TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AKSI SELENA



Selena Wijaya, dua puluh lima tahun. Seorang designer perhiasan cukup terkenal di kota M. Satu outlet perhiasan miliknya selalu dipenuhi pembeli dari kalangan berduit.


Karya-karyanya selalu mejeng di iklan, atau tangan-tangan para pesohor negeri. Baik itu artis papan atas atau istri para pejabat tinggi negara.


Harganya yang terbilang cukup fantastis. Membuat perhiasan buatannya menjadi bahan perbincangan para sosialita.


Satu harga perhiasan sederhana saja bisa membeli satu unit motor matic. Bagaimana dengan harga satu perhiasan yang ber-design khusus, atau bisa memesan lebih khusus lagi dan hanya ada satu-satunya?


Nama Selena Wijaya juga tak asing bagi para pebisnis. Selain, wajahnya yang cantik dengan body bak model. Wanita itu sering wira-wiri bergandengan dengan beberapa pria pebisnis tampan.


Namun, tak satu pun berakhir ke jenjang lebih serius. Akhir cintanya pasti kandas begitu saja.


Wanita ini sedang membaca laporan tentang gadis bernama Terra Arimbi Hudoyo. Hanya sebuah artikel penuh dengan prestasi gadis itu.


Selena sedikit terperangah dengan keberhasilan gadis itu, membangun sebuah perusahaan bergerak dalam bidang cyber.


Walau sedikit membantah semua berita yang ia dapatkan. Selena merasa ia akan mendapat lawan yang tak bisa dianggap remeh.


"Tidak-tidak. Ia tak sehebat itu. Semua berita ini pasti rekayasa. Mana ada anak gadis sebelia dia mampu membangun sebuah perusahaan menjadi sebesar ini," ucapnya penuh ketidak percayaan.


Ia menggeleng kuat dan membantah habis-habisan dalam hatinya. Ia membangun rasa percaya diri tinggi. Walau sekarang cover majalah yang dipegang, memperlihatkan kecantikan alami Terra yang luar biasa.


"Dia mirip sekali dengan mendiang Ayahnya, Ben. Pria itu memang berbeda, aku tak mampu meraih pria itu," ujarnya bermonolog.


"Gadis ini. Pasti menyukai hingar-bingar. Biar bagaimana pun, ia baru berusia remaja. Foya-foya adalah gaya hidup remaja putri kaya raya jaman sekarang," ucapnya berasumsi.


"Terlebih ia pemilik perusahaan yang beromset triliunan dolar. Dia pasti pencinta klub malam," ucapnya lagi-lagi berasumsi sendiri.


Sedangkan gadis yang tengah dibicarakan kini sedang berada di rumah, bercanda ria dengan tiga anaknya.


Rion yang selalu berhasil membuat semua orang tergelak dengan kata-kata yang salah. Bayi montok itu kembali ingin bernyanyi lagu ciptaannya sendiri.


"Pelsama belamai tita peltua ... atu man tamu pinca sapu tanan ...."


Ah ... entah apa lagi kata-kata bayi menggemaskan itu. Terra sampai lemas menahan tawanya. Gadis itu hingga berbaring di lantai beralas karpet tebal bergambar Miki mouse. Rion menindih tubuh ibunya sambil marah-marah karena tidak bertepuk tangan karena ia berhasil menciptakan sebuah lagu untuk ibunya.


"Mama, penapa pelepuk panan!" murkanya sambil melompat ala smackdown dan langsung menindih tubuh Terra.


"Ampun Baby ... ampun," ucap Terra lirih.


"Ion pudah manyi badus-badus!" ujarnya kesal.


"Oke-oke. Mama bangun dulu," ucap Terra menyerah.


"Bacacih ... bacacih," ucapnya.


"Terima kasih, sayang. Bukan bacacih," ralat Terra.


"Belima tasih?"


"Terima ...," Terra meminta Rion untuk mengikuti perkataannya.


"Pelima ...."


"Te ...," ralat Terra.


"Be ...," saut Rion.


"Te," lagi-lagi Terra meralat ucapan Rion.


"Udah syih Ma. Baby kan baru satu tahun, nanti dia bisa sendiri," ujar Darren membela adiknya.


Menurut pria kecil itu percuma, adiknya diajari berbicara. Toh, Rion masih terlalu belia untuk bisa mengucap kata-kata dengan fasih.


"Iya, sayang. Mama hanya gemes aja," ujarnya kini menggelitiki Rion dengan ciumannya.


Bayi itu tergelak. Lidya juga mau digelitiki seperti adiknya. Ia pun menyerang Terra dengan pelukannya. Terra pun memberinya ciuman bertubi-tubi hingga terdengar gelak tawa dari bibir mungil gadis kecil itu.


Budiman yang mendengar gelak tawa dari dalam rumah, hanya tersenyum senang. Pria itu berdoa agar trauma yang dialami oleh anak-anak tak berdosa itu segera hilang.


Sedang di tempat di mana Selena berada. Gadis itu sedang menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Terra yang ia yakini sedang berada di klub malam.


Sayang, tak satu pun anak buahnya dapat menemukan sosok yang dicari oleh atasannya.


Selena cukup bingung. Jika tidak ada di klub, kemana gadis itu menghabiskan malamnya.


"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri. "Tidak mungkin dia ada di rumah seharian kan?"


bersambung.


kamu nggak tau siapa Terra, Selena!


coba tanya Readers deh. pasti mereka tahu kebiasaan Terra menghabiskan malamnya.


next?