TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PEMINDAHAN MAKAM



Sore ini, proses pemindahan makam mendiang Ben Hudoyo dilaksanakan. Jenazah itu beruntung mendapatkan tempat di sisi makam istrinya yang lebih dahulu berpulang empat tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya.


Kepolisian menanyakan siapa yang akan menjadi serah terima jenazah ketika pengangkatan dari makam sebelumnya ke makam selanjutnya.


Haidar langsung menjadi wali untuk serah terima jenazah di lokasi makam yang baru. Sedang untuk pengangkatan Bram sudah berada di lokasi sebelumnya. Haidar meminta tolong sang ayah menjadi wali ketika pengangkatan jenazah.


Bram tentu menyanggupi, pria itu bergegas ke lokasi setelah putranya memberi alamat. Beruntung letaknya tidak jauh dari perusahaan miliknya. Hingga ia dengan cepat sampai sana.


Terra bersikeras ikut. Ia ingin melihat prosesi pemakaman ayahnya. Karena waktu itu, ia tidak sempat.


Haidar tadinya menolak, karena pasti semua anak ikut dengannya.


"Te harus ikut, Mas!" pinta Terra memohon dengan mata berkaca-kaca. "Mumpung anak-anak tidur!"


Haidar tidak bisa menolak. Benar saja, ketakutan Haidar. Anak-anak terbangun ketika merasakan pergerakan di kasur. Semuanya merengek untuk ikut.


Terra membawa tiga asisten rumah tangga yang bekerja dengannya. Ia menyuruh Pak Deno suami Gina untuk menjaga rumah. Semuanya masuk mobil Terra. Karena Haidar mengendarai mobil sport jadi tidak muat.


Terra duduk di samping Haidar yang mengemudi. Sedang di tengah tiga asisten memangku masing-masing satu anak. Hanya Darren yang tidak.


Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke makam. Mereka datang berbarengan dengan ambulance yang membawa jenazah Ben Hudoyo.


Bram turun dari mobil, langsung menghampiri Haidar, Terra juga ketiga anak bersama para asisten rumah tangga.


Mereka bejalan di belakang iring-iringan keranda. Bershalawat atas nabi. Terra menahan tangisnya. Tubuh lemahnya digiring oleh Haidar.


Ketika di liang lahat. Terra histeris, melihat jenazah ayahnya di masukan ke dalam lubang.


"Ayah ... Te ... ikut!' teriaknya sambil meronta.


Haidar memeluk Terra erat, agar tidak langsung ikut masuk ke lubang di mana ayahnya di taruh. Darren, Lidya dan Rion ikut menjerit. Darren tahu itu adalah ayahnya yang di masukkan ke dalam liang lahat.


"Ayah ... Darren ikut juga!" teriak Darren.


"Ayah ... Iya dudha!"


"Ion ... Ion ... huuaaaa!"


Semua berteriak. Haidar langsung menyuruh Terra beristighfar. Terra tersadar langsung beristighfar mengikuti saran Haidar.


Terra terus menangis. Bahkan ketika lubang itu mulai di timbun oleh tanah. Gadis itu tak sadarkan diri. Semua anaknya menangis memanggil ibunya. Bram ikut mencucurkan air mata. Betapa berat beban yang Terra panggul selama ini sendirian.


Para asisten juga ikut menangis. Mereka memeluk anak-anak majikannya. Mencoba menenangkan.


Haidar menggendong Terra dan membawanya ke mobil. Berikut anak-anak. Bram masih mengawasi pemakaman hingga selesai.


Butuh waktu dua puluh u, makam itu selesai di timbun. Sebuah nisan kayu terpancang dengan tulisan "Innalilahi wa Inna ilaiyihi radjiun, Ben Hudoyo Bin Hudoyo. Lahir 27 Sep 1970 wafat 13 Juli 2021".


Bram menabur bunga di atas makam dan menyiram air. Berdoa sejenak, kemudian pergi meninggalkan makam.


Pria itu masih menenangkan dirinya ketika mendatangi sekelompok orang. Di mana di situ ada Terra, anak-anak juga para asisten.


"Pa ... Ayah sudah tenang, Pa hiks ... hiks!" ujar Terra setelah mengurai pelukan dan menatap ayah dari kekasihnya itu.


Bram mengangguk. "Kita pulang yuk, Antar para maid dulu. Lalu kita ke mansion."


"Te mau pulang aja, Pa. Ini sudah cukup ngerepotin ... hiks ... hiks."


Terra masih sungkan untuk merepotkan keluarga kekasihnya. Tetapi hal itu malah membuat Haidar dan Bram marah.


"Jangan berkata seperti itu, kita adalah keluarga!"


"Ayo sekarang nurut apa kata, Papa!"


Mau tak mau. Terra akhirnya menurut. Mereka pulang terlebih dahulu untuk mengantarkan para asisten ke rumah Terra. Kemudian barulah mereka ke mansion keluarga Pratama. Di sana Kanya sudah menunggu dengan perasaan cemas dan uraian air mata.


Ketika sampai mansion. Terra dan anak-anak disambut oleh pelukan dan ciuman Kanya. Wanita itu menangis mendengar semua yang terjadi pada gadis kesayangannya itu.


Mereka semua masuk. Bram mengambil alih Rion sedang Lidya diambil alih Haidar. Darren tidak mau lepas dari Terra. Pria kecil itu berkali-kali menghapus air mata Terra.


"Mama ... jangan tinggalin kami ... hiks ... hiks!"


Terra memeluk erat Darren. Tubuh pria itu gemetaran semenjak tadi. Terra sangat merasa bersalah. Namun, gadis itu juga sedang tidak baik perasaannya.


Kanya dan Bram juga Haidar mencurahkan kasih sayang mereka pada keluarga kecil itu. Mereka menguatkan Terra yang menjadi pion dari ketiga anaknya.


"Kamu harus kuat sayang. Demi anak-anak," ujar Bram.


"Menikahlah dengan Haidar, sayang," pinta Kanya.


"Ma, masalahnya tidak semudah itu. Dengan menikah lalu Terra lepas dari semua masalah. Nggak, Ma!" protes Bram.


"Masalah Terra lebih pelik dari sekedar anak-anak. Salah langkah, Terra akan makin terpuruk. Terlebih posisinya sebagai CEO sekarang ini. Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan," jelas Bram panjang lebar.


"Lalu kita harus bagaimana. Jika Terra tidak langsung kita, ikat sekarang juga. Kita tidak bisa terjun langsung menolong Terra!" teriak Kanya protes.


"Papa tahu Ma! Papa tahu. Makanya, kita pikirkan bersama. Sebisa kita menolong Terra dan anak-anak, kita tolong mereka tanpa pamrih!" ulas Bram ikut menaikan nada bicaranya.


"Sudah ... Mama sama Papa jangan bertengkar karena Terra dan anak-anak. Terra bisa jalani ini semua, sendirian. Walau nanti Terra minta tolong juga," ujar Terra lirih.


"Jangan khawatir, Sayang. Aku pasti akan selalu ada di samping mu," ujar Haidar menenangkan.


Kanya memeluk Terra erat begitu juga Darren. Tubuh pria kecil itu sudah tidak segemetar tadi. Mereka semua hening dalam kedukaan yang dalam.


bersambung.


ah ... othor pucing dari tadi nangis sambil nulis... oke rehat bentar


Jan lupa kasih like komen and vote yaa ... makasih.