
"Cepat bantu mereka!'
Sebuah teriakan mengagetkan semuanya. Tara makin ganas. Ia menghajar para preman. Gisel pun ikut-ikutan. Sepuluh preman dibekuk tanpa perlawanan yang berarti.
Tara menghela napas panjang. Sedikit terengah-engah. Begitu juga Gisel. Keduanya saling tatap. Lalu mereka pun tertawa.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Budiman.
"Nggak, Bang. Kami nggak apa-apa," jawab Gisel sambil menyeka keringatnya..
Budiman sedikit kesal, pada Gisel. Walau sepenuhnya bukan salah gadis itu. Budiman juga lupa jika harus menjaga adik dari kliennya itu. Pria itu ingat ketika Terra malah heran, Budiman tidak jadi menjaga Gisel, adiknya.
"Maaf, Nona. Saya lupa jika bertugas menjaga, Nona hari ini," ujar Budiman menunduk hormat. Ia mengakui kesalahannya.
"Nggak apa-apa, Bang. Aku juga lupa kok," sahut Gisel dengan muka merona.
Tara melihat gelagat sahabatnya itu. Lalu tersenyum meledek.
"Ciee ... Abang nih?" tanya Tara menggoda Gisel.
"Eit ... ini punya Gue. Awas Lo goda-godain!' ancam Gisel.
Blush!
Baik Gisel dan Budiman merona. Tara tergelak melihat keduanya bisa malu-malu begitu. Gadis itu pun makin menggoda dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Ahai ... Bang. Tolong dikondisikan kekasihnya ya, Bang. Dia kalo ngamuk kek monster," adunya.
"Lah, emang Lo tadi nggak kek monster apa?' tanya Gisel mengingatkan sahabatnya itu.
"Hahaha ... sorry, kalo lagi berantem kek tadi, kadang gue lupa jenis kel@min gue. Cewe apa cowo," kelakar Tara.
"Aje gile. Masa Gue temenan ama jadi-jadian?' ledek Gisel lagi.
Budiman hanya bisa menggeleng kepala. Ia salut dengan Tara, sahabat dari Gisel ini. Pria itu merasa jika Tara bukan gadis sembarangan.
"Kita pulang, Nona," ajak Budiman kemudian, mengakhiri perdebatan kedua sahabat itu.
"Bang, nggak ngajak Aye Bang?' goda Tara lagi.
"Ih, mau jadi pelakor Lo!' sindir Gisel sengit.
"Iiiyy ... amit-amit deh!' saut Tara geli sekaligus jijik.
Akhirnya Gisel pulang bersama Budiman. Sedang Tara pulang dengan motor bututnya. Sepanjang perjalanan, baik Budiman maupun Gisel hanya diam.
Mereka pun sampai rumah Terra dalam jarak tempuh satu jam. Mereka sampai nyaris adzan maghrib.
Virgou dan Puspita ada di sana. Pria itu sangat panik luar biasa ketika baru mengetahui jika Gisel diserang oleh sepuluh preman.
"Bagaimana keadaanmu?' tanya Virgou khawatir, Puspita juga sangat khawatir.
"Aku nggak apa-apa, untuk Bang Budi datang cepat," jawab Gisel.
Adzan maghrib berkumandang. Mereka pun menghentikan semua aktivitas. Shalat maghrib berjamaah. Saat ini Deno yang menjadi imam mereka. Gisel belum shalat, ia masih dalam siklusnya.
Usai makan malam dan menidurkan anak-anak. Baru lah Gisel menceritakan semuanya.
"Genk Kobra?" tanya Virgou mengerutkan dahinya.
"Iya, Kak. Aku nggak tahu. Kata temen-temen sih, kalau mereka nggak pandang bulu dan termasuk kejam gitu. Aku sih takutnya kampus bakalan dibakar beneran sama mereka," ujar Gisel panjang lebar.
"Aku akan membuat penjagaan satu kali dua puluh empat jam. Kita nggak bisa anggap remeh ancaman cecurut itu. Buktinya mereka dengan mudahnya menyerang wanita," sahut Haidar serius.
"Iya, lakukan lah. Aku akan menyuruh anak buahku mencari keberadaan geng ulet kadut itu," ucap Virgou kesal setengah mati.
"Oh ya, siapa nama sahabatmu tadi?" tanya Terra sedikit penasaran.
"Taranika Arumi Sudrajat," jawab Gisel.
"Kenapa, Kak?' tanyanya kemudian.
"Hmmm ... Sahabat mu itu bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pelatih bela diri Aikido yang bersertifikat. Salah satu master Aikido terbaik. Kalau memang ayahnya bernama Bambang Sudrajat," jawab Terra.
"Emang itu nama Bapaknya. Orangnya tinggi ganteng. Ada kumisnya. Usia sekitar mau empat puluhan," saut Gisel menjelaskan ciri-ciri ayah sahabatnya itu.
