
Pesta resepsi usai tak ada hiburan meriah seperti ketika Putri menikah waktu itu. Biang kerusuhan seperti Sky, Bomesh dan Domesh juga Benua, sudah terlelap di kursi khusus bahkan dengan makanan yang masih dipegang. Aini sampai tak tega melihatnya.
"Yaaa ... nggak ada hiburan deh," ujarnya sedih.
"Iya, sepertinya mereka terlalu lelah karena ikut dari pagi. Jadi baterainya habis," seloroh Rion.
Demian dan Lidya terkekeh begitu juga yang lainnya. Walau jadinya pesta terasa hambar tanpa hiburan dari empat perusuh itu.
Saf membantu membersihkan mulut dan tangan anak-anak yang tertidur itu. Padahal ibu mereka datang untuk mengurusnya.
"Tidak apa-apa, biar Saf yang urus. Itung-itung latihan," ujarnya.
Maria mengusap kepala Saf. Gadis itu memang tak berhijab. Rambut pirangnya sangat terlihat. Gisel pun jadi santai karena tak begitu terbebani dengan mengurus anak-anak.
"Acara sudah selesai. Sebagian makanan lebih apa boleh kita sumbangkan ke orang-orang sekitar Ma?" tanya Aini meminta pendapat pada Terra.
"Tentu saja, sayang. Oh ya, bawa sebagian untuk di rumah. Kau tak masak kan satu hari ini?"
"Kan ada ibu, Ma," sahut Aini polos.
"Astaga ... aku juga tak masak hari ini!"sanggah Safitri langsung.
"Ah ... ibu," rajuk Aini manja pada Safitri.
Terra sangat senang melihat kasih sayang gadis bongsor itu pada semua orang. Ia selalu mendapat laporan jika bidan cantik ini selalu memberi mereka bekal makan siang, jika Terra tak sempat memberi bekal untuk para pengawal.
"Dia pasti sangat bisa menjadi menantuku. Dia mengimbangiku dalam hal apa pun," gumam Terra dalam hati.
"Aku juga ingin, anak Darren lahir dari rahim seorang gadis tangguh seperti dia," lanjutnya bermonolog dalam hati lagi.
"Ya, sudah. Acara sudah selesai. Kita minta waktu sepuluh menit untuk bersiap. Lagi pula Ayah juga kelaparan dari tadi ia menjadi among tamu dan lupa waktu," ujar Haidar.
Herman tengah makan bubur ayam. Lambungnya sedikit perih. Bukan tidak ada yang memperhatikannya. Virgou, David, Bram dan Bart bahkan Haidar sendiri sudah meminta pria itu untuk istirahat. Tapi karena begitu banyaknya koleganya yang hadir. Ia sedikit lupa waktu, istrinya sampai harus mengoceh baru dia berhenti.
"Ayah masih mau tambah lagi?" tanya Puspita ketika Herman selesai makan.
"Tidak, terima kasih, Nak. Ini sudah cukup," ujarnya.
"Bunda, ada makanan yang mau dibawa pulang? Kan pasti nggak masak tadi?" tanya Aini.
"Ada maid di rumah, Sayang. Jangan khawatir," ujar Khasya.
"Mami Seruni?" kini Aini bertanya pada istri Dav.
"Tidak sayang. Tadi subuh Mami sudah masak dan tinggal menghangatkan saja nanti jika lapar," jawab Seruni lalu tersenyum.
Aini menatap Terra. Wanita itu juga menggeleng begitu juga Puspita. Aini mengangguk tanda mengerti.
"Jadi, tinggal kasih ke orang-orang saja ya," ujarnya.
"Iya, sayang. Lakukanlah, ini pestamu. Kau juga jangan lupa makan dan bawa sedikit untuk adik-adikmu," ujar Virgou.
Aini mengangguk. Gadis itu menatap dua adik yang kini tidur di kursi. Sama dengan empat perusuh tadi. Ditya dan Radit sudah kelelahan.
"Mas bawa mereka ke mobil ya," ujar Gio.
Aini mengangguk lalu mengucap terima kasih. Rion mendorong kereta bayi kembar Terra yang sudah empat bulan. Sedang Lidya mendorong kereta Harun yang sudah delapan bulan. Darren mendorong kereta Azha yang sudah enam bulan.
"Biar Satrio gendong Bomesh, karena dia paling gembul," pinta remaja itu.
Bomesh digendong Satrio dan bayi itu sangat begitu nyaman berada dalam rengkuhan remaja itu. Maria begitu terharu. Gomesh ingin menggendong Domesh, tapi Sean langsung menggendongnya. Remaja itu sangat gemas dengan bayi pintar satu ini. Ia berkali-kali menciumi Bomesh hingga terganggu tidurnya, Terra sampai harus memukul lengannya.
"Baby, adiknya jadi terganggu!"
"Habis gemes Mama. Pengen makan pipinya yang bulet ini," ujarnya geregetan.
Sedang Benua digendong Kean, Samudera di gendong Cal. Radit digendong Al. Sky? Bayi itu terbangun ketika Daud mencoba menggendongnya.
