
Demian datang bersama Calvin. Dua lelaki tampan beda usia itu menarik perhatian orang terlebih kaum hawa. Bahkan banyak yang menganga lebar menatap kedatangan dua pria tampan itu.
"Astaga ... apakah Tuhan memiliki waktu khusus ketika menciptakan keduanya?" tanya salah satu bergumam.
"Tuan ... ambil aku tuan ... aku menginginkanmu!"
Para gadis mulai menggila. Felix, Reza dan Juan tampak kualahan menahan para wanita yang hendak mendekati tuan muda mereka.
Herman yang menyambut juga cukup terkejut melihat Calvin bersama Demian.
"Baby, kamu di sini?"
"Iya, ayah," jawab Cal lemah.
Remaja itu sedikit berdecak dengan panggilan Herman padanya. Ia sudah lima belas tahun. Bahkan ia sudah mimpi basah dan baligh.
"Cal bukan baby," keluhnya.
"Hais ... ayo masuk!" ajak Herman.
Ketika di dalam Calvin justru terkejut karena saudara kembarnya ada di sana.
"Kean?"
"Cal?"
Keduanya tersenyum.
"Mari bertaruh, jika Satrio kini bekerja di perusahaan Daddy!" ajak Kean dengan seringai usil.
"Dan Sean sama mama kita," timpal Cal.
"Al sama kakek!' ujar keduanya sambil terkikik.
Keduanya saling hi-five. Demian duduk di salah satu kursi yang tersedia. Ada beberapa kolega di sana. Ternyata, Rion dan Darren juga ikut menatap dua adiknya.
Tak lama David datang bersama Satrio. Benar dugaan Kean jika Satrio bekerja dengan Virgou. Karena Dav membantu kakak sepupunya itu.
"Baik mari kita mulai rapat!" ujar Herman memulai acara.
Dua jam berlalu. Kerjasama disepakati. Semua kolega bertepuk tangan dengan hasilnya. Mereka tampak puas. Tak rugi merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa masuk tender besar yang diadakan oleh Herman.
"Tuan, lunaklah sedikit dengan kami," pinta salah satu kolega tengah bernegosiasi dengan Herman.
"Kita sudah lama bekerjasama dan selama itu tak ada masalah," ujarnya lagi.
"Loh, bukankah semua mendapat porsi sesuai keuangan dan standar perusahaan kalian?" sahut Herman tak mengerti.
"Memang. Tapi, biasanya kan kami kebagian sebagai chiefman di semua bidang proyek yang perusahaan tuan adakan!" pria itu masih melakukan nego pada Herman.
"Begini Tuan Saputra. Anda tadi sudah kami beri kesempatan untuk memberi review pada produk atau tawaran anda. Bahkan anda sendiri yang mengatakan hanya sanggup mengerjakan proyek tak lebih dari lima persen!" sahut Herman lugas.
"Lalu bagaimana saya menempatkan perusahaan anda sebagai chiefman?" lanjutnya bertanya.
"Tapi proyek ini jangan semua adalah keluarga anda!" sahut pria itu masih tak terima.
"Loh, siapa bilang semua adalah keluarga saya!?"
Herman mulai tak menyukai perkataan Saputra. Pria itu terdiam.
"Baik, Darren, Rion, Kean, Calvin dan Satrio, memberi review terbaik mereka dan sanggup melaksanakan proyek setidaknya 85%!" lanjut pria itu tegas.
Saputra terdiam. Kekurangan dana, itulah alasan pria itu tak bisa mengambil pekerjaan hingga di atas 10%.
"Karena perusahaan anda telah lama bekerja dengan perusahaan kami, makanya kami masih mau membuka peluang walau anda hanya sanggup mengerjakan kurang dari 2% saja!" jelas Kean.
Sebagai tangan kanan Herman yang menggantikan asisten pribadi pria itu karena pensiun. Kean sudah bekerja dengan Herman selama dua minggu. Jadi ia banyak tahu struktural perusahaan pria yang semestinya ia panggil kakek itu.
"Jadi apa anda sudah jelas Tuan Saputra?" tanya Herman dengan satu alis terangkat.
Saputra mengangguk. Ia mundur teratur. Pria itu masih beruntung jika perusahaannya masuk dalam proyek.
Rapat di akhiri dengan makan siang bersama. Semua dihidangkan makanan terbaik sesuai pesanan mereka.
Usai makan, para kolega pun pergi ke perusahaan masing-masing. Akan ada gala dinner nanti malam.
Demian tengah menatap ponselnya dengan pandangan kesal.
