TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERASAAN YANG BERBALAS



Pagi menjelang. Shama dan Puspita sudah dijemput oleh Virgou dengan mobilnya. Puspita sempat bertanya siapa yang menjaga ayahnya di sana.


"Kan ada suster dan Dokter, " jawab Virgou enteng.


Puspita pun diam. Virgou membawa mereka ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengantar ibu gadis itu.


"Jangan mengantar Mama sampai di dalam, takutnya kalian akan terlambat ke kantor," ujar Shama.


Puspita langsung mencium tangan sang ibu dan juga pipinya. Virgou melakukan hal yang sama. Setelah melihat ibunya memasuki lobby rumah sakit, barulah Virgou melesatkan Jeep nya dengan kecepatan tinggi.


Pria itu sedikit terlambat menjemput sang gadis. Karena tadi malam ayah Puspita bercerita masa kecil gadis itu.


"Ita itu anak perempuan yang paling pemberani di kampung. Tidak ada yang ia takuti. Kecuali kemarahan ibunya," jelas Basri terkekeh mengingat masa kecil putrinya.


"Puspita tumbuh menjadi sosok mandiri dan tegas. Ia tidak suka bertele-tele. Ia lebih banyak bekerja dibanding berbicara. Walau sekarang Papa heran. Kenapa ia bekerja sebagai marketing, yang menuntutnya banyak bicara," lanjutnya panjang lebar sambil terkekeh.


"Ketika menginjak remaja, atau ketika ia mendapat siklus pertamanya. Ia mendadak jadi sosok pendiam dan lebih berhati-hati dalam bertindak."


"Oh ya?" tanya Virgou.


Basri mengangguk, "Ia sepolos apa yang kau lihat."


"Tidak pernah pacaran?" Basri menggeleng.


"Bukan tidak ada yang mau, tapi banyak yang takut," jawaban Basri membuat Virgou sedikit heran.


"Dulu ada seorang pemuda yang memperkenalkan diri sebagai pacarnya. Padahal Mamanya cuma bertanya biasa pada Ita.


Ita punya pacar?


Tapi, pemikiran Ita jadi berbeda. Ia tak boleh berpacaran."


"Besoknya, pria itu ada di rumah sakit dan Ita ada di kantor polisi. Putriku memukuli pria yang mengaku pacarnya. Gadis itu takut jika Mama sudah marah," jelas Basri lagi-lagi terkekeh.


"Ada tiga laki-laki yang berani mengaku sebagai pacarnya. Dan tiga-tiganya dihajar habis-habisan oleh Ita. Padahal, tak ada yang melarang atau memarahi dia berpacaran."


Virgou menatap gadis yang memandangi jalan dengan tatapan biasa saja. Benar kata calon ayah mertuanya, jika Ita tidak takut apa pun bahkan kendaraan yang ia laju dengan kecepatan tinggi ini.


Virgou kembali mengingat percakapan dengan papanya Ita semalam.


"Semakin bertambahnya usia Ita, Mama jadi semakin khawatir. Tidak ada satu pun pria yang dikenalkan ke rumah sebagai kekasih anak itu."


"Terlebih ketika ia menyandang Senshei judo. Mama makin was-was. Padahal adiknya Aindra sudah menikah dan memiliki putra."


"Papa, yakin datangnya dirimu, membuat Mama lega. Putrinya normal," jelas pria itu tak berhenti terkekeh.


''Ita normal, Pa. Tenang aja, pertama bertemu dia menahan semua hasratnya ketika melihatku, kok," jelas Virgou yang tentunya hanya dalam hati.


"Ta ...," panggil pria itu.


"Hmmm, ya?' sahut Ita.


Tak terasa mobil sudah sampai depan perusahaan PT Hudoyo Cyber Tech.. Virgou menggenggam tangan Puspita.


Gadis itu ingin melepasnya, namun melihat tatapan memohon dari pria tampan di depannya. Gadis itu pun membiarkannya.


"Maukah kau menjadi istriku?" pinta Virgou langsung.


Puspita terdiam. Menatap dalam netra biru di depannya. Mencari kebohongan di sana. Tak ada satu pun keraguan dalam mata tajam itu.


Namun, Ita kurang yakin. Pria itu sangat tampan dengan sejuta pesona di dirinya. Ia pun tahu siapa Virgou Black Dougher Young.


Seorang CEO Black Pristers Steel company. Perusahaan baja terbesar di dunia. Sedangkan dirinya? Puspita merasa kecil di depan Virgou sekarang.


