TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNYATAAN CINTA



"Aku jatuh cinta padamu, Putri," aku Jacob.


Gadis itu terhenyak, Lidya membola, lalu bertepuk tangan. Gadis itu sedikit iri pada sahabatnya. Dulu, Demian juga menyatakan perasaannya, tetapi, ia menolak karena pasti semua pria kesayangannya akan marah jika mengetahui dia berpacaran.


"Anda pasti bercanda kan?" tanya Putri tak percaya sambil terkekeh.


"Apa untungnya, aku bercanda?" tanya Jacob lagi kini tegas.


Putri menelan saliva kasar. Jacob adalah pria tampan, mapan dan yang paling penting. Darah pria itu mengalir dalam tubuhnya kini.


"Aku tak butuh jawabanmu sekarang, Putri. Aku tau, jika terlalu cepat mengungkap perasaanku padamu," jelas Jacob.


Mata tajam itu menatap dengan teduh gadis berseragam putih dengan list batik di pinggirannya. Jacob memberanikan diri menggenggam tangan gadis itu erat. Menyalurkan semua rasanya. Entah kenapa gadis itu seperti tersihir. Demian mencibir keberanian pria bawahannya itu. Tetapi, ia sangat salut.


Jantung Putri seakan melompat keluar dari tempatnya, karena Jacob menggenggam tangannya. Gadis itu hendak melepaskan genggaman tangan pria itu. Tetapi, tak bisa, bahkan kini dengan nakal, tangannya ikut menggenggam tangan pria tampan itu. Sungguh, apa yang ada di otak Putri berbanding terbalik dengan apa yang ada di hatinya.


Sedangkan sepasang mata menatap nanar dua insan yang saling menggenggam itu. Tangannya mengepal erat hingga memutih. Ia kalah langkah. Penyesalan pun datang.


'Andai kemarin aku mengungkapkan juga,' sesalnya dalam hati.


Lidya menatap sahabatnya. Ia yakin jika sang sahabat masih belum mau berhubungan serius dengan siapapun. Lidya tau alasannya.


"Saya ... saya tersanjung sekali ...."


"Jangan berkata apa pun jika itu adalah penolakan. Kau tau, aku akan melakukan berbagai cara agar kau menerimaku, Putri. Bahkan mendatangi dan meminta langsung pada kedua orang tua mu, pun aku sanggup!" tekan Jacob dengan berani.


Putri benar-benar berdebar dan merasa melayang. Baru kali ini, ada seseorang pria yang benar-benar mengharapkan dirinya.


"Aku yakin, kedua orang tua mu juga pasti mengijinkan aku untuk mengganti tanggung jawab mereka!"


Lagi-lagi Jacob memberi penekanan. Lidya terdiam. Ia melupakan satu hal tentang itu. Kedua orang tua Putri pasti menerima pinangan Jacob jika itu benar-benar terjadi.


Putri menatap Lidya, meminta pendapat. Gadis itu terhenyak seketika.


"Jangan tanya aku. Aku tak mau mengatur semua jalan hidupmu. Ini adalah masa depanmu," sahut Lidya angkat tangan.


"Sudah kubilang, jangan jawab sekarang. Aku hanya ingin kau tau perasaanku padamu," sahut Jacob lagi memberi penekanan.


Putri terdiam. Gadis itu menghela napas panjang. Ia hanya membalas senyuman pada pria bule tampan di depannya ini.


"Mau kah kau menunggu, Tuan. Masih banyak harapan yang belum aku gapai," sahut Putri akhirnya.


"Kau tau, bersamaku, kau bisa lebih mudah menggapai harapanmu, inshaallah!" sahut Jacob lagi.


Putri terdiam. Lidya salut dengan keyakinan pria yang kini memandang sahabatnya itu penuh harap. Ia melirik Demian begitu juga sebaliknya.


"Dari tadi kau yang berbicara, Jac," sahut Demian kini.


Jantung Lidya tiba-tiba berdetak cepat. Ia juga belum siap dengan kesungguhan Demian, karena ....


"Biarkan Putri memikirkan semuanya masak-masak. Kau adalah pria yang baru ia kenal. Dia belum tahu baik buruknya," sahut Demian.


"Eh ...?"


Lidya kecewa, ia berpikir Demian akan berkata sama dengan Jacob.


"Seandainya gadis di depanku ini, mau melangkah bersama. Aku siap menghadapi seribu rintangan yang menghadang," sahut pria beriris biru itu.


Gadis itu pun merona. Tiba-tiba tatapannya jatuh pada tiga pengawal yang menatapnya horor. Ia pun mengeluh dengan helaan napas panjang.


Demian menatap apa yang dipandang Lidya. Ia pun menggosok tengkuknya. Pria-pria pengawal gadisnya memandangnya horor. Rupanya perjuangannya tak semudah Jacob.