"Ada apa wajahmu seperti itu?" tanya Herman heran.
"Ini Jac ... ia sangat kurang ajar sekali!" adu Demian.
"Dia mengirimiku gambar pemandangan indah, sawah dan bukit serba hijau. Belum lagi kalau malam, ada kunang-kunang!" lanjutnya sebal.
"Tempat itu memang indah sekali. Sayang, pihak pemerintah melarang para investor membangun parawisata di sana," jelas Herman.
"Kenapa Yah?" tanya Dav heran. "Bukankah bagus untuk pendapatan daerah dan bisa masuk ke kas negara?"
"Sebenarnya masyarakat di sana menolak. Mereka takut tempat mereka tak asri lagi karena pasti banyak orang akan membangun hotel dan bangunan besar. Mereka takut jika terlalu banyak yang datang, lingkungan mereka jadi rusak dan tercemar," jelas Herman lagi.
Dav mengangguk tanda mengerti.
"Jika banyak orang nanti kunang-kunangnya pergi atau punah," jelasnya lagi.
"Ayo kita pergi. Banyak pekerjaan menunggu!" ajak Herman lagi.
Semua pun pergi ke perusahaan mereka masing-masing. Demian bersama Cal. Rion pergi sendiri dan Darren pun sama.
"Eh, baba ... kok tadi nggak kelihatan?" ujar Cal ketika melihat Budiman.
"Anda tadi dikerumuni wanita-wanita cantik Tuan muda!"
Calvin senang dengan sebutan itu. Rion memandang pria yang semestinya ia panggil kakak ipar itu.
"Tuan Baby!" panggil Budiman.
"Isshh ... Ion sudah bukan bayi lagi, baba!" protes remaja yang mau sembilan belas tahun itu.
"Di mata baba, Tuan baby masih bayi," sahut Budiman santai.
Darren terkekeh. Bukan hanya Budiman saja yang menganggap Rion bayi, tapi semua keluarga masih menganggapnya demikian.
"Kalau begitu Trio, manggilnya Kakak baby aja ya!" celetuk putra dari Herman itu.
"Baby!" peringat Rion sebal.
Semua terkekeh mendengar celetukan Satrio. Bahkan remaja itu kini dijepit lehernya oleh bayi besar itu. Semua tertawa.
Banyak orang memandang iri dengan kedekatan keluarga itu. Baik keluarga Pratama, Dougher Young dan Triatmodjo jauh dari gosip miring dan juga skandal. Walau mereka tahu Virgou dari seorang mafia.
Kebersamaan mereka diabadikan oleh seorang wartawan lepas.
Sebuah tajuk dengan judul "Keluarga Impian" menjadi buah bibir.
"Iri Boss lihat keakraban mereka. Padahal, ayah mereka memiliki standar wajah yang di atas rata-rata. Tapi, para suami sangat setia!" cuitan salah satu netizen.
"Wah ... Kean tampan sekali. Wajah ayahnya tercetak jelas di raut mukanya. Bahkan Rion juga mirip jika matanya biru!" tulis salah satunya lagi.
"Mukanya mirip semua. Orang bersaudara. Bahkan Satrio yang hitam manis tak kalah tampan dengan pada bule itu!" tulis salah satunya.
Haidar yang baru saja keluar dari rapat di kantornya menatap berita dengan senyum mengembang.
"Kalian memang anak-anak papa yang hebat!" pujinya terkagum.
Semua komentar ia baca dengan seksama hingga perhatiannya berhenti di salah satu komentar.
"Virgou kan mafia, pasti dulunya seorang casanova. Yakin, istrinya hanya satu?"
Gara-gara satu komentar itu. Banyak balasan membanjiri kolom di bawah komentar tersebut.
"Eh ... iya juga ya?! Secara pasti mafia nggak suka dengan satu wanita!"
"Ah, dia pernah bercinta denganku!"
"Gue punya anak dari dia!"
"Weh ... ternyata 'anu" nya kecil tau!"
dan banyak komentar miring tentang Virgou.
"Ck ... ada-ada saja!" gerutu Haidar pelan.
Pria itu mengambil BraveSmart ponsel. Lalu dengan satu ketikan dan satu sentuhan. Berita gempar tadi hilang dari dunia maya.
"Mau lawan keluarga kami?!" gumam Haidar sinis. "Bisa jadi kau hilang dari muka bumi ini!"
bersambung ...
ah ... jangan macam-macam deh intinya.
hai ... Readers ... maaf ya jika othor hanya satu upnya. karena kepala pusing. minta doanya. makasih ... ba bowu ❤️😍😍
next?