TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN ROMMY



Terra mendapat laporan jika gerbang datanya ingin dimasuki beberapa akun hacker. Wanita itu hanya menggaruk kepalanya.


"Mereka itu, mikir normal apa nggak ya. Kan akun mereka yang jebol kalau memaksa masuk dataku," keluhnya.


"Benar, Nyonya. Padahal jika kulihat akun-akun yang menyerang bukan akun sembarangan, mereka sudah malang melintang di dunia cyber," sahut Gunawan, kepala divisi IT perusahaan PT Hudoyo Group.


"Nyonya, ini ada penyusup dari luar, sepertinya ia ingin masuk data kita dengan akun ganda!' salah seorang IT tiba-tiba berteriak.


Terra melangkah ke kursi utama. Menatap layar di mana dua buah akun terlihat memasuki lajur data. Terra menyunggingkan senyum.


"Jauhkan jari kalian ke keyboard. Biar Te, yang hadapi dia," titah Terra tenang tapi mengandung unsur ketegasan.


"Kau ingin menantang atau menjajal kemampuan Mama sayang?' gumam Terra melihat akun yang bergerak masuk.


Terra membakar akun kloning itu. Sepertinya akun itu belum menguasai apa yang ingin ia lakukan. Sepak terjangnya masih mentah dalam dunia hacker. Gerakan akun itu terbaca oleh Terra bahkan gerak tipunya.


"Kau harus masih banyak makan asam garam, sayang," gumam Terra lagi.


"Maafkan Mama. Akun kebanggaan mu harus mati. Tapi, tidak apa-apa. Itu akan memberi pelajaran bagimu, nantinya," sahut Terra kemudian menyelesaikan tugasnya.


Sedangkan di tempat lain. Darren yang iseng ingin memasuki data perusahaan ibunya, sangat terkejut. Semua tameng yang ia buat hancur sebelum dirinya memasuki jalur. Bahkan gerakannya bisa terbaca. Akun kloningnya terbakar. Lalu tak lama akun utama miliknya pun mati.


Akun hacker pertama milik Darren musnah. Pria kecil itu mencoba membangkitkan lagi data-data yang ia simpan. Sayang, semua usahanya sia-sia Darren menghela napas menyesal. Akun yang ia buat lebih satu minggu itu musnah tak tersisa.


"Mama memang hebat. Aku mesti banyak belajar dari Mama," ujarnya memuji keahlian ibunya.


Kriiing! Bunyi bel tanda masuk berbunyi. Ia bergegas memasukan ponselnya ke ransel. Duduk dengan tenang dan menunggu gurunya masuk.


Sedang di perusahaan yang dipimpin Terra hanya tersenyum bangga. Darren mampu masuk sebanyak dua persen ke data perusahaannya dalam waktu tiga menit. Sedangkan untuk hacker lain mereka tidak bisa menyentuh permukaan gerbang karena hancur duluan. Ia sangat yakin kegeniusan putranya itu tidak bisa dianggap remeh.


"Aku harus membimbingnya agar tak salah jalan nantinya," gumam Terra penuh kekaguman.


Hari ini, Terra kembali menjalani sebuah kerja sama dengan pihak perusahaan Eropa milik kakeknya. Bart mengirimkan para ahli untuk belajar.


Selain perusahaan Eropa. Negara C juga menjalin kerja sama. Rommy memaparkan kepuasan mereka dalam kerja sama ini. Di negara C banyak berjamur perusahaan pengaman data seperti milik Terra. Tetapi hanya perusahaan Terra yang sangat bagus kualitasnya.


Jam sudah menunjukkan waktu pulang. Rommy dan Aden menyatakan ada jadwal rapat jurnal di Osaka, Terra harus ke sana.


"Emang nggak bisa Kak Rom atau Kak Aden aja?' pinta Terra.


"Maaf, Te. Mungkin kau akan ditemani oleh Aden. Aku mau ambil cuti," jawab Rommy.


"Cuti, ngapain?' Terra sedikit tak rela Rommy ambil cuti.


"Aku akan menikah sebentar lagi. Emang kamu aja yang boleh!' seru Rommy sambil memutar mata malas.


Aden terkekeh sedang Terra hanya tersenyum kikuk. Ia pun mengijinkan tangan kanannya itu mengambil cutinya.


"Kak Aden tidak berencana untuk menikah secepatnya kan?" tanya Terra sambil menyipitkan matanya menyelidik.


"Tenang, Nona. Saya masih betah jomlo. Ibu saya masih butuh perawatan dan itu memerlukan biaya yang cukup banyak," jawab Aden tenang.


