
"Hai sayang, kita bertemu lagi," sapa Sugeng dengan kilatan penuh *****.
Terra merasakan aura kelam. Bulu kuduknya seketika meremang. Ia merasakan dirinya dalam bahaya.
Gadis itu menghela napas panjang. Ia menetralkan degup jantungnya yang berdetak cepat. Gadis itu belum pernah merasakan tekanan seperti ini sebelumnya. Gadis itu harus setenang mungkin agar pria dihadapannya itu tidak merasa memenangkan situasi.
"Apa mau mu. Kita tak memiliki urusan," ujar Terra setenang mungkin. Padahal bibirnya sedikit bergetar mengatakan hal barusan.
Pria itu tertawa. Seragam cleaning servisnya ia buka. Pria itu bertelanjang dada. Ia melakukan gerakan yang menjijikan dihadapan gadis yang selalu memenuhi imajinasi liarnya.
Pria itu memperlihatkan otot-otot di perutnya juga dadanya. Mengusap lembut bibirnya sendiri yang berwarna hitam karena nikotin. Sungguh seperti pria yang sedang merayu wanita pengincar *****.
Terra bergidik. Ia meremang, nyaris saja ia mengusap tengkuk. Namun sebisa mungkin ia menahan semua laju emosi. Ia tak boleh gegabah. Pria dihadapannya tengah memancing reaksi.
Gadis itu memutar otak cepat. Ia tak mau berlama-lama berurusan dengan pria mesum yang kini tengah menggodanya itu.
"Apa yang kau pertontonkan? Badanmu yang jelek itu?' ledek Terra.
Sugeng menghentikan gerakannya. Pria itu menatap lekat netra coklat terang milik gadis itu dengan tajam. Sejurus kemudian ia menyunggingkan senyumnya.
Pria itu melepas sabuk yang mengikat celananya. Lagi-lagi dengan gerakan menjijikkan. Menunjukkan tonjolan di tengah celananya. Pria itu benar-benar melecehkan perempuan yang berdiri dihadapannya itu.
Sungguh harga diri Terra tercoreng melihat semua kelakuan Sugeng. Pria itu berhasil membangkitkan emosi dalam diri Terra. Gadis itu mengepalkan tangannya. Menahan deru nafas yang mulai tercekat di tenggorokan.
"Tidak ada yang menarik," sela Terra enteng mencibir pertunjukan di depannya setelah berhasil menenangkan dirinya.
Gadis itu berbalik sambil membenahi letak tas ranselnya di pundak. Sugeng marah bukan main. Aksinya untuk memancing gadis itu gagal total.
Pria itu tidak melihat gadis itu memandangnya dengan gairah sesuai dengan keinginannya.
"Kau penyuka sesama jenis ya,?" tuduhnya cepat.
Terra tak menggubris. Ia melangkahkan kakinya. Sudah cukup baginya untuk bermain-main.
"Apa kabar ular yang berada dalam rumahmu. Apa ia berhasil masuk dalam lubang dirimu. Pasti kau menjerit nikmat. Aku juga memiliki ular dan kau akan lebih merasa kenikmatan lagi," ujar Sugeng dengan nada serak.
Seumur hidupnya, ia diajari oleh kasih sayang oleh sang ibu. Tidak diajari kebencian oleh wanita itu. Terra mengingat pesan-pesan sang ibu.
"Jangan membenci kejahatan siapapun. Mereka jahat, karena tidak ada yang percaya jika ia adalah orang baik," pesan Aura.
"Jika kita balas dengan kejahatan. Apa bedanya kita dengan orang itu," pesannya lagi.
"Tapi kita akan terus diinjak jika tidak melawan," protes Terra waktu itu.
"Alam akan menghukumnya secara perlahan. Melawan lah jika ia menyakitimu. Tapi, jangan membencinya setelah itu," jelas sang ibu.
Kini di belakangnya berdiri orang yang menyakiti orang yang paling ia sayangi, yaitu putrinya. Terra tak bisa tinggal diam. Ia tidak seperti ibunya yang diam ketika terus disakiti.
Tubuh gadis itu kembali berbalik. Matanya melebar ketika melihat pria itu hanya mengenakan CD-nya saja. Dengan tonjolan besar tercetak jelas. Bahkan terlihat ujungnya.
Gadis itu menitik air matanya. Ia benar-benar sudah merasa dihina habis-habisan oleh pria itu. Gadis itu berteriak histeris.
"Mas Haidar ... Kak Budi ... tolong!"
Sugeng tertawa, ia berhasil melukai gadis itu. Ia berjalan mendekat. Tubuh Terra bergetar hebat. Sungguh, ia belum kuat untuk melawan pria yang telah menemukan titik terlemahnya.
Terra menahan nafas. Mengatur semua emosi juga ketakutannya. Ia harus melawan. Harus!.
Sugeng makin mendekat dengan gerakan seksi.
"Terra ... sayang ... aahh!" panggilnya mendesah.
Terra memejamkan mata berusaha menetralkan degup jantung juga nafas yang mulai sesak. Gadis itu mulai lemah.
bersambung.
berhasil kah Terra menghadapi ketakutannya?
next?