TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BOCAH NGERUMPI



Kedatangan Gabe bersama kekasihnya menjadi pembicaraan para bocah. Kasak-kusuk mereka terdengar hingga ruang tamu.


Virgou yang memang tak melewatkan satu pun momen anak-anak langsung memasang kamera perekam.


"Eh, Om Babe pawa bacal woh!' adu Sean pada Kean, Cal, Mais dan Affhan.


'Yan bana?" tanya Maisya menengok arah ruang tamu.


"Yan syantit ipu!" jawab Nai setengah berbisik.


"Oh ... pati, emanna eunda tatut taya Ata' Dallen ladhi?" sahut Kean dengan kerut di kening.


"Muntin pidat, butina muta Om Babe selia," jawab Al manggut-manggut.


"Tuelnyata Om Babe basih ada yan mawu judha," celetuk Affhan santai.


Gabe melotot. Virgou nyaris tertawa begitu juga Haidar. Gabe sangat gemas dengan percakapan balita-balita sok tahu itu.


"Ata' Ion manti talo syudah beusal mawu bunya bacal beulapa?" tanya Maisya serius.


"Banyak," jawab Rion asal.


"Tata Bit Puyun talo bacalna banat ipu payboy!' sahut Affhan.


"Baud mawu zadhi baypoy, bial bacalna banat . Tan senen talo bunya bacal syantit," sela Daud sambil manggut-manggut.


Terra kini yang kesal mendengar perkataan Daud. Ia hampir saja menyambangi anak-anak. Tapi, Virgou melarangnya.


"Biar, toh mereka nggak tau lagi ngomongin apaan!'


Terra manyun. Widya dan Sriani jadi tersenyum. Percakapan orang tua jadi terhenti karena ingin mendengar percakapan anak-anak.


"Talo Cal mawu bunya bistli duwa!"


Kini Puspita yang melotot. Dari mana Calvin tau masalah istri segala. Wanita itu sampai mengelus perutnya yang membuncit. Sedang Virgou hanya cuek bahkan ia tersenyum lebar mendengar keinginan salah satu putra kembarnya itu.


"Benana boweh dithu?" tanya Nai.


"Pemanna bistli pa'a?" tanya Al ingin tahu.


Cal ingin menjawab, tetapi ia kemudian terdiam, karena tidak tahu jawabannya.


"Oh buntin matanan yan dadin bi tasyih paos palpeyu," sahut Sean.


"Bukan itu," sela Rion tiba-tiba.


Semua balita menoleh kakak mereka. Rion yang ditatap terdiam. Masalahnya ia juga tidak tahu topik apa yang menjadi pembicaraan adik-adiknya. Lidya hanya menggeleng mendengar perkataan absurd mereka.


"Pa'a Ata'Ion, pistlit ipu?" tanya Nai ingin tahu.


"Itu apa ya. Mungkin Mama tahu jawabannya," ujar Rion melempar pertanyaan ke ibunya.


Terra gelagapan. Semua anak-anak berdiri menyambangi ibu mereka. Gabe membuang muka. Virgou hanya terkekeh, sedang Haidar pun tak mau ikut-ikutan. Puspita langsung pergi ke dapur, melarikan diri.


"Mama," panggil kedelapan anak yang ingin tahu.


Terra menggaruk kepalanya. Sriani tertawa kecil. Widya tertegun mendengar ibunya tertawa. Seumur hidup. Gadis itu tak pernah mendengar ibunya tertawa atau pun tersenyum.


"Hais ... kalian masih kecil, jadi nggak usah tanya macem-macem. Main lagi sana," titah Terra yang sudah mulai sedikit emosi.


Sayang. Hal itu justru membuat kedelapan anak menatap Daddy mereka, menuntut jawaban. Virgou mati kutu. Gabe tertawa keras melihat kakaknya tak berkutik di depan anak-anak.


"Kalian tidak tidur siang?" tanya Haidar berhasil mengalihkan keingin tahuan mereka.


Rion akhirnya menggiring adik-adiknya menuju kamar mereka. Sriani sudah lelah, ia pun mengajak pulang putrinya. Gabe pun pamit untuk mengantar calon istri dan mertuanya.


Ketika Gabe pergi. Virgou memilih beranjak ke kamar anak-anak. Ia sangat yakin jika kedelapan balita plus kakaknya belum tidur dan masih menggosipi Om mereka.


