TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AKSI 2



Sean membeberkan beberapa bukti kecurigaannya. Para kepala divisi yang terlibat menelan saliva kasar.


"Kami melakukan pembengkakan produksi karena permintaan yang berlebihan!" sela kepala divisi membela diri.


"Tapi, neraca menjadi timpang. Buktinya semua kelebihan tak ada yang masuk di dana perusahaan!" sahut Sean sinis.


"Kau hanya anak kecil ... mana tau kau soal bisnis!" sela kepala divisi pengembangan.


"Jangan panggil aku anak kecil Paman. Ibuku sudah mendidikku semenjak dalam kandungan apa itu bisnis!" sahut Sean sinis.


"Bahkan di sini saya mendapat laporan dana mengalir di rekening pribadi anda Tuan Subagya!"


"Itu fitnah! Saya juga memiliki usaha sendiri!" teriak pria itu.


"Semenjak kapan anda punya usaha, dari mana kau bisa memiliki usaha sendiri?" tanya Rommy tak percaya.


"Jika itu memang dari usaha sendiri. Kenapa keuangannya semuanya berasal dari pembengkakan produksi?" sela Sean tak percaya.


Kepala divisi terdiam. Ia tak mampu membuktikan diri memiliki usaha sendiri. Semua data kekayaan para pemegang tampuk kepemimpinan berada di tangan perusahaan. Semua staf dan pekerja daftar kekayaan mereka di data oleh perusahaan.


"Saya akan serahkan ini pada divisi intelegen dan biarkan hukum berjalan!" tekan Rommy membuat keputusan.


Semua kepala divisi yang terlibat tertunduk lesu. Sudah tau akan konsekuensi hukum yang berlaku jika ketahuan berkhianat pada perusahaan. Tapi, iming-iming kekayaan yang melimpah terlalu melenakan mereka. Padahal perusahaan juga tak tinggal diam bagi mereka yang loyal pada perusahaan. Reward besar menanti. Tetapi, keserakahan lebih menguasai.


Sean menutup rapat dengan penyerahan penyelidikan pada pihak intelijen khusus. Mereka bergerak menyelidiki. Yang dicurgai langsung diberhentikan sementara dengan efek jera yang tak tanggung-tanggung. Semua fasilitas dan tunjangan ditarik.


"Kasihan anak istri yang tak terlibat harus ikut merasakan tindakan negatif dari kepala keluarganya!" sesal Jhenna.


"Mereka mana peduli, yang penting kemauan mereka terpenuhi. Tapi, giliran sudah seperti ini, mereka merasa dizolimi!" sahut Sean.


"Mestinya sebagai keluarga saling mengingatkan tindakan yang melawan hukum pasti tak akan bertahan lama. Tapi, mereka memilih untuk diam dan menikmati semua hasil korupsi," lanjutnya


Berita tentang pembengkakan produksi yang diselewengkan menjadi berita trendi semua portal berita. Para pebisnis geram luar biasa. Mereka padahal sudah merekrut orang-orang berkopenten tinggi. Tapi tetap korupsi sangat menggiurkan mereka.


"Apa sistem hukum yang kurang membuat jera?" tanya para pakar hukum.


Efek dimiskinkan masih sering diperdebatkan. Mereka masih bersiteru dengan hasil jerih payah yang selama ini dikumpulkan tidak harus semua disita demi masa depan keluarga yang ditinggalkan karena menjalani hukum.


Sean menulis petisi hukuman mati bagi par koruptor. Tapi, melihat negara tembok raksasa sudah melaksanakan hukuman mati bagi para koruptor tak membuat mereka jera.


"Hukuman dimiskinkan saja mestinya sudah membuat efek jera. Dicabutnya semua fasilitas dan tunjangan yang ada mestinya membuat mereka harus berpikir dua kali untuk berlaku curang!" seru salah satu pebisnis.


Rion menandatangi petisi hukuman mati bagi para koruptor, begitu juga Virgou dan Herman dua pebisnis ternama mendukung gerakan mati untuk koruptor.


Di gerbang utama perusahaan Terra para petugas keamanan dikirimi paket tanpa pengirim. Bungkusan biasa jadi sedikit mencurigakan. Para petugas langsung membongkar paket.


"Sean kau harus mati!"


Sebuah ancaman dari guntingan kertas koran dengan foto target pembunuhan pada Sean. Hal ini membuat Haidar berang luar biasa.


"Budiman! Jaga anakmu!" teriaknya di telepon ketika mengetahui jika putranya mendapat pengancaman.


Budiman yang tengah cuti langsung melaksanakan tugasnya. Ia menjaga Sean karena diancam dibunuh.


"Mas, apa sudah lapor kepolisian?" tanya Terra khawatir.