"Ata'Babitli!" panggilnya sambil mencebik.
Bayi itu seperti mencari gadis bongsor itu. Safitri mendekat.
"Baby, kenapa sayang, heeum?" tanyanya.
"Ata' ... janan tesana ... hiks ... ti sana ada wowan bahat ... hiks ... syini syama Sty!" ujarnya lalu merentangkan tangannya.
Alih-alih ingin melindungi Safitri dari bahaya. Tapi, jika dilihat secara visual. Safitri lah yang melindungi bayi itu. Kepala Sky begitu nyaman tenggelam di ceruk leher gadis beriris abu-abu itu.
"Ah, dia mimpi buruk, sampai sedikit demam?" ujar Saf khawatir.
Gisel langsung panik. wanita itu mendekati putranya yang memang sedikit hangat.
"Baby," ujarnya sedih.
"Sudah tidak apa-apa. Hanya demam karena kelelahan saja. Sepertinya karena kebanyakan diam hingga dia tidak mengeksplor gerak aktif jadi seperti ini," jelas Saf menenangkan Gisel.
"Apa dia bisa diletakkan di sit car nya?" tanya Gisel setelah sampai parkiran.
Saf mencoba menurunkan bayi itu, ternyata bisa. Gadis itu memberi ciuman pada tiga bayi tampan itu satu persatu. Lalu membenarkan ikatannya agar nyaman dan aman.
"Terima kasih, sayang," ujar Gisel.
"Sama-sama Tan ...."
"Panggil Bommy, ya," pinta Gisel.
Safitri mengangguk. Ia pun tersenyum. Semua mobil bergerak pulang. Bahkan mobil pengantin lebih dulu pergi. Gio memang sudah memiliki kendaraan roda empat sendiri. Kini, Saf berdiri melongo di lapangan parkir. Semua lupa jika tadi gadis itu menumpang salah satu mobil mereka.
"Dasar pikun semua. Trus gue pulang gimana ini?" tanyanya gusar.
"Hah ... terpaksa pake ojol atau taksi, mana pake kebaya lagi. Ribet ... ribet!" gerutunya pelan.
Ia pun memanggil mobil daring dari ponselnya. Gadis itu hanya perlu menunggu lima belas menit saja. Beruntung juga ia bawa dompet dan uang.
"Alhamdulillah ... udah selesai," ujarnya ketika naik.
"Sesuai map ya, Mba," ujar supir.
"Ya, Pak," jawab Saf.
Mobil itu pun bergerak. Sedang di kendaraan lain. Virgou yang tengah menyetir menepuk keningnya.
"Astaghfirullah!"
"Kenapa Pa?" tanya Maisya.
Kean dan Cal sudah punya mobil sendiri. Walau tetap ada supir yang mengantar. Affhan dan Kaila juga heran melihat ayahnya yang menepuk keningnya. Sedang Harun masih tertidur di car sitnya paling belakang. Puspita bertanya.
"Kenapa sayang?"
"Apa tadi kita meninggalkan Safitri sendirian di sana?" tanya pria dengan sejuta pesona itu.
"Astaghfirullah, Mommy lupa!" teriak Puspita terkejut.
"Telepon dia, apa dia masih ada di sana!" titah Virgou..
Puspita langsung menelepon gadis itu. Tentu saja ia punya nomor Safitri. Ia yang meminta karena ingin bertanya soal resep pangsit rebus viral itu.
"Halo assalamualaikum, sayang. Maafkan kami, apa kau masih ada di parkiran?" tanya Puspita dengan nada penuh penyesalan.
"......!"
"Apa benar, kau sudah naik taksi daring?"
"......!"
"Baik lah sayang. Maafkan kami, jangan marah ya," ujarnya memohon.
".....!"
"Baik sayang, terima kasih dan sekali lagi maaf, ya!"
".......!"
"Baik sayang. Hati-hati juga di jalan, wa'alaikumussalam!"
Sambungan ditutup. Puspita benar-benar menyesal tentang hal itu. Ia jadi gelisah karena melupakan gadis sebaik Safitri.
Bukan hanya Virgou yang teringat. Haidar, Herman, Bart, juga David baru ingat jika Safitri menunut ikut ke gedung dengan salah satu mobil mereka. Kini, mereka melupakan gadis itu dan meninggalkannya sendirian.
Terra sampai menangis karena bisa lupa dengan Safitri, terlebih Darren yang juga baru ingat. Lidya apa lagi. Rion juga tak kalah sedih karena bisa lupa dengan sosok kakak yang menjadi panutannya itu.
Di rumah Aini. Gio sudah menidurkan dua adiknya di kamar.
"Mas ... Ibu, Mas;" seru gadis itu pada suaminya.
"Ibu? Ibu apa?" tanya Gio tak mengerti.
Lalu sejurus kemudian baru lah ia sadar.
"Ibu bidan ketinggalan!"
bersambung.
Et dah ... gitu amat ya ... kasihan Safitri hehehehe.
next?