
Demian, Jac dan Dominic sudah tiba di sebuah rumah yang memang diperuntukan putranya. Ketiga pria dengan ketampanan masing-masing. Membuat heboh seluruh penghuni rata-rata para asisten rumah tangga yang berjenis kelamin perempuan. Mereka sering mencuri padang, rumah yang baru di tempati sekitar dua tahunan itu.
"Eh, ada mister baru loh," sahut salah satu pekerja rumah.
"Bukannya udah dua tahun, mereka tinggal di sini?" tanya pedagang sayur yang memang diijinkan masuk ke komplek ini.
"Ada temennya lagi. Baru nyampe tadi malem," jelas pembantu itu.
Semua bisik-bisik menjadi berisik. Penjaga yang selalu berkeliling menegur semuanya.
"Hei, jangan berisik!"
Semua melipat bibir ke dalam. Lalu buru-buru membayar sayuran mereka. Rata-rata para asisten rumah tangga bekerja di sana hanya beberes, masak dan nyuci baju majikan mereka. Setelah itu mereka harus pulang sore hari. Dilarang menginap kecuali keluarga, seperti istri atau pacar para tuan rumah yang dibawa dari negara mereka masing-masing.
Demian sudah bangun dan bersiap melaporkan ayahnya pada pendata rumah. Jadi Dominic bisa keluar masuk secara bebas di komplek ini.
"Dad, kita harus ke pendata rumah di seberang sana," ajak Demian.
Jac tengah memasak pasta dan roti bakar untuk tuannya. Demian dan Dominic menuju rumah yang dijadikan kantor pendataan pendatang. Hanya sepuluh menit, keduanya sudah pulang. Jac pun sudah selesai memasak. Ketiganya kini berada di meja makan, menikmati sarapan mereka.
"Jadi hari ini, kalian akan bawa aku ke mana?" tanya Dominic.
"Daddy, sudah berapa lama nggak cek up dan donor darah?" tanya Demian, lalu menggigit roti bakarnya.
"Ah, aku lupa. Kapan ya?" Dominic tampak berpikir.
"Lama sekali, sepertinya," lanjutnya.
"Kalo begitu sekarang, kita cek up dan donor darah. Lalu konsul kejiwaan kita," ujarnya.
"Aku belum gila, Demian!" protes Dominic.
"Dad, nggak semua orang konsul ke psikiater itu gila, kadang kita stress dan butuh teman curhat juga solusinya," jelas Demian lagi.
"Jangan bilang, itu hanya trikmu untuk menemui Lidya!" tebak Dominik dengan pandangan menyelidik.
Demian hanya terkekeh. Jac pun tak menanggapi apapun, ia menikmati pastanya.
Usai sarapan. Ketiga pria itu meminta supir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Jac berada di depan, sedang Demian dan Dominic berada di belakang. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai. Ketiganya masuk ke lobby rumah sakit lalu mendaftarkan diri.
"Duduk sini, Dad," ajak Demian.
Mereka duduk di kursi stainless steel panjang. Semua mata memandang mereka terutama kaum hawa. Tak lama, satu persatu dari mereka dipanggil untuk diperiksa kesehatannya. Lalu pengambilan darah untuk didonorkan.
Seperti biasa, lagi-lagi Demian mengajak ayahnya menuju ruang konsultasi milik Lidya. Gio, Felix dan Juan ada di sana. Ketiganya tentu sangat mengenal Dominic. Mereka berdiri lalu membungkuk hormat.
"Tuan Starlight," sapa Gio.
"Jangan terlalu formal Gio, saya ke sini hanya untuk konsultasi," ujar Dominic lalu tersenyum.
Ketiganya duduk. Begitu juga para pengawal Lidya. Gio memang tak bisa berkutik. Aksi cerdas Demian tak bisa diprediksi pria itu. Menemui nona mudanya ketika praktek.
"Tuan Starlight!" panggil Putri dengan nada heran.
Gadis itu menatap dua orang yang ia kenal. Tetapi, Dominic baru pertama kali ia temui.
"Starlight yang mana?" goda Dominic.
Putri menggaruk kepalanya. Ia meminta ketiganya masuk bersamaan. Sebagai sahabat, ia sangat paham. Gio pun tak bisa berbuat banyak. ia menghela napas panjang.
Bahunya turun. Pria itu tak bisa mengejar Putri. gadis itu tak bisa ia dekati sama sekali.
