TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DIBUANG



"Uhh ... di mana aku?" keluh Deborah ketika sadar.


"Halo Nona Vox selamat datang!"


Sosok wanita dengan arogansi kuat tengah duduk di kursi kebesarannya. Wanita itu menatap datar wanita yang tampak kebingungan.


"Siapa kau?!" bentak Deborah langsung menegakkan badannya.


Terra tersenyum sinis. Wanita itu berdiri lalu duduk di atas meja, memandang dingin dan menusuk pada wanita yang duduk ketakutan.


"Apa yang kau lakukan. Perbuatanmu ini kriminal!" bentak Deborah.


"Iya, jika kau seorang diplomat Nona Vox, tapi jika berada di tanganku, siapa pun yang mengusik keluargaku tidak ada hukum yang melarangnya!" tekan Terra.


"Kau siapa, aku akan melaporkanmu pada kepolisian internasional, menculik dan membuat warga negara asing ketakutan!" ancam wanita itu.


"Silahkan, jika kau masih diakui oleh negaramu, Nona Vox!" ujar Terra.


Wanita itu kembali duduk di kursinya. Deborah tak mengerti maksudnya.


"A-apa


maksudmu?"


Terra memperlihatkan data di komputernya pada Deborah. Ia sangat terkejut dengan data diri yang dibacanya. Padahal tidak ada satupun yang tau jika ia pernah berurusan dengan polisi karena kasus pencurian data perusahaan Starlight milik Demian. Kasus itu masih berlangsung selama Deborah tidak melakukan kejahatan.


"Tapi aku di sini bekerja!" bela wanita itu.


Terra mempelihatkan satu percakapan dan bukti pesan singkat wanita itu untuk menyakiti Lidya. Deborah yang meminta delapan pria anak buah Jordhan untuk menculik Lidya dan menyakitinya.


"Kau tau kau berurusan dengan siapa?!" bentak Deborah.


"Hanya nyamuk kecil di mata Dougher Young, Nona Vox," sahut Terra enteng.


Deborah langsung pucat. Ia memang sedikit tau siapa itu keluarga Dougher Young. Keluarga paling berkuasa di Eropa, bahkan kedudukan mereka di atas keluarga Starlight.


"Lidya itu adalah adikku, Nona. Dia adalah seorang Dougher Young," sahut Terra lagi.


Makin pucatlah Deborah. Wanita itu seperti menggali kuburnya sendiri.


"Kurasa kau tak mengindahkan keinginan ayahmu, agar kau bekerja secara serius dan tak mengacau Tuan Starlight," ujar Terra lagi.


"Tapi kau keras kepala," lanjutnya. "Untuk menghukum mu, akan kulakukan sesuatu agar kau jera, Nona!"


Deborah hanya diam. Ia tak tahu harus mengucapkan apa. Terra melihat komputernya lagi. Deborah menatap fotonya menjadi "Unknown Person". Terra menatap dingin wanita yang kini mulai kebingungan.


"Pergilah Nona, dan lihat apa yang akan terjadi padamu," usir Terra.


Deborah masih bergeming. Budiman masuk dan membungkuk hormat pada Terra. Pria itu menarik Deborah, sedikit menyeretnya dan melemparnya keluar dari perusahan Terra.


Deborah yang tak tahu dia ada di mana mencari ponselnya. Masih ada, bahkan uang dan dompetnya juga masih lengkap di tas Gucci-nya.


Ia mencoba menelepon Celia. Karena datanya sudah dihapus. Nomor yang ia pakai tak berfungsi. Bahkan gara-gara itu keberadaannya tercium oleh pihak yang terkait.


Deborah yang baru saja keluar dari halaman parkir perusahaan dan berusaha mencari taksi tiba-tiba didatangi orang-orang berseragam khusus. Rupanya mereka adalah petugas internasional yang menangani kedatangan orang asing.


Data Deborah dianggap Unknown Person. Wanita itu menyerahkan kartu identitas nya ketika berada di direktorat ambasador. Tidak ada satu negara yang mengakuinya.


"Saya adalah keluarga Vox!" pekiknya memberitahu.


"Maaf Nona. Data anda tidak sah jadi kami terpaksa membuang anda ke samudera lepas!" ujar petugas.


Sedangkan Celia sibuk menelepon nona mudanya. Setelah ia kehilangan Deborah ia meminta sekuriti untuk mencari nonanya lewat cctv.