"Puspita Hasan. Kau tau, Papa mengujiku dengan istikharah. Meyakini kembali pilihanku menjadikanmu sebagai seorang istri!" Puspita menatap pria itu tak percaya.


Benarkah ia menjadi satu-satunya pilihan? pikirnya.


"Kau adalah satu-satunya pilihan. Maukah kau juga memilihku menjadi pendamping hidup mu?" tanya Virgou dengan nada meminta.


"Itu semua titipan dari Tuhan, Ta," jelas Virgou.


Lagi-lagi Puspita memandang lekat mata tajam itu. Perlahan ia mengangguk.


"Bismillah, saya yakin akan memilih Tuan menjadi suami saya," jawab Puspita.


"Kau yakin, sayang?" Puspita mengangguk.


Virgou mengucap hamdalah. Ia mencium tangan gadis itu. Mengucap terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Virgou banyak berubah. Pria itu bukan lagi sosok lelaki yang pertama kali gadis itu temui. Puspita tak menyadari itu. Ia mengira sosok pria itu sama dengan yang ia temui ketika pertama kali Virgou datang ke perusahaan tempat ia bekerja.


Sedang di tempat lain. Herman tengah menyeleksi beberapa kandidat calon sekretaris yang menggantikan Ramira. Pria itu cukup terkejut pada sebuah data.


Sosok wanita berusia tiga puluh dua tahun melamar pekerjaan sebagai sekretaris.


"Berani, juga dia," gumamnya.


Herman mulai penasaran. Ia membaca seluruh data diri wanita yang melamar menjadi sekretaris pribadinya.


"Nama Khasyana Pandewi Burhan, usia tiga puluh dua tahun. Pengalaman kerja sekretaris selama sepuluh tahun di PT. Graha Indah Tbk.."


"Wah, sekretaris senior ini. Pasti dia di PHK karena sudah tidak muda lagi. Padahal, justru sekretaris senior ini yang paling bagus dalam bekerja. Sayang jika dilewatkan." ujarnya bermonolog.


Akhirnya Herman meng-interview langsung. Wanita bernama Khasyana itu.


"Andi, tolong kamu panggil calon sekretaris bernama Khasyana!" titahnya pada sekretaris pribadinya.


"Baik, Tuan!" Andi langsung memanggil wanita yang di maksud atasannya.


Wanita dengan postur tubuh langsing, dengan tinggi sekitar 157cm, bobot 47kg. Herman telah membaca data pribadinya. Satu lagi, wanita ini belum menikah. Alias masih gadis. Seorang yatim piatu. Bahkan alamatnya masih di panti asuhan tempat ia dibesarkan.


Sosok gadis berkulit kuning langsat. Berwajah bulat sebulat matanya. Bulu mata lentik dengan alis rapi, hidung mungil dan bibir sedikit tebal. Herman menelan ludah saat melihat bibir yang cukup sensual itu.


"Duduk," titah Herman.


Gadis itu langsung duduk di hadapan Herman. Pria itu mulai meng-interview gadis bernama Khasyana itu.


Jawaban tegas dan tak berbelit-belit. Menandakan betapa ia berpengalaman dalam pekerjaannya. Herman puas. Ia pun langsung menerima gadis itu bekerja.


"Benar, Pak. Saya diterima?" tanya Khasyana.


"Benar Nona ...."


"Panggil saya Khasya, Pak," pinta gadis itu.


Herman mengangguk.


"Baik, Khasya. Saya harap sekarang juga anda bersiap untuk bekerja dengan saya, minta semua jadwal saya pada asisten Andi. Dia akan membantu anda untuk mengetahui job desk saya!" titah Herman.


"Saya harap anda harus segera beradaptasi. Apa anda bisa?" tantang Herman.


"Siap, kerjakan, Pak!" jawabnya tegas.


"Baik selamat bergabung di perusahaan Triatmodjo!' ujar Herman kemudian berdiri dan mengulurkan tangan.


Khasya langsung menjabat tangan pria itu erat dengan senyum mengambang. Adik-adik panti pasti akan senang melihatnya bekerja kembali. Sepuluh tahun mengabdi tidak mendapatkan reward sama sekali. Justru pemecatan secara sepihak ia dapatkan.


"Saya akan mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan ini, Pak!"


"Bagus, kalau mau kamu juga bisa mendedikasikan dirimu menjadi istri saya!'


"Hah?"


bersambung.


mantap Ayah Herman. tembak aja langsung ...


next?