Perlahan wajahnya menoleh ke arah ruang praktek yang tampak penuh orang. Ruang praktek dari kekasih tuan mudanya.
Ia pun berjalan ke arah sana. Tinggal beberapa pasien lagi. Gio menunggu. Beberapa hari ini ia merasa sakit kepala dan susah tidur. Ia ingin memeriksa keadaannya.
"Tuan Prakoso!' panggil perawat yang bekerja bersama Aini.
Pria itu masuk, lalu duduk di hadapan Aini yang masih sibuk mencatat beberapa data kesehatan. Gadis itu belum menoleh pada Gio. Dua adik Aini, sedang membaca.
"Selamat pagi, ada keluhan apa?" tanya Aini lalu mendongakkan kepalanya.
Gio hendak menjawab pertanyaan gadis itu. Tetapi, dua netra itu saling menatap satu dengan lainnya.
Deg! Deg! Deg! Deg!
Secara perlahan ia mengusap dadanya. Lalu berdehem, untuk menetralisir perasaannya.
"Ada yang bisa saya, bantu?" tanya Aini lagi dengan bibir bergetar.
"Akhir-akhir ini, kepala saya pusing dan saya sulit tidur, Dok!" jawab Gio.
"Saya periksa dulu tekanan darahnya ya," ujar Aini lalu menarik tangan Gio dan memeriksa nadinya.
Tangan halus dan dingin terasa. Debaran kencang menguasainya. ia nyaris sesak napas. Mati-matian ia kembali menetralisir semuanya.
Aini kurang yakin dengan pemeriksaannya. Ia meminta Gio berbaring dan membuka beberapa kancing bajunya.
Dinginnya stetoskop terasa di dada padat Gio. tercetak jelas pahatan otot yang begitu sempurna. Kulit yang putih bersih. Aini kembali meletakan stetoskop di nadi Gio.
"Sus, catat ya. 120/100!" jelas Aini.
Suster mencatat tekanan pada tubuh Gio. Pemeriksaan selesai. Aini kembali mengalungkan alat peraba detak jantung itu lalu ia duduk.
Gio sudah membereskan tiga kancing yang ia buka. Lalu ia kembali duduk. Aini tampak menulis resep untuk pria itu.
"Maaf, apa Mas Gio merokok dan ngopi?" Gio mengangguk.
"Jika bisa, hentikan rokoknya dan kurangi ngopinya. Istirahat yang cukup. Tekanan darah Anda bisa dikatakan normal tetapi detak anda terlalu cepat. Saran saya, minta lah cuti beberapa hari untuk memulihkan tekanan detak nadi Anda," jelas Aini panjang lebar.
Gio mengangguk tanda mengerti. Pria itu akan menghentikan rokoknya. Tetapi, untuk kopi dana begadang, tentu sulit secara ia bekerja sebagai pengawal.
"Ini resep, tolong ditebus," ujar Aini lagi.
"Om Gio sakit apa?" tiba-tiba Radit mendatangi pria yang selalu ia lihat jika pergi ke suatu rumah.
"Mas Gio, hanya perlu banyak istirahat, Dik!" Aini yang menjawab pertanyaan adiknya.
"Jangan telalu lelah, Om. Nanti kalo Om cape telus sakit, nggak ada yang jagain Mba Iya," pinta Radit sendu.
Gio tersenyum lalu mengangguk. Ia mengelus kepala anak yatim piatu tersebut. Ditya juga mendatangi pria itu.
"Om, kalo lagi istirahat, main sama Ditya dan Radit, dong," pinta bocah laki-laki itu. "Ditya bosen tau di ruangan terus."
"Nanti, ya. Atau kalau Mba lagi praktek. Kalian datangi aja Om yang jaga di depan ruang Mba Lidya, tapi bilang dulu sama Mba Aini ya," ujar Gio panjang lebar.
Ditya tersenyum lebar. Ia dan adiknya mengangguk setuju.
"Eh, jangan ganggu Mas Gio lagi kerja, dong," larang Aini.
Kedua bocah itu langsung murung. Aini sampai menyesal mengatakan itu.
"Sudah, tidak apa-apa, Dik," ujar Gio.
"Eh ... Dok!" ralatnya.
Pria itu pun berdiri dan meninggalkan tempat praktek gadis cantik itu. Sedikit menghela napas panjang. Ia pun, melangkah kaki menuju apotik untuk menebus resep.
Bersambung.
Ah ... loh ... nih ...?
next?