"Om Babe mutanya seupelti telan ya taya bampu," sahut Nai sambil menguap.


"Ah, padhi Olan pewasa eundat enat!' protes Kean kesal.


"Pati manti pita pemuwa batal bewasa!" sela Al.


"Eman eunda pisa teucil seupelti ini?" tanyanya putus asa.


Virgou sedih. Ia juga tidak ingin anak-anak cepat besar. Tapi, waktu terus berjalan. Mereka tentu akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin nantinya.


"Daddy syini!" ajak Nai menepuk kasur sebelumnya.


Virgou mengelus punggung Nai. Semua bocah juga meraih tangan Virgou. pria itu memanjangkan tangannya mengelus semuanya. Lalu anak-anak pun terlelap.


Puspita datang melihat anak-anak sudah tidur. Virgou juga telah mendengkur halus. Wanita hamil itu mengecup bibir suaminya yang sedikit terbuka.


Virgou langsung menaut bibir istrinya. Puspita langsung gelagapan dibuatnya. Ia pun menarik kepalanya.


"Jangan menggodaku di depan anak-anak sayang," ujar Virgou serak.


Puspita tersenyum. Membisikkan sesuatu di telinga suaminya.


"Kau menantang ku ternyata," ujar Virgou bangkit perlahan.


Baru saja pria itu mengendong istrinya ala pengantin tiba-tiba.


"Daddy pau temana?" tanya Nai dengan mata terbuka.


"Tenapa Mommy di dendon, seubelti payi?" cecarnya.


Virgou menurunkan lagi istrinya. Puspita terkikik geli.


"Daddy bobo sama Nai!" titah balita imut dengan wajah garang.


Virgou berdecak. Tetapi tatapan garang dari Nai membuatnya gemas. Ia pun merebahkan tubuhnya di sisi gadis kecil itu. Nai memeluknya secara posesif. Puspita terkikik geli.


"Mommy sebelah Sean sini!' titah balita kecil satunya tapi dengan mata terpejam.


Puspita dengan senang hati merebahkan tubuhnya. Gairah kedua orang dewasa itu pun padam seketika karena permintaan anak-anaknya.


Sedang di tempat lain. Gabe telah sampai di rumah kekasihnya. Pria itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Widya duduk di sebelahnya.


"Mendekat lah," pinta pria itu.


"Ih, nggak mau ... aku takut," tolak Widya.


"Ah, kalau begitu. Persiapkan minggu depan aku melamarmu. Kita harus segera menikah sayang," ajak Gabe langsung.


Widya hanya mengangguk. Ia juga sudah sangat ingin dimiliki pria yang telah menghiasi mimpinya.


"Sebaik aku pulang. Sebelum aku benar-benar khilaf," ujar Gabe pamit.


Sriani sudah masuk kamar, ia kelelahan. Widya mengangguk lalu berdiri mengantar kekasihnya menuju mobilnya.


Gabe membalikkan tubuhnya, memeluk sebentar Widya. Gadis itu langsung kaku seketika. Debaran jantungnya terasa oleh Gabe. Begitu juga Widya yang merasakan detak jantung pria itu.


"Aku mencintaimu," ungkap Gabe tulus.


"Aku juga," balas Widya.


Keduanya saling menatap. Gabe menurunkan wajahnya. Semakin lama semakin dekat. Satu inci lagi bibir keduanya bersentuhan. Hingga.


Gubrak!


"Meeeeooongng!"


Gabe menjauhkan wajahnya, sedang Widya langsung menunduk dengan rona merah di pipinya. Lalu keduanya pun tertawa.


"Aku pulang. Salam.untuk Ibu," pria itu pamit.


"Iya, Mas," sahut Widya dengan rona dipipi.


Gabe akhirnya benar-benar pergi. Widya mengelus dadanya. Nyaris saja ia merasakan ciuman pertama.


"Ah ... dasar kucing," sungutnya kesal.


Namun sejurus kemudian ia pun tersenyum. Lalu ia masuk rumah dan menguncinya.


Sedang di mobil. Gabe tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Ia bisa saja tak peduli dan mencium bibir yang telah membuatnya penasaran.


"Ah ... dasar kucing!" runtuknya kecewa dan kesal bersamaan.


Bersambung.


😹😹😹😹😹😹 meeeoongng!


next?