TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LIDYA YANG SUDAH BALIGH



Hari berganti waktu berlalu. Dav sudah pulang bersama ayah dan pamannya ke Eropa. Bart masih betah di sini. Ia masih ingin bermain puas dengan cucunya. Gabe kembali bekerja keras membantu Darren setelah cuti satu minggu.


Nai, Sean, Al, Daud, Kean, Cal, Arimbi dan Satrio baru saja pulang ke rumah. Rion belum pulang, bocah itu akan pulang pukul 12.12. Sekarang baru pukul 10.10. masih dua jam lagi.


"Assalamualaikum!" ujar semuanya memberi salam sebelum masuk rumah.


Semuanya melepas sepatunya di depan pintu dan menentengnya lalu menaruhnya di rak dekat pintu.


"Wa'alaikum salam," ujar Terra dan Bart menjawab salam.


Bart sudah terbiasa menjawab salam. Semua anak-anak mencium punggung tangan keduanya.


"Ayo ganti baju," ajak Terra membawa semua anak-anaknya ke kamar.


Arimbi ke kamar Nai, sedang Kean, Cal, Satrio mengikuti Sean, Al dan Daud ke kamar mereka. Semua digantikan baju oleh Terra. Setelah anak laki-laki ia mendatangi Nai dan Arimbi. Keduanya sedang berusaha berganti baju. Terra membantu dua gadis kecil itu.


Setelah berganti baju, Arimbi dan Nai turun. Di sana anak laki-laki sudah bermain bersama buyut dan kakek mereka. Bagi Satrio dan Arimbi. Bart adalah kakeknya. Sedangkan bagi Nai, Sean, Al, Daud, Kean dan Cal Bart adalah buyut mereka.


Untuk membedakan panggilan, anak-anak itu memilki panggilan sendiri pada Bart. Quarto Pratama dan kembar Virgou memanggilnya Granddad. Sedang Satrio dan Arimbi memanggilnya Grandpa. Walau pada akhirnya semuanya memanggil Grandpa.


Lidya pulang dengan wajah memerah dan basah karena menangis. Gadis itu menutupi roknya dengan taplak meja. Terra langsung menghampiri.


"Sayang," panggilnya.


.


"Mama ... huuu ... uuuu!" Lidya langsung menangis.


"Hei, kau kenapa sayang?" tanya Bart jadi sedih.


Terra langsung membawanya ke kamar diikuti Bart. Anak-anak tengah bermain bersama. Terra membuka ikatan taplak di rok anak gadisnya. Ketika, terbuka maka mengertilah wanita itu. Bart pun langsung tersenyum.


"Dia sudah dewasa," ujar Bart bangga.


"Tidak apa-apa sayang. Ini lumrah, apa Lidya tak merasakannya tadi malam?" gadis itu mengangguk lemah.


"Iya pake celana tiga lapis Ma. Tapi nembus juga," jawabnya lirih.


"Kenapa nggak bilang Mama?" tanya Terra lembut dan mengusap air mata Lidya yang masih setia mengalir.


"Takut, Ma," jawab gadis kecil itu pelan.


Lidya memeluk dan menciumnya. Bart mengelus rambut cucunya. Ia pun keluar kamar dan membiarkan Terra menangkan putrinya.


"Tidak apa-apa sayang, Mama tidak marah kok," tukas wanita itu menenangkan Lidya.


"Tapi Iya malu, Ma. Malu tadi yang nutupin rok Iya Pak Guru," jelasnya.


"Jadi hanya Pak Guru yang tahu?" Lidya mengangguk.


Ia ingat sekali. Ketika itu ia hendak keluar kelas. Semua temannya sudah keluar sedangkan wali kelasnya tengah menulis tugas. Lidya sudah mendaftarkan diri mengikuti kelas akselerasi.


"Lidya, tutup rok nya pake ini ya," tiba-tiba gurunya itu menghampiri Lidya dan memberinya taplak meja.


"Sekarang kamu saya ijinkan pulang ya," ujarnya kemudian sambil tersenyum.


Lidya tak dapat berkata-kata, ia hanya mengangguk. Tadi pagi ia terkejut melihat area sensitifnya mengeluarkan darah. Ia bukan tidak tahu darah apa itu. Gadis kecil itu sangat paham apa yang terjadi pada dirinya.


"Iya sudah baligh?" tanyanya bermonolog.


"Sebenarnya Iya mau ngomong ke Mama tadi pagi. Tapi, keburu Sean, Al dan Daud bangun. Jadi takut," jelasnya.


"Ya, sudah tidak apa-apa. Sekarang kamu bersihkan dulu diri kamu ya, Mama kasih kamu pembalut punya Mama," titah Terra lembut.