"Aku pastikan jika aku layak menjadi pendampingmu, Lidya," tekan Demian yakin.


Lidya pun merona. Ia hanya menunduk takut menanggapi perkataan Demian.


Usai makan, Putri dan Lidya berjalan bersama dengan Demian dan Jacob. Seluruh pengawal menjaga nona mereka. Bahkan Gio kini berjalan berdampingan dengan Putri. Jac, sedikit cemburu. Tetapi, ia menahan semuanya.


Putri menaiki motornya, Lidya berada di boncengan sahabatnya. Motor itu melesat meninggalkan halaman parkir begitu juga tiga motor pengawal.


Demian dan Jacob pun menaiki mobil mereka dan meninggalkan halaman parkir. Penterjemahnya sudah pulang ketika makan siang tadi.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai rumah Terra. Putri menurunkan sahabatnya di depan gerbang.


"Kau tak mau masuk?" tawar Lidya.


"Tidak, aku terlalu lelah dan ingin istirahat," jawab Putri.


"Baiklah, salam untuk Ayah dan Ibu," sahut Lidya.


"Wa'alaikumussalam!"


Putri pun memacu kuda besinya. Lidya sudah bisa mengendarai kendaraan roda dua itu, sang sahabat yang mengajarinya.


Gadis itu pun masuk, gerbang sudah terbuka dari tadi, karena Gio dan lainnya juga masuk dengan kendaraan mereka.


"Aku harap kejadian tadi, tidak ada yang mengadu!" tekan Lidya.


Semua membungkuk hormat.


"Apanya yang harus diadu?"


Lidya menutup matanya. Sungguh, ia akan repot jika berurusan dengan adiknya ini. Rion menyambanginya.


"Kak?" panggilannya.


Lidya lalu memasang senyum manis. Ia mengusap wajah tampan dengan sejuta pesona itu. Rion makin lama makin tampan.


"Kakak tadi membelikanmu sesuatu, loh," sahutnya mengalihkan perhatian.


"Kak, aku bukan Baby Sky yang bisa disogok dengan mainan!" tekan Rion.


"Baby," keluh Lidya.


Sungguh, ia belum mau memulai keributan dengan. adiknya. Walau nanti, dia akan kalah telak dengan Rion. Tak ada yang bisa menandinginya jika berdebat terlebih jika Rion ingin mengetahui sesuatu.


"Oh begitu, oteh ... akan kucari tau sendiri," ujarnya lalu meninggalkan kakak perempuannya itu.


Bahu Lidya turun. Ia pun hanya pasrah, gadis itu akan memberitahunya nanti.


"Baby, tunggu!" ujarnya lalu mengejar langkah adiknya.


Keduanya masuk dengan ekspresi yang berbeda. Rion dengan muka datar, sedang Lidya dengan ekspresi menyesal.


"Ada apa ini?" tanya Darren.


"Masuk-masuk nggak ngucap salam?" tegurnya kemudian.


"Assalamualaikum," sahut Lidya lemah dan gak bersemangat.


Darren menjawab salam adik perempuannya itu dengan kening di kerut. Sedangkan Haidar dan Terra juga memandang putrinya yang tak bersemangat itu.


"Kak Lidya kenapa?" tanya Nai ingin tahu.


"Nggak apa-apa, baby," jawab Lidya dengan senyum lemah..


"Kok, kek habis kepergok gitu sih?" sahut Sean menerka.


"Iya, Kak Iya tadi kepergok Kakak Ion, kalo ngancam Om Gio!' adu Rion.


"Baby," keluh Lidya.


"Lidya?" tegur Terra.


"Sejak kapan kau mengancam Om Gio? Apa yang kamu sembunyikan?" kini Hadir yang mencecarnya dengan pertanyaan.


Lidya menatap semuanya. Ia sedikit kesal. Ini masalah pribadinya, ia tak ingin ada yang mengusik semua masalahnya.


"Bisa nggak, biarin Iya sendiri menyelesaikan semua?" pinta gadis itu.


"Oh, sudah merasa hebat? Bisa menyelesaikan sendiri masalah?" sindir Rion.


"Baby, please!" sentak gadis itu.


"Oke, fine! I will find it by my self!" sentak Rion membalas.


"Hei ... kenapa kalian jadi bertengkar?" kini Darren yang mulai sedikit keras suaranya.


Rion dan Lidya diam. Mereka akan mereda perdebatannya jika Darren sudah angkat suara.


"Baik, Lidya. Jika kau memang ingin privasi. Silahkan, kami akan menghormati keputusanmu. Tetapi, jangan halangi Rion untuk mencari tau apa itu masalahmu!" tekan Darren. "Adilkan?"


bersambung.


lah berat Iki babang Demian.


next?