
Setelah memilih tiga gaun pengantin. Keduanya keluar dari butik. Kanya mengajak calon menantunya ke sebuah spa khusus langganannya. Ia ingin gadis itu memanjakan dirinya.
"Kau memang sudah cantik dan menarik. Tapi, sebentar lagi kau menikah. Mama ingin kamu merawat diri kamu juga. Sudah saatnya kamu memanjakan diri," ujar Kanya panjang lebar.
Walau Terra tak begitu suka tubuhnya disentuh oleh orang asing. Tapi, ia menghormati keinginan calon mertuanya itu. Berkali-kali ia tertawa kegelian ketika dipijat oleh ahlinya.
Lambat laun, Terra menikmati spa-nya. Gadis itu baru kali ini merasakan me-time nya. Setelah nyaris satu tahun berkecamuk dengan berbagai masalah yang datang silih berganti. Membuat gadis itu melupakan jika dirinya juga butuh suasana yang menenangkan.
Sejenak melupakan rutinitasnya sebagai seorang CEO dan seorang ibu dari tiga anak. Terra benar-benar memanfaatkan waktu rileksnya semaksimal mungkin.
Dua jam ia menghabiskan waktu memanjakan diri, melepas semua penat. Gadis itu kembali segar dengan wajah bersinar. Terra semakin cantik.
Kanya memuji kecakapan wajah calon menantunya. Sejak pertama kali ia melihat Terra, ia sudah jatuh cinta. Terlebih dengan sikap dan hati yang dimiliki oleh gadis itu.
"Kau cantik sekali, sayang," puji Kanya.
"Mama, juga," balas Terra sambil menarik dua sudut bibirnya ke atas.
Kanya merangkul tubuh gadis itu dan mengajaknya kembali memanjakan mata. Shopping. Terra lagi-lagi menghela napas. Baru saja ia rileks, calon ibu mertuanya mengajaknya kembali berpenat ria.
Kanya benar-benar mendandani habis gadis itu. Pakaian sederhana yang melekat pada gadis itu berubah menjadi sedikit berkelas dengan rentetan baju branded. Sepatu-sepatu berhak tinggi, yang tak pernah diminati gadis itu.
Tak lupa dengan tas-tas mahal dari merek terkenal. Berbagai tas limited edition menjadi sasaran Kanya. Terra hanya menelan saliva kasar ketika melihat sebuah dompet kecil berwarna pink seharga dua motor matic.
"Kau suka dompet itu, sayang?" tawar Kanya.
Terra langsung menggeleng cepat. Gadis itu sudah memiliki dompet seharga tiga puluh lima ribu, yang ia beli di pasar ketika menginjak usia tujuh belas tahun.
Bukan masalah harganya. Tapi, uang itu adalah uang terakhir pemberian sang ayah. Uang sisa pembayaran sekolahnya.
"Jangan khawatir dengan harga, sayang. Haidar sudah mendepositokan uang sebanyak satu miliar untuk pernak-pernik pernikahanmu," jelas Kanya lagi.
"Tidak, Ma. Terra masih punya dompet dan masih bagus," jawab Terra cepat.
Kanya mengulas senyum manis. Ia sangat bahagia mendapatkan menantu yang sederhana dan tidak banyak gaya, padahal dia baru berusia sembilan belas tahun, dua minggu lalu.
"Mama bangga sama kamu, Nak," pujinya.
"Begitu banyak anak gadis di luar sana yang rela menjadi apa saja untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan rela menjadi sugar baby Om-Om senang. Semua mereka lakukan agar bisa menikmati kekayaan secara instan," lanjutnya dengan nada miris.
Terra hanya tersenyum kecut. Sebagian teman kuliahnya ada yang menjadi simpanan pejabat. Terra mengenal pejabat itu. Sosok yang mestinya jadi pelindung keluarga, berubah menjadi pria bernafsu birahi tinggi hanya untuk kepuasan ************ saja.
Benar ramalan dari Rasulullah Muhammad SAW. Jika nanti suatu saat, berzina akan dianggap biasa oleh masyarakat.
"Kalau sudah begitu, yang salah siapa, Ma?" tanya Terra.
"Yang salah adalah diri sendiri. Mereka terlalu malas untuk menggali potensi dan ingin mencapai semua secara instan. Padahal mau makan mie instan juga mesti dimasak dulu," jawab Kanya sebal.
"Mama nggak curiga Papa jadi sugar Daddy?" tanya Terra memancing.
"Dulu sebelum menikah. Mama sudah kasih ultimatum pada Papa. Jika nanti, Mama tidak bisa melayani Papa dan Papa masih ingin dan berhasrat tinggi. Mama minta Papa untuk meninggalkan Mama," jelas Kanya panjang lebar.
"Papa setuju. Dulu ada gadis SMA mendekati Papa mu. Tapi, dengan tegas ia mengembalikan gadis itu ke orang tuanya dengan memberi sebuah gerobak untuk berjualan. Papa memberi mereka modal usaha," lanjutnya. "Entah apa kabarnya sekarang."
Terra manggut-manggut. Gadis itu juga tidak ingin dirinya nanti diduakan oleh Haidar. Ia seorang pencemburu berat. Gadis itu akan melibas siapa saja wanita yang akan mengganggu suaminya nanti.
"Mama sarankan. Jangan terlalu mengikat suami. Kita doakan dia, agar tidak berpaling. Bukankah seorang pria muslim hijabnya terletak pada pandangannya?" ungkap Kanya, "maka ia harus menundukkan pandangannya."
Terra tersenyum setelah mendapat wejangan dari Kanya. Wanita yang telah lama berkecimpung dalam biduk rumah tangga. Tentu ia sangat berpengalaman dengan segala hal permasalahan rumah tangga.
"Jaga kehormatan mu juga kehormatan suamimu. Anak-anak mu nanti, juga harta suamimu," lagi-lagi Kanya memberi petuah.
Sebuah kecupan sayang, Kanya layangkan ke kening calon menantunya. Ia begitu sangat menyayangi gadis ini. Ia seperti memiliki seorang putri lain yang harus ia jaga dan lindungi.
"Terima kasih, Ma. Terra akan ingat semua pesan, Mama," ujar Terra penuh ketulusan.
"Ya sudah, sekarang kita waktunya makan, Mama sudah lapar," ajaknya.
Keduanya berjalan sambil berangkulan sedang barang belanjaannya sudah diantar ke mobil oleh pelayan toko.
Semua toko di mall ini mengenal siapa Kanya. Istri dari seorang pengusaha ternama. Ia juga merupakan putri dari pengusaha cukup terkenal di masanya. Semua menunduk hormat pada wanita ini.
bersambung.
iya lah ... istri CEO ternama. pastinya banyak yang tahu.
next?