"Sudah. Polisi sedang melakukan penyelidikan menyeluruh. Beruntung satpam langsung membongkar kardus itu. Jika dibiarkan atau sengaja dibuang karena bukan benda bertuan. Kita tidak akan tahu bahaya mengincar putra kita!" sahut Haidar menjelaskan.


"Tuan ... Tuan Baby juga mendapat ancaman pembunuhan!" seru Rio yang mengawal Rion.


"Apa?" seru Haidar makin cemas.


Terra mengepal tangannya erat. Sungguh, ia ingin sekali menyelidiki melalui BraveSmart ponsel untuk mengetahui siapa orang yang berani mengancam keluarganya.


Budiman yang sebagai kepala keamanan membuat surat pada kepolisian untuk ikut turun tangan menyelidiki.


"Serahkan pada pihak yang berwenang Tuan Budiman Samudera! Kami akan cepat menangkap dalang pengancaman ini!" tolak kepolisian.


"Tapi, kami juga punya sistem untuk melindungi klien kami. Kepolisian tahu akan hal itu!" seru Budiman tak terima.


"Lagi pula pihak kepolisian juga sudah sering bekerjasama dengan pihak kami dalam penyelidikan!" seru Budiman memgukuhkan dirinya.


Sayang. Pihak kepolisian tetap menolak aksi campur tangan perusahaan SavedLive untuk menyelidiki siapa dalang teror.


"Serahkan pada kami. Anda tetap berjaga saja seperti biasanya!"


Budiman kesal bukan main. Ia akan membuat surat pada kepala kepolisian tertinggi negaranya, sayang perbuatannya kembali ditolak karena bukan bagian keamanan negara.


"Jangan main hakim sendiri. Negara ini punya landasan hukum. Percaya kan pada pihak kepolisian. Selama tidak merusak tatanan keamanan negara Dilarang mencampuri hukum dari kepolisian!"


Budiman akhirnya diam. Ia akan meminta Virgou menolak jika nanti kepolisian membutuhkan bantuannya.


"Ck ... sial!" seru Budiman kesal bukan main.


"Kita dilarang bergerak kecuali urgent!" ujarnya dengan wajah memerah menahan amarah.


"Sudah. Nggak usah lebay kek gitu. Kau lupa kita ini siapa?" sahut Virgou lalu menyeringai sadis.


"Kau tau, tuan Baby mu menghidupkan kembali BlackAngel milikku di dunia hitam?" sahut Virgou lagi.


"Tuan!" sahut Budiman tak percaya.


"Tenang lah. Kau seperti baru bekerja dengan keluarga Dougher Young saja!" sengit Virgou meledek.


Budiman menghela napas panjang. Ia bukannya tak tahu, tugasnya memang harus seperti itu. Menjaga kliennya aman dan tak tau jika mereka ternyata diancam.


"Jangan katakan pada Darren dan Lidya. Dua anak itu pasti akan membatalkan bulan madu mereka jika tau salah satu saudaranya dalam bahaya!" peringat Virgou.


Budiman mengangguk setuju. Pria itu sudah menyita BraveSmart ponsel milik Darren juga Demian. Pria itu berkilah agar keduanya tak perlu memikirkan pekerjaan selama bulan madu.


Sedangkan itu di sebuah pantai yang indah. Lidya tak menikmati bulan madunya. Ia begitu gelisah. Matanya menerawang jauh melihat ombak dan burung camar yang berkejaran.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Demian lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang. Kita telepon Mama," pinta gadis itu.


"Ada apa, kau kangen Mama?" Lidya menggeleng.


"Firasat ku ada yang tak beres di rumah sayang," ujar Lidya masih tak tenang.


Demian pun menelepon Terra. Pria itu menanyakan kabar. Tentu saja dijawab baik-baik saja oleh Terra.


"Kata Mama baik-baik saja semuanya," ujar Demian ketika mengakhiri panggilan telepon.


Darren mendatangi keduanya bersama sang istri.


"Lid!" panggilnya.


"Kak!" sahut Lidya.


"Apa kau memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Darren pada Lidya.


Lidya mengangguk. Kecemasan terlihat diwajahnya. Insting keduanya begitu lekat dengan para saudaranya.


"Apa kita pulang saja?" saran Safitri.


Demian sedikit berat jika harus mengakhiri bulan madu mereka.


"Kita serahkan pada yang lain. Aku hanya takut ketika pulang malah masalahnya sudah selesai dan mereka malah memarahi kita," ujar Demian memberi pendapat.


Semuanya diam. Mereka mulai bingung antara melanjutkan bulan madu atau pulang ke rumah.


bersambung.


nah ... pilih yang mana hayo?


next?