
Hari ini perusahan Terra dan perusahaan Haidar bertemu. Melakukan meeting antar perusahaan meneruskan kerjasama. Gabriel selaku pengganti CEO terus mengikuti Terra kemanapun wanita itu berada.
Banyak ide dari pria itu yang masuk dalam sebuah pengembangan proyek. Bahkan penjelasannya dalam berbagai rapat dan jurnal saham, sangat bagus sekali. Terra puas dengan kinerja Gabe selama ini. Pria itu pun sudah siap menggantikan Terra menjadi CEO.
Haidar datang bersama dengan Bobby asisten pribadinya. Pria itu juga membawa satu wanita cantik, Terra menyipitkan mata.
'Itu bukan Kak Wanda, sekretaris Mas Haidar. Apa dia sekretaris baru?' tanya Terra dalam.hati.
Terra tak ambil pusing. Ia tetap berlaku profesional selama bekerja. Ia pun tak pernah mencampuri urusan perusahaan suaminya itu.
Berkas kerjasama dilayangkan. Terra membaca semua poin-poin yang menjadi acuan dalam kerjasama kali ini. Sebuah lanjutan kerjasama pembelian bahan mentah ponsel.
Mereka akhirnya menjalin kembali kerjasama. Bahkan poin-poin baru tentang kenaikan harga bahan mentah ponsel pun disepakati. Gabe pun keluar, membawa semua berkas. Pria itu akan menyusun lagi sebuah kerjasama di bidang cyber dipertemuan tiga jam mendatang.
"Pak, selama empat tahun kerjasama dengan perusahaan Hudoyo. Keuntungan kita kok nggak pernah kelihatan ya?" tanya sekretaris baru itu.
"Apa kamu nggak lihat nominal keuntungan pertahunnya selama ini?" tanya Terra langsung.
"Lagi pula, kerjasama ini hanya kerjasama jual beli. Bukan kerjasama penanaman modal!" sergah Terra langsung.
Haidar tampak memerah, ia sangat malu dengan sekretaris yang ia bawa ini. Terra menatap suaminya dengan pandangan heran.
"Mana Kak Wanda?" tanyanya.
"Ini adiknya Wanda. Dia resign satu bulan lalu," jawab Haidar.
"Astaghfirullah. Kok, nggak diinterview dulu? Apa tadi sudah diberi tahu? Apa dia nggak baca surat kontrak yang dia pegang?" cecar Terra beruntun.
Haidar mengurut pelipisnya. Ia hanya diam sedang Bobby menyuruh sekretaris itu ke kantor menggunakan taksi. Wanita bernama Sesil itu hanya bergeming di tempatnya.
"Apa aku perlu menyeretmu Sesil?" ancam Haidar.
"Tapi, Mas kan udah janji sama Kak Wanda kalau aku dikasih kesempatan. Mas juga tahu kan kemampuanku!"
Terra membelalakan mata. Haidar menatap istrinya, lalu menggeleng. Terra menaikan alis matanya sebelah. Bobby ingin menyeret wanita itu.
"Tunggu Kak Bobby!" seru Terra.
"Sejak kapan sekretaris lancang memanggil CEOnya Mas?" tanya Terra.
"'Kamu ikut mata pelajaran manners nggak? Walau pun kau sangat akrab bahkan CEO itu suamimu. Kami dilarang keras selama jam kerja memanggil atasan kamu, Mas atau Kak!" tegur Terra pedas.
Sesil terdiam. Tadi ia hanya keceplosan saja, ingin mengakrabkan diri dengan boss tampannya itu. Padahal di kantor, Haidar tak pernah berinteraksi dengannya secara pribadi. Bobby lah yang selalu menyuruh gadis itu atas perintah Haidar.
"Saya ... saya ...."
Sesil mengangguk. Terra menatap tampilan gadis itu. Rok span di atas lutut lima senti, memakai sarung kaki tipis warna hitam. Terra yakin jika gadis ini memakai g-string untuk menutup ***********. Lalu ke bagian atas, memakai blazer ketat melapisi kemeja putih dengan kancing yang sengaja tak dikait dua buah. Terra lagi-lagi yakin, wanita itu tak memakai bra. Terlihat sekali pucuknya yang tercetak.
"Kau mau menggoda siapa?" Sesil menggeleng.
Terra sangat yakin, suami juga Bobby bukan pria cassanova yang suka dengan wanita-wanita seksi. Bahkan Terra tahu calon istri Bobby yang manis berhijab itu.
"Bobby, bawa dia ke kantor. Pastikan dia tidak lagi berada di ruangan ku besok, pecat dia. Aku rasa Wanda juga marah jika adiknya tak berkompeten kerja," titah Haidar datar.
"Mas ... eh Pak nggak bisa gitu dong!" teriaknya memprotes. "Mas eh Bapak sudah janji untuk mempekerjakan saya!"
"Saya tidak pernah berjanji.Sesil. Dari kemarin kamu mempermalukan saya di depan pemimpin perusahaan lain. Kinerja mu buruk!" sentak Haidar kalap.
"Bobby!" asisten itu pun menyeret Sesil dari ruangan meeting.
Gadis itu berteriak-teriak. Terra mengkodekan Budiman untuk membantu Bobby menyeret gadis itu. Budiman pun langsung melaksanakan titah atasannya.
Haidar menyenderkan bahunya ke kursi. Ia memejamkan mata. Terra yakin masalah suaminya bukan hanya itu saja. Tetapi banyak.
"Mas," panggilnya.
Wanita itu mendekat, lalu duduk dipangkuan sang suami. Haidar mengerang. Ia sangat sensitif jika istrinya menggoda seperti itu.
"Sayang," panggilnya dengan suara parau.
"Apa kita mau ke kamar, sayang?" ajak Terra menggoda suaminya.
"Kau yakin?" Terra mengangguk.
Wanita itu menarik interkom. Memencet tombol.
"Kak Rom. Aku bersama suamiku hingga tiga jam ke depan. Jangan ganggu!" titahnya.
Haidar mengangkat Terra ala pengantin. Mereka masuk ke sebuah ruangan khusus. Melepas cinta dalam gairah. Sepasang suami istri itu pun melakukannya dengan sangat puas karena jauh dari pendengaran putra dan putri mereka dir rumah.
Sedangkan Rommy yang mendapat perintah demikian hanya bisa pasrah. Istrinya baru melahirkan seorang putri cantik. Ia harus berpuasa selama empat puluh hari ke depan.
"Hah ... sabar ... sabar."
Bersambung.
aseeek puas-puasin deh tuh ... Sesil? dadah!
next?