"Anda datang sendiri, Nona. Tidak ada Nona lain selain anda ketika masuk!" jelas sekuriti.


Celia menangis sedih, ia kehilangan nona mudanya. Ia yakin ketika pulang tak membawa Deborah, ia akan langsung dipecat.


Kini Celia kembali ke kamar hotelnya. Ia menyusun semua bajunya juga baju nonanya. Beruntung mereka tidur berdua satu kamar. Besok ia harus ke bandara pagi-pagi untuk pulang ke Eropa.


Sedangkan di Eropa, George tampak gelisah. Masalahnya, saat dia memesan tiket untuk kepulangan Deborah dan Celia. Ia hanya bisa memesan untuk Celia saja.


"Maaf Tuan, data putri anda tidak bisa diakses untuk mendapatkan tiketnya," jelas petugas bandara.


"Apa? Bagaimana mungkin?" tanya George tak percaya.


Pihak bandara angkat tangan mereka hanya menjalankan tugas, untuk data yang tidak bisa diakses itu murni bukan kesalahan pihak bandara, karena memang data diri Deborah tidak bisa ditemukan, alias hilang.


Sedang kini Deborah hanya diam mematung. Ada beberapa orang yang juga dibuang ke laut lepas karena kejahatan mereka dan tidak ada negara yang mengakui. Semua di naikkan pada sampan masing-masing. Tanpa dayung sampan-sampan itu ditarik oleh speed boat hingga ke tengah lautan lepas. di sampan ada beberapa pisang dan buah juga air mineral dalam kemasan. Karena pakaian Deborah yang cukup terbuka, para petugas berbaik hati memberinya selimut dan gayung.


"Berdoalah, kalian hanya sebentar terombang-ambing di laut hingga negara mengakui kalian!" ujar salah satu petugas.


Matahari kini sudah terik. Deborah menangis dan merenungi apa kesalahannya. Ia benar-benar kapok.


"Ayah!" pekiknya.


Sedang di mansion Vox. George yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun. Miranda istrinya jadi ikut terbangun.


"Sayang, ada apa?" tanya sang istri khawatir.


"Hanya mimpi buruk sayang. Tidurlah kembali," ujar George menenangkan sang istri dan mengecupnya.


Pria itu pun turun dari ranjangnya. Mengambil air minum dalam picher yang tersedia tak jauh dari ranjangnya. Ia menegak habis minuman dalam gelas.


"Deborah ... putriku!" gumamnya dengan penuh kekhawatiran.


Dengan jelas sekali tadi ia melihat wajah anak perempuannya menatapnya penuh kedukaan. Memanggil-manggilnya.


Esok sorenya, Celia sudah tiba di bandara, Vox sudah menunggunya. Pria itu kini benar-benar tak kuasa menahan tangis. Ia melihat Celia turun sendirian.


"Tuan ... Nona menghilang, Tuan ... hiks ... hiks!"


George menguatkan dirinya. ia pun mengambil koper putrinya dan membawanya pulang ke mansion. Sedangkan Celia ia suruh istirahat beberapa hari.


Miranda melihat koper putrinya saja yang pulang langsung histeris. George memeluk istrinya.


"Tenang sayang .. tenang lah. Aku akan mencarinya di konsulat Indonesia-Eropa," ujar Goerge.


Miranda mengangguk. Ia menyerahkan semua pada suaminya. Pria itu pun menghubungi beberapa koleganya untuk meminta bantuan.


"Tolong saya. Putri saya menghilang di negara orang, bahkan data-data sudah terhapus," ujarnya meminta tolong.


Semuanya tak ada yang bisa menolong. Mereka hanya menyarankan George untuk mendatangi ambasador.


Sementara di lautan lepas. Deborah berjuang mati-matian mempertahankan hidupnya. Melewati ombak besar dan hujan yang tiba-tiba turun di mana dia harus menggayung air yang ada di dalam sampannya agar tak tenggelam.


Sedang di rumah sakit keadaan Putri mulai membaik. Ia sudah sadar setelah kritis selama dua hari. Lidya sangat bahagia melihat sahabatnya yang sudah sadarkan diri itu.


"Alhamdulillah ya Allah!"


Kembali ke Eropa, Goerge mendatangi ambassador dan meminta bantuan. Sayang, pihak ambasador tak bisa membantu banyak kecuali menyabarkan pria itu.


"Tuhan ... di mana Putriku?" gumamnya putus asa.


bersambung.


heeemmm.


next?