TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KE JEPANG



Terra akan pergi ke Jepang bersama Aden. Jangan salah, Haidar pun ikut bersama beserta tiga anak mereka.


Beruntung Darren libur karena kelasnya akan dipakai ujian akhir nasional selama satu minggu ke depannya. Budiman, Dahlan, Rudi dan Fendi ikut rombongan sebagai pengawal.


Mereka menaiki jet pribadi milik Rion, hadiah ulang tahun dari Virgou. Melalui bandara pribadi milik Bram. Mereka berangkat sehari sebelum hari rapat jurnal. Virgou sedikit merasa sedih. Pria itu ingin ikut, tetapi kehamilan istrinya yang sudah menjelang persalinan. Harus memendam semuanya.


"Nanti, Baby kita lahir, kita bisa pergi bersama, sayang," ujar Puspita menenangkan.


"Iya, kita bisa pergi bersama berlibur," ujar Virgou sambil mengusap perut istrinya yang sudah besar.


"Hai, my juniors. Daddy ingin sekali melihatmu," ujar Virgou sambil mengecup perut istrinya.


"Iya Daddy, kami ingin melihat Daddy," sahut Puspita meniru suara anak kecil.


Virgou terkekeh. Ia menatap penuh cinta istrinya. Hingga kini ia masih tak percaya, jika dirinya kini menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak kembar. Ya, anak dalam kandungan Puspita ada dua, alias kembar. Bahkan jenis kelaminnya sudah diketahui.


"Terima kasih telah menerimaku sebagai suamimu," ungkap Virgou penuh ketulusan.


"Sama-sama sayang. Terima kasih juga mau dijadikan istrimu," sahut Puspita juga tak kalah tulus.


'Sayang," panggil Virgou dengan suara serak.


Puspita sangat paham apa yang diinginkan suaminya. Ia pun mengangguk mengijinkan. Lagi pula, ia juga tengah berhasrat.


Sedangkan Terra dan keluarga telah sampai di bandara internasional Jepang. Mereka didatangi salah seorang karyawan yang bertugas menjemput mereka. Sedangkan tim pengawal juga sudah datang mengamankan semuanya.


Terra begitu takjub melihat kebersihan kota ini. Udara sejuk juga kenyamanan. Warganya juga antri. Mobil-mobil pun berkendara sesuai jalur. Sangat rapi, hingga kemacetan tidak pernah berlangsung lama. Mereka memasuki kawasan apartemen mewah. Bisa dibilang itu adalah kondominium termahal di pusat distrik perkantoran juga pariwisata. Sepanjang perjalanan Terra melihat pohon sakura dengan bunga-bunga cantik yang mulai bermekaran.


"大阪マダムテラへようこそ


Ōsaka madamutera e yōkoso!" (selamat datang di Osaka, Nyonya Terra!) sambut para petugas kondominium.


"ようこそありがとうございます


Yōkoso arigatōgozaimasu," (Terima kasih atas sambutannya,) sahut Terra.


"Palidato bosaimas!" sahut Rion ikut-ikutan sambil menunduk.


"


ああ、あなたはどれくらいかわいいですか、また何とかわいい子供ですか


Ā, anata wa dore kurai kawaīdesu ka, mata nanto kawaī kodomodesu ka," (ih lucu banget sih lu anak mana cakep lagi,) bisik para gadis-gadis yang bekerja di kondominium tersebut.


"マダム、あなたのユニットに配達させてください


Madamu, anata no yunitto ni haitatsu sa sete kudasai," (mari Nyonya, saya antarkan ke unit anda,) ajak pegawai yang menjemputnya tadi.


Mereka semua pun mengikuti. Menaiki lift menuju lantai tujuh belas. Hanya sepersekian detik mereka sudah sampai.


Ting! pintu lift terbuka. Terra dan yang lainnya ikut. Mereka cukup terkejut karena langsung mendapat pintu masuk. Bukan koridor menuju unit mereka, seperti yang mereka ketahui.


Karyawan itu membuka pintu memakai nomor sandi. Lalu menggesek kartu akses masuk.


Mereka masuk unit yang begitu mewah. Ada beberapa ruangan di dalam. Pegawai itu menjelaskan apa saja fasiltas yang didapat Terra.