Lidya pun menurut. Ia membersihkan dirinya. Terra menuju kamarnya dan mengambil satu bungkus pembalut. Lalu ia pun ke kamar putrinya lagi.


Terra mengajari Lidya cara memasang pembalut di pakaian dalamnya. Setelah mengerti. Lidya pun langsung memakainya. Sedikit risih karena ada benda lain yang mengganjal.


Kini, ia meminta anak gadisnya untuk duduk bersamanya. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Terra masih merasa Lidya berusia tiga tahun ketika pertama kali menemukannya.


Ada ketidak relaan dalam hatinya ketika mendapatkan fakta kini balita cantik itu bertransformasi menjadi gadis remaja. Terra sangat tidak rela, gadis kecil yang dulu selalu memeluknya dalam keadaan gundah dan kesakitan hati. Kini, berubah menjadi seorang gadis remaja. Sungguh, wanita itu tak rela.


"Ma," panggil Lidya. "Iya masih anak Mama, kan?"


"Kamu adalah putri Mama, sayang ... selalu menjadi putriku, anakku, cintaku, belahan jiwaku," jawab Terra mencium wajah Lidya.


"Sayang, sekarang dengarkan Mama ya," ujarnya sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Sekarang Lidya sudah besar, berarti Lidya harus bisa menjaga diri. Jangan terlalu dekat dan akrab dengan teman laki-laki, kau tahu kan akibatnya. Ingat kisah Arraya dan Theo teman Kak Darren kan?" Lidya mengangguk.


"Nah, itu lah yang terjadi jika kamu tidak menghargai diri sendiri," jelas Terra lagi.


Lidya sangat mengerti. Ia bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa pelajaran sekolah dan kegeniusannya memahami apa yang terjadi jika laki-laki dan perempuan melakukan sesuatu yang dilarang.


"Nah, sekarang kamu harus tahu batasannya. Jaga diri baik-baik ya, Nak," pinta Terra.


*Iya Mama," sahut Lidya lalu memeluk ibunya.


Terra masih merasakan debaran ketika sang putri memeluknya. Kekuatan pengobatan dalam pelukan Lidya justru jauh lebih besar sekarang.


"Terus jaga ketulusanmu sayang. Ba bowu."


"Ba bowu pu, Ma."


Sore menjelang. Terra menceritakan pada suaminya jika Lidya sudah mendapat siklusnya. Haidar langsung tertegun. Ingin ia menolak jika gadis kecilnya kini sudah beranjak dewasa.


"Katakan itu bohong sayang. Ia masih putri kecilku!" sanggahnya masih tak percaya.


Terra menangis. Ia juga masih belum merelakan gadis kecilnya tumbuh secepat itu. Sepasang suami istri itu saling berpelukan.


"Putri kita sudah dewasa sayang," ujar Terra lirih.


Haidar terus menggeleng kuat. Ia tak sanggup menerima kenyataan jika anak kecil yang dulu ia gendong kini sudah bertumbuh. Terra sedih bukan main. Ini baru suaminya yang mendengar hal itu. Wanita itu tak bisa membayangkan jika Virgou dan Herman tahu soal ini.


"Kita harus mendukungnya dan mengawasinya sayang," ujar Terra kemudian mencium kening suaminya.


Haidar hanya menghela napas pasrah. Ia pun mengangguk membenarkan perkataan Terra. Besok hari minggu, ia sangat yakin jika berita tentang Lidya yang sudah mendapat siklus pertamanya sudah terdengar oleh Virgou dan Herman.


Benar saja, pagi-pagi sekali Virgou sudah menampakkan batang hidungnya, bersama istri dan lima anaknya. Pria tampan dengan iris biru itu langsung ke kamar Lidya dan memeluknya.


"Daddy," Lidya masih mengantuk.


"Ssshhh ... tidak apa-apa, tidur lah. Biar Daddy memelukmu seperti ini," ujar Virgou.


Puspita juga masuk ke kamar dan ikut memeluk Lidya. Tak lama Herman datang.


"Benarkah berita itu Te!" sergah pria itu tak percaya.


Terra mengangguk. Herman terduduk lemas. Ia menangis perlahan. Khasya memeluknya.


"Hal ini akan tiba, sayang, sudah waktunya kita mendukung dan memberinya perhatiannya lebih," jelas Khasya.


"Aku pastikan dia mendapat yang terbaik Tidak ada satu pun pria yang bisa menyakitinya!" sumpah Herman.


Terra hanya menghela napas panjang, menatap Nai, Arimbi, Maisya, Dewi dan Kaila yang tengah bermain. Ia menggeleng cepat.


"Masih lama!"


bersambung.


hmmm ... ah ...


next?