"Ah, iya. Bagaimana pencangkokan ginjalnya, apa berhasil?' tanya Rommy yang sedikit tahu keadaan ibu dari asistennya itu.


"Ibu tidak mau. Dokter hanya mengangkat satu ginjalnya yang sudah tidak berfungsi itu," jawab Aden tetap tenang walau ada kilatan sedih di matanya.


"Aku akan menjenguk Ibu nanti. Hari ini adalah giliranku menjaga Ibu," ujarnya kemudian.


"Te, nanti akan datang mengunjungi Ibu, Kak," sahut Terra.


Aden mengangguk. Rommy menepuk bahu asistennya, pria itu salut kan bakti Aden pada ibunya.


"Ibu," sapa Terra setelah mencium punggung tangan wanita itu.


Sintia tersenyum menatap sosok cantik di hadapannya. Pria di samping Terra melakukan hal sama seperti Terra, istrinya.


"Apa kabarmu, Nak?" tanya Sintia dengan suara lemah.


"Alhamdulillah, Bu. Apa kabar, Ibu?" tanya Haidar lalu mengusap tangan Sintia.


"Aku baik-baik saja, alhamdulilah," jawab Sintia.


Mereka pun mengobrol ringan. Sintia menceritakan masa kecil Aden. Pria itu hanya bisa menunduk malu ketika kenakalannya diumbar oleh ibunya.


Sedangkan di tempat lain. Sofyan tengah membantu putranya mengurusi pernikahan. Pria tampan itu sudah melamar kekasih yang telah ia pacari selama dua tahun belakangan.


Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Persiapan pernikahan sudah mencapai enam puluh persen. Besok Rommy dan calon istrinya akan melakukan fitting baju pengantin.


"Bagaimana, Nak. Apa kau sudah siap menjadi seorang suami nantinya?' tanya Sofyan terharu.


"Inshaallah, Pa. Walau belakangan ini, perasaan was-was dan takut menguasai. Tapi, aku yakin dengan keputusanku," jawab Rommy tegas.


"Baik lah, Nak. Papa percaya padamu. Bismillah, yakinkan dirimu," ucap Sofyan kemudian.


Rommy mengangguk. Betapa berat melepas putra semata wayangnya untuk menikah. Tapi, memang sudah sewajarnya ia melepas putranya untuk melangkah ke jenjang yang serius.


'Dulu, aku bermimpi Terra adalah jodohmu. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain. Kau bukan jodoh Terra,' gumam Sofyan dalam hati.


Persiapan pernikahan sudah sembilan puluh persen usai. Undangan pernikahan pun telah disebar. Sebuah gedung serba guna menjadi perhelatan akbar pernikahan tangan kanan dari CEO PT Hudoyo Group.


Terra memberi selamat pada sepasang yang tengah berbahagia ini. Terra menjadi saksi ketika Rommy menyatakan cinta pada gadis yang kini bersanding dengannya itu..


"Mau nggak jadi pacar gue!' tembaknya waktu itu.


Dessy Aprilia Yuswandari, dua puluh lima tahun. Gadis yang bekerja di sebuah perusahaan ritail yang tidak jauh lokasinya dari perusahaan Terra.


"Dih, nembak cewe yang romatis napa!' sindir Terra waktu itu.


Bahkan Terra menjadi tempat curhat keduanya jika sama-sama ngambek. Putus nyambung mewarnai perjalan cinta keduanya. Terra menjadi saksinya betapa kacau dan kusutnya Rommy ketika putus cinta dan betapa bahagianya Rommy ketika jalinannya utuh kembali.


"Selamat ya, Kak. Semoga sakinah mawadah warahmah until jannah," doa tulus dari Terra.


"Aamiin. Makasih ya, Te," ujar keduanya dengan senyum bahagianya.


"Selamat ya, Rom. Selamat berjuang nanti malam!' sahut Haidar sambil menaik turunkan alisnya.


Keduanya langsung merona. Tetapi, Rommy membisikkan sesuatu pada Haidar dan membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Kalau begitu selamat menunggu hingga satu minggu lagi, ya!' ledek Haidar.


Terra yang sudah tidak sepolos dulu, hanya bisa menegur suaminya. Wajahnya pun tak kalah merona bersama sepasang pengantin yang berbahagia. Setelah memberi pelukan hangat pada Sofyan. Terra dan suami pun turun menikmati hidangan.


bersambung.


wah ... selamat menempuh hidup baru ya Rom!


eeuum maksudnya nunggu seminggu lagi Ituh apah yah? Othor kan masih volos. 🤭


next?