TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
VIRAL, TERRA



Semenjak pengenalannya sebagai CEO di perusahaan milik mendiang ayahnya. Wajah Terra terpampang di majalah bisnis dengan tajuk "The Youngest CEO".


Berbagai pose tak sengaja terbidik kamera. Terra bukanlah seorang model profesional. Ia tak bisa bergaya apa pun untuk menarik perhatian. Tapi, semua gayanya menjadi trending topik.


Dari gayanya berbusana, dandanan yang sangat sederhana. Raut remaja yang tak ketinggalan, padahal kesan tegas dan berkarisma masih tetap nampak.


Bahkan satu foto ketika ia tersenyum dan menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. Cantik natural. Langsung menjadi viral.


Banyak pria yang mendambakan dirinya. Dan tak banyak wanita menatap iri bahkan menyobek majalah tak bersalah sebagai pelampiasan kekesalan.


"Ck ... apa sih bagusnya dia!" sentak seorang gadis sambil melempar majalah ke lantai, kesal.


Cover majalah yang ada sesi wawancaranya, hanya menjadi judul kecil, di pinggiran majalah. Bahkan halaman yang memuat beritanya hanya separuh saja dengan foto seperti ukuran kartu tanda pengenal.


Sedangkan wajah CEO baru itu nyaris memenuhi semua halaman. Sevriana kesal bukan main. Gadis itu tadi menelpon editor majalah itu, mempermasalahkan berita mengenai dirinya yang hanya sedikit.


"Tapi, memang tidak ada yang penting dalam wawancara itu, kecuali poin penting anda dalam menjalani pekerjaan. Isinya juga standard. Tidak ada kesan motivasi di sana," jelas editor langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Sevriana berteriak sekencang-kencangnya. Gadis itu sangat murka. Teriaknya sampai pada kepala managerialnya.


"Ada apa Sev!" teriak Kepala Manager itu ketika melihatnya.


"Kenapa kau berteriak seperti orang gila!" lanjutnya.


Sev tergagap. Image yang ia jaga sebagai manager pengembangan yang bersahaja dan baik, nyaris saja hilang akibat perbuatannya sendiri.


"Ah ... tidak apa-apa, Pak. Saya hanya stress," jawabnya gugup.


"Stress dengan mengacak-acak ruangan kamu seperti ini?!" teriak kepala manager bernama Antonio sambil memindai ruangannya yang memang berantakan.


"Sejak kapan kau melampiaskan emosimu di ruang kerja?!" tanyanya penuh selidik. "Apa selama ini kau menyembunyikan karaktermu yang tidak terkendali seperti ini?"


"Bu-bu-kan Pak!" jawab Sev tergagap. 'mati aku' gumamnya dalam hati.


"Lalu apa ini?!" tanya Antonio.


"Maaf Pak, saya khilaf dan saya meyakini anda hal ini tidak akan terjadi lagi kedepannya!' ujarnya sambil meminta maaf.


"Baik. Saya terima jawabanmu saat ini. Tapi, jika saya lihat hal seperti ini terjadi lagi. Mungkin kau harus menyiapkan surat pengunduran diri," ancam Antonio dengan tegas.


"Baik Pak. Saya akan mengingatnya!' sahut Sev tegas..


"Rapikan sendiri ruanganmu. Jangan kau panggil OB dan melihat kekacauan ini!" titah Antonio kemudian meninggalkan Sevriana.


Gadis itu menghela napas. Baru kali ini ia kehilangan kendali. Hatinya masih tidak terima atas semua yang terjadi.


"Beauty smile," Sev membaca tajuk pada cover majalah bisnis itu.


Hatinya terbakar. Dengan kasar, ia merobek majalah itu hingga hancur dan menghempaskan ya ke lantai.


Setelah dirinya tenang. Gadis itu terbeliak dengan kelakuannya. Lalu menghela napas kesal, membersihkan kembali kertas-kertas yang berserakan.


Sedang di tempat lain. Seorang pria hanya bisa menatap cemburu cover yang tercetak di sebuah majalah yang berada di tangannya.


"Ah ... kau memang cantik, sayang. Sungguh aku tidak terima jika wajahmu menjadi konsumsi publik. Tapi, kau memang sangat bersinar dan dunia harus tahu siapa kamu," keluhnya.


"Haidar!" si empunya nama menoleh.


Sosok wanita setengah baya yang masih terlihat cantik datang menghampiri. Haidar langsung berkaca-kaca. Kanya memeluknya erat. Wanita itu sangat tahu kegundahan putranya.


"Ini adalah resiko yang harus kau ambil, Sayang. Biar kan dia bersinar seterang mungkin. Jadilah pelindungnya. Karena nanti akan banyak yang merebut dan merusak sinar itu," ujar Kanya menasihati.


"Iya, Ma. Terra sudah menyampaikan keinginannya dan Aku menyanggupinya," ujar Haidar sambil menenggelamkan kepalanya dalam pelukan hangat sang ibu.


"Teruslah belajar. Yang menjadi pendampingmu adalah berlian yang langka. Kau harus sepadan dengannya," ujar Kanya lalu mengecup kening putranya.


Sementara di tempat lain. Di sebuah ruangan mewah seorang pria renta duduk di kursi kebesarannya.


"Apa sekarang Ayah menyesal?" tanya sosok pria yang rambutnya juga sudah memutih. "Adikku tidak menikahi pria sembarangan."


Terdengar helaan berat dari kursi. Pria renta yang masih gagah itu berdiri dan berjalan. Di tangannya terselip majalah di mana ada cover Terra.


"Ya ... Ayah sangat menyesal. Sekarang, Ayah tau kenapa mendiang adikmu ngotot dan memilih kawin lari dengan pria itu," ujarnya.


"Andai Ayah tidak egois. Mungkin mereka masih hidup. Dan wanita ular itu tak pernah ada," sahut pria satunya lagi kesal.


Pria renta itu hanya menatap kosong jendela kantor yang anti peluru. Matanya memindai jalanan yang ada di bawah sana. Melihat mobil-mobil yang kecil berjalan merayap.


"Aku ingin bertemu dengannya. Siapkan proposal, kita lakukan kerja sama atau menanam investasi. Lalu membawanya kembali ke rumah ini," sebuah perintah yang tidak boleh disanggah.


"Baik. Akan aku siapkan. Semoga dia mau memaklumi kita dan menerima dengan tangan terbuka," ujarnya kemudian berlalu untuk mengerjakan perintah yang diberikan oleh atasan sekaligus ayah kandungnya sendiri.


"Dia pasti memahami. Aku yakin Aura mendidiknya dengan kasih sayang, dan tidak menanamkan kebencian. Ayah yakin itu," ucapnya pelan pada diri sendiri.


bersambung.


ah ... ada misteri apakah?


Terra ! kamu Viral!