TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GALA DINNER 2



Malam makin larut, acara baru setengahnya. Sedang, baik Lidya dan Darren mulai mengantuk. Sedang Rion sudah tidur dalam gendongan bik Romlah.


Terra bermaksud undur diri terlebih dahulu, karena ketiga anaknya tertidur. Sayang, pihak pengelola acara melarang Terra pulang. Mereka menyarankan agar Terra membuka kamar untuk ketiga anak dan juga pengasuhnya agar bisa beristirahat.


Setelah menimbang-nimbang. Akhirnya gadis itu menyetujuinya. Terra membuka kamar suite room dan minta double bed untuk bik Romlah.


Setelah mengantarkan pengasuh dan ketiga anaknya ke kamar, gadis itu kembali ke acara pesta.


Dalam acara itu, Terra berkenalan dengan banyak pebisnis handal. Bahkan diantaranya mereka pernah bertemu ketika makan siang di kantin kantor gadis itu.


Terra yang sedikit introvert hanya diam, jarang menanggapi perbincangan. Rommy yang mengetahui sifat pendiam CEO nya selalu menengahi pembicaraan.


Ada banyak ide juga solusi yang Terra berikan ketika perbincangan. Gadis itu memang diam, tapi ketika berbicara, malah keluar ide yang sangat brilian. Semua terkagum melihat kecerdasan gadis itu.


"Ayo kita bersulang untuk kesuksesan bersama!' ajak salah satu pebisnis muda yang tampan.


Semua mereguk sampanye, hanya Terra yang mereguk orange juice.


"Kau harus belajar minum Te. Seorang CEO walau wanita, harus melayani minum para koleganya!" saran salah satu pria tampan yang juga merupakan CEO.


"Usiaku belum boleh melakukan itu," jawab Terra gamblang.


"Hahaha ... oh iya ya, kamu kan masih di bawah umur," ujarnya sambil terbahak.


"Halo semuanya. Boleh gabung?" tiba-tiba sebuah suara lembut menyeruak.


"Oh ... hai, silahkan," ujar Bimo, ia juga seorang pebisnis muda yang handal.


Sevriana bergabung dengan Terra dan para pria tampan. Dengan senyum manis, gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Hai, aku Sev, lengkapnya Sevriana. Bolehkah saya mengenal para pria tampan ini?" tanya Sev menggoda.


Semua mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Bahkan Haidar, pria itu masih mengutamakan kesopanan. Andai jika pria itu tahu siapa Sev. Mungkin, Haidar enggan berkenalan dengan gadis manis itu.


""Terra!" ujar Terra memperkenalkan dirinya pada Sev dengan senyum indahnya.


"Oh kau Terra yang CEO termuda itu ya?' tanya Sev dengan antusias.


Terra hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Sev memaki dalam hati.


"Aku nggak nyangka, jika usiamu baru delapan belas tahun," ujar Sev dengan nada ragu.


Terra tak ambil pusing dengan perkataan Sev. Ia hanya terus memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Kenapa, apa kau bosan dengan pesta ini?' tanya Sev yang melihat Terra gelisah.


"Tidak, aku hanya mengkhawatirkan anak-anak ku!' jawab Terra.


"Oh ... lagian, kenapa menyusahkan diri sendiri sih! Ngajak anak kecil datang ke pesta!" sindir Sev.


"Bukan urusan mu!" balas Terra acuh.


"Saya rasa, anda tidak perlu tahu itu," timpal Terra sedikit risi dengan pertanyaan Sev..


"Usia muda, tapi sudah punya anak. Siapa tuh bapaknya?' lagi-lagi Sev menyindir Terra.


Terra hanya mengendikkan bahu, acuh. Ia tak perlu repot-repot menjelaskan siapa ketiga anaknya.


"Kamu hamil duluan ya!" terka Sev memancing emosi Terra.


Sayang. Terra yang berotak genius tak menanggapi ucapan gadis yang sepertinya menjadikan ia rivalnya.


Tidak mendapatkan respon baik dari Terra, malah membuat Sev makin emosi. Bekali-kali ia melontarkan perkataan yang bisa menyudutkan Terra. Tapi, tak berhasil.


Maka dirinya beralih pada pria yang ada di sebelah Terra. Gadis itu memindahkan dirinya pada sisi kiri pria itu.


"Hai ... kamu Haidar kan?" tanyanya dengan senyum manis.


Haidar hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sev.


"Apa kamu, nggak ingat sama aku?' tanya Sev memancing memori Haidar tentang masa kecilnya.


Haidar sama sekali tidak menggubris gadis yang kini mulai merapatkan tubuhnya.


"Aku si gembul yang kau nyatakan cinta dulu!" ucap Sev lagi mengingatkan Haidar.


Haidar akhirnya menoleh. Pria itu memindai gadis di sebelahnya. Sev tersenyum sangat manis. Ia yakin, senyumnya itu bisa memikat Haidar.


"Ah ... itu kau?" tanya Haidar tak percaya.


Sosok gadis kecil yang bertubuh subur, melintas dalam ingatannya.


"Ya, aku ingat. Kau dulu gembul, cengeng dan ingusan itu kan?" terka Haidar.


Wajah Sev tentu saja merona malu setengah mati. Hanya ingatan buruk tentang dirinya di dalam otak Haidar.


"Iya, biar gendut, cengeng dan ingusan gitu. Tapi, kamu malah menyatakan cinta padaku," sungutnya sambil cemberut manja.


"Iya, aku ingat. Walau masa itu aku nggak tahu apa itu cinta masih usia lima tahun," jelas Haidar.


Sev langsung bungkam. Memang usia mereka saat itu masih terlalu kecil untuk mengenal kata cinta.


Tak ada percakapan lagi. Sev padahal ingin Haidar mengingat masa-masa kecilnya. Tapi, tampak wajah pria itu enggan malah risih melihat Sevriana menempel terus padanya.


Sedangkan Terra. Gadis itu acuh. Tidak peduli sama sekali.


bersambung.


next