"Ya, sudah. Yang penting kalian berdua tidak apa-apa. Besok aku suruh Gomesh menemani Budiman untuk menjagamu," ujar Virgou kemudian.
Gisel hanya mengangguk saja. Lalu ia melirik Budiman yang juga meliriknya. Virgou memutar mata malas.
"Besok-besok kalau kau lupa lagi. Aku coret kau dari daftar calon adik ipar ku!" ancam Virgou kesal.
"Ah ... jangan begitu Tuan. Saya kan manusia biasa ...."
"Terus ... lanjut aja terus. Aku coret beneran nih!" Budiman langsung diam.
Gisel hanya tertawa tertahan.
"Kamu juga jangan sok jago!' sela Virgou mulai mengocehinya adiknya.
Gisel hanya diam dan menikmati ocehan Virgou. Dulu, gadis itu hanya mendengar selentingan jika kakak paling tua ini sangat cuek dan tak peduli sama sekali.
Namun sekarang. Virgou berubah seperti ibu yang sangat cerewet. Bahkan kecerewetannya mengalahkan dua ibu yang kini hanya mengangguk membenarkan petuah Virgou untuknya.
Benar saja. Dua pria suruhan Terra dan Virgou sudah duduk di teras rumah yang ditempati Gabe dan Gisel. Lusa Bart akan datang ke sini. Ia sangat khawatir akan keselamatan cucunya itu.
"Pagi, Nona, Tuan," sapa Gomesh ketika Gabe dan Gisel keluar rumah.
"Pagi Gom,Bud. Apa kalian sudah sarapan?' tanya Gabe.
"Sudah Tuan," jawab keduanya serempak.
"Baiklah jaga, adikku ini ya," ujar Gabe.
Gabe menaiki mobil dinas yang menjemputnya. Kewarganegaraan yang berbeda membuatnya kesulitan mendapatkan ijin mengemudi dari pemerintah setempat. Kecuali jika ia tinggal setidaknya selama lima tahun.
Setelah mengunci pagar. Gisel pun berangkat menaiki mobil Pajero sport milik Terra. Gisel mendapat mata kuliah pagi hari ini.
"Kak, nanti kita ke jalan Xx ya, Tara ada di halte situ, katanya lewat jalan tikus kita nggak kejebak macet," ujar Gisel.
"Baik Nona," sahut Gomesh yang menyetir. Budiman ada di sebelah pria raksasa itu.
Hanya butuh sepuluh menit mereka sudah ada di halte. Gomesh menghentikan mobilnya tepat di hadapan Tara. Kaca mobil terbuka.
"Ayo," ajak Gisel.
Tara membuka pintu dan langsung masuk kemudian menutup pintunya kembali. Mobil pun berjalan.
"Kita nanti belok kanan, trus aja lurus sampe perempatan kita belok kanan lagi. Cuma lima menit kita sudah sampai kampus pas di gudang belakang," ujar Tara menjelaskan jalan yang akan ditempuh.
Benar saja. Waktu yang semestinya bisa sampai satu jam setengah. Hanya ditempuh dalam waktu dua puluh menit saja. Mereka pun sampai kampus. Tiba-tiba Tara menangkap beberapa gerombolan pria di bawah pohon tak jauh dari kampus mereka.
"Gis. Lo liat mereka deh. Kok Gue curiga ya?' tunjuk Tara ke arah pohon.
Semuanya melihat. Gomesh juga langsung curiga. Terlebih gerombolan pria itu seperti mengamati situasi.
"Sepertinya mereka memiliki niat yang tak baik," sahut Gomesh curiga.
"Kita lihat saja. Jangan ambil kesimpulan buru-buru, takutnya nanti kita salah duga," ujar Budiman memperingati.
"Baiklah. Kita tunggu saja. Bukankah Tuan Haidar juga sudah mengamankan tempat ini?' sahut Gomesh lagi.
Semua mengangguk. Akhirnya Tara dan Gisel turun. Mereka langsung masuk kelas. Sedang Budiman dan Gomesh turun hanya untuk memancing mereka untuk melakukan tindakan.
Satu mobil pickup datang membawa serombongan orang. Mereka menggunakan pakaian hitam-hitam. Lalu mereka menaiki mobil pickup itu kembali.
Tiba-tiba.
Siiiuuuttt! Duar! Bom molotov dilempar ke halaman kampus. Api mulai menyambar. Semua terkejut melihat api yang menyambar rumput. Semua petugas keamanan bergerak. Mereka menyerang para pembuat onar.
Namun, para pembuat onar malah menyerang balik para petugas keamanan dengan bom molotov yang mereka buat. Sepertinya ancaman mereka untuk membakar kampus benar-benar mereka lakukan.
Genk Kobra ini tidak terlacak karena memang bukan komplotan organisasi. Mereka hanya orang yang berkumpul lalu membuat persaudaraan kemudian bersatu untuk membuat onar untuk menguatkan nama mereka. Menjadikan Genk kobra salah satu wadah kejahatan yang patut diperhitungkan.
bersambung.
Hmmm ...
next?