Ada enam kamar tidur dengan tiga kamar tidur utama dengan spot terbaik langsung menghadap pemandangan yang menakjubkan. Balkon luas dengan kolam renang di sisi kiri. Tempat Terra bersisian dengan tebing yang hijau dengan daun rambat dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning.


Terra melihat kamar utama yang menunjukan spot pemandangan menakjubkan. Jendela lebar anti peluru. Bangunan yang diklaim anti gempa itu benar-benar luar biasa. Kasur super lux size. Sangat indah dan nyaman..


"管理人は毎朝来ます。現地時間の7管理人は毎朝来ます。現地時間の7時。


"Jangan khawatir mereka tidak akan datang jika anda tidak ingin ada petugas kebersihan datang,'' lanjutnya tiba-tiba berbahasa Indonesia.


"おやおやあなたは本当にインドネシア語を話しますか


Oya oya anata wa hontōni Indoneshia-go o hanashimasu ka?" (astaga, apa anda benar-benar bisa berbahasa Indonesia?) tanya Terra terkejut.


"Bisa tapi tidak banyak. Lumayan lah," jawab karyawan tersebut.


"Oh ya. Ini adalah surat-surat kepemilikan atas unit kondominium ini," ujarnya lagi tiba-tiba menarik laci dan menyerahkan surat-surat.


Terra bingung. Ia pun bertanya, apa benar itu miliknya. Karyawan tadi menyuruh Terra mengecek keaslian surat-surat itu. Semua sah di atas notaris. Terra mengucap syukur.


Karyawan tadi pun pergi. Terra tidak ingin ada petugas kebersihan datang untuk membersihkan unit ini. Haidar dan anak-anak tengah menikmati pemandangan yang menakjubkan luar biasa itu. Para pengawal juga tengah mengecek semua keamanan.


Budiman memindai kamera pengawas melalui BraveSmart ponsel miliknya. Ia hanya mengecek. Apakah ponsel canggih ciptaan Darren mampu menembus keamanan negeri man canggih ini. Budiman cukup terkejut ketika ponsel itu ternyata bisa menembus data keamanan seluruh kondominium. Ia memberi tahu rekannya untuk mengecek setiap sudut. Memblok beberapa kamera pengintai yang dianggap melanggar privasi.


"Tuan muda. Saya kurang paham dengan sistem ini. Saya memblok beberapa kamera pengawas di sini. Tapi hanya dalam. jangka waktu beberapa detik, karena itu kembali berfungsi," ujar Budiman bertanya.


"Ah. Tunggu sebentar," Darren mengambil tasnya di dalam kamar.


Lalu ia kembali sambil membawa ponselnya. Ia mengecek. Sedikit berpikir. Lalu ia pun bisa menemukan solusinya. Setelah beberapa saat. Darren sudah mengunci kamera pengawas itu selama mereka ada di tempat ini.


"Jadi gini Om. Kalau nanti ke luar negeri. Om hanya perlu ijin dari pusat sebagai antisipasi. Om bisa pakai ikon ini," jelas Darren.


"BraveSmart ponsel ijinnya sudah mendunia kok. Darren waktu pertama bikin sudah mengantisipasi. Karena takut ada korban penculikan yang dibawa hingga ke luar negeri," jelasnya lagi.


Budiman mengangguk mengerti. Ia pun kembali mengecek poin-poin yang menurutnya mencurigakan.


"Mama, ini indah syekali," puji Lidya menatap pemandangan.


"Iya, sayang. Memang sangat indah," sahut Terra.


"Mama, Ion emba suta tindal pi simi!' sahut Rion dengan mencebikkan bibirnya.


"Loh kok nggak suka. Ini kan pemandangannya indah," ujar Terra.


"Ion emba bica balasanya. Apa itu banat tudasai, Anata no. boniciwa, apidato bosaimas. Ion emba melti, Mam," keluhnya.


Terra dan Haidar hanya tersenyum. Ia menciumi bayi itu gemas.


"Nggak apa-apa. Kita nggak tinggal lama kok di sini. Hanya berlibur saja. Nanti, sore kita lihat pertandingan sumo di area olah raga," ajak Terra.


"Pumo?" tanya Rion dengan mata bulat.


"Su mo, sayang atau gulat ala Jepang," ralat Terra.


"Bulat?" sahut Rion.


"Gu lat!' ralat Terra.


"Pu lat!'' ujar Rion mengikuti perkataan ibunya.


bersambung.


oke terserah deh ...


next?