flu?" keluhnya sambil menggosok hidung.
Sedang di tempat lain. Sosok wanita cantik, tampak bersimbah peluh. Ia baru saja bercinta dengan salah satu kolega bisnisnya. Seorang pria tua, yang akan melakukan satu proyek besar.
Kasurnya tampak berantakan, pria itu kini berada di dalam kamar mandi.
"Tania, kau tak membersihkan dirimu bersama?" tanya pria itu genit.
"Ok, Tuan Harmono. Aku datang," sahut wanita itu manja.
Sebelum ia turun. Ponselnya berbunyi. Wanita itu pun mengangkatnya.
"Halo!" ujarnya.
"Nona. Saya sudah mendapatkan siapa gadis yang anda cari. Namanya Safitri, ia seorang bidan di rumah sakit Pratama Hospital," ujar seseorang di seberang telepon.
"Oke, aku akan mengirimkan sisa pembayarannya!" ujar Tania sinis.
Ponsel pun terputus. Gadis itu menyeringai penuh kelicikan.
"Hanya seorang bidan ternyata," gumamnya sombong.
"Tania!" teriak pria itu dari kamar mandi.
"Iya ... tunggu. Kau tau, tubuhku remuk semua setelah kau gempur berkali-kali!" teriak gadis itu.
************
Hari berganti. Kini, Saf tengah bergegas untuk pulang setelah dinas malam. Ia sedikit mengantuk.
"Sepertinya, tidur di ruang praktek dulu ah, sebentar. Dari pada maksain pulang," gumam gadis itu.
Saf berjalan gontai menuju ruang prakteknya. Setelah mengunci pintu. Gadis itu langsung merebahkan diri di atas brankar dan tertidur.
Tak lama, Putri datang ia membereskan ruang praktek dokternya. Wanita itu, datang lebih awal dan mempersiapkan semua jadwal Lidya.
"Sayang," panggil Jac.
"Loh, Bang. Ada apa?" tanya wanita itu. "Apa ada yang ketinggalan?"
"Iya, ada," jawab Jac.
Pria itu pun masuk lalu mencium bibir istrinya. Putri membalas ciuman suaminya.
"Aku mencintaimu," ujar Jac dengan napas menderu.
"Aku juga mencintaimu," sahut Putri.
"Aku berangkat sayang," pamit Jac lalu kembali mengecup bibir istrinya.
"Hati-hati, sayang," sahut Putri.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Putri hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya. Pria itu makin ada saja tingkahnya membuat dirinya melambung. Putri benar-benar merasa dicintai dan dibutuhkan. Jac begitu manja dengannya. Tak lama Lidya datang. Gadis itu menanyakan jadwalnya.
Saf, terbangun setelah satu jam tertidur. Gadis itu sedikit segar, walau kini tubuhnya terasa mau patah. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Tiga jam lagi prakteknya buka. Ia tidak akan pulang dan memilih langsung bekerja.
Waktu makan siang datang. Demian dan Jac datang ke ruangan Lidya. Dua pria itu memang selalu makan siang di sana.
"Sayang, bagaimana persiapan pernikahan kita?" tanya Demian.
"Kan yang urus, Daddy semua, Mas," jawab Lidya.
"Kata Daddy sih udah rampung. Tinggal pilih undangan dan fitting baju pengantin."
"Lusa, kita fitting ya. Sekalian foto prewedding," ajak Demian.
Lidya mengangguk dengan senyum dan rona di pipi. Jac menatap dua insan itu. Ia senang, perjalanan cinta tuannya mulus selama ini.
"Sayang, kau mau bulan madu di mana?" tanya pria itu. "Ke Maldives mau?"
"Ke Bali saja, Mas. Iya nggak suka jauh-jauh," jawab gadis itu.
"Hmmm ... Maldives pemandangannya indah, sayang," ujar Demian. "Sekalian kita jalan-jalan ke Eropa."
"Terserah Mas aja. Kan aku ikut Mas, sebagai istri," sahut Lidya malu-malu.
Demian tersenyum. Pria itu bahagia sekali. Sebentar lagi, gadis pujaannya sejak ia remaja dulu akan jadi miliknya. Ia sudah tak sabar memeluk dan mencium Lidya d
setiap saat.
"Ya, sudah. Lusa kita fitting dan foto sekaligus. Aku akan cuti satu harian penuh. Maaf, Putri pada hari itu suamimu aku buat sibuk. Kau tak masalahkan?" Putri mengangguk.
Hari berganti. Kini waktunya pulang. Aini dijemput suami dan dua adiknya. Gio masih dalam keadaan cuti, jadi dia tidak masuk kerja hari ini.
"Ibu," panggil Lidya.
"Dek Dokter," sahut Safitri.
Mereka pun keluar rumah sakit. Saf merasa dirinya ada yang memperhatikan. Gadis itu berhenti dan melihat situasi. Gio yang tau gelagat ikut berhenti.
"Bu?" tanyanya.
Saf menatap satu titik di dekat taman. Ia hanya tersenyum miring.
"Tenang, Gio. Pulanglah kalian," ujar gadis itu.
"Aku akan bermain-main sebentar," lanjutnya.
bersambung.
hahaha ...
next?