
Semua sudah didiskusikan. Baik dari keluarga Wijaya dan keluarga Pratama. Mereka sudah mengambil kesepakatan jika Raka memang harus berobat di Eropa.
Selain peralatan yang menunjang. Di sana sudah memiliki lisensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Terlebih biaya perawatan jauh lebih murah dibandingkan Berobat di negeri sendiri.
Walau berat, semua demi kesehatan Raka. Frans mengatakan pengobatan akan tergantung dengan perkembangan dari Raka.
"Ini menurut survey yang sudah kuperoleh dari semua teman-teman dan kolega yang memiliki putra atau putri autisme. Sebagian mereka ada yang cepat sembuh karena berapa persen kerusakan syaraf yang diderita oleh si anak," ujarnya.
"Kita berharap, kerusakan atau kelainan syaraf pada Raka tidak parah," lanjutnya, "jika dilihat Raka masih bisa berkomunikasi dengan baik."
Karinda dan Zhain berharap demikian. Wanita itu bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan putranya. Bahkan mereka tidak malu berinteraksi dengan Raka.
Wanita itu menyesal, ia pernah malu memiliki Raka. Hingga terakhir ketika Herman mengeluarkan semua kekesalan pada keluarganya.
'Paman Herman benar. Raka tidak minta dilahirkan seperti itu. Ia adalah buah cintaku. Kenapa aku anggap buah cintaku selama ini adalah aib?' runtuknya menyesali diri. 'Ibu macam apa aku!'
"Sayang,' panggil Zhain.
Karina menoleh. Pria yang dulu ia benci. Ia bersyukur Zhain membawa lari Raka, beberapa hari lalu. Jika saja pria itu tidak melakukannya. Mungkin selamanya Raka tidak akan sembuh, karena ibunya masih malu memiliki putra seperti itu.
Satu titik bening menetes di pipinya. Zhain panik. Ia langsung mendekati sang istri. Wanita yang ia nikahi kembali beberapa jam lalu.
"Sayang, kenapa menangis? Apa aku menyakitimu?" Karina menggeleng.
"Terima kasih," cicit Karina lirih.
"Terima kasih? Untuk?' Zhain bingung.
"Untuk datang kembali dan memaksa diri memperbaiki semuanya," jawab Karina.
Zhain memeluk Karina erat. Ia menyalurkan seluruh rasa dalam dirinya.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, karena mau dipaksa olehku," jelas Zhain lalu mengecup kening Karina mesra.
Di satu kursi tampak dua pria menatap nanar. Herman menghela napas panjang. Melirik pria di sebelahnya. Ia tertawa terbahak-bahak.
"Tuan," Budiman menghela nafas panjang.
Beruntung Rion sudah terlelap di gendongan Haidar. Sedang Lidya digendong Frans. Darren memeluk ibunya. Pria kecil itu juga sudah mengantuk.
Acara sudah selesai dari tadi. Mestinya mereka sudah pulang. Akhirnya Nugie mengundurkan diri untuk pulang. Darno juga sudah mulai lelah dan istrinya sudah dari tadi menghubunginya.
"Aku juga harus segera pulang," ujarnya pamit.
"Baiklah, terima kasih telah hadir dipernikahan anak kita lagi yang kedua kalinya," ucap Bram.
"Aku juga berterima kasih telah memaafkan kesalahanku," ujar Nugie tulus.
"Baiklah, Zhain, Papa pulang dulu," pamitnya pada sang putra.
"Baik Pa. Hati-hati di jalan," ucapnya sambil mencium. punggung tangan ayahnya takzim.
Karina pun melakukan hal yang sama. Nugie dan Darno pulang diantar hingga mobil bersama sepasang suami istri.
Terra pun ikut pamit. Begitu juga Bart dan lainnya. Tak lama kemudian rumah mereka pun kembali sepi. Karina dan Zhain telah menidurkan Raka di kamarnya. Bram mengeratkan pelukannya. Mencium tengkuk istrinya.
"Sayang," panggil Bram.
Kanya mengelus tangan kekar yang melingkar di perutnya. Menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang suami. Bram menciumi leher jenjang sang istri.
Tiba-tiba tubuh Kanya melayang. Wanita itu terpekik. Padahal masih banyak pekerja yang tengah membersihkan ruangan bekas pesta. Bram tak peduli. Pria itu sudah dari kemarin menahan hasratnya.
*******************
Hari berlalu. Kini mereka semua berada di bandara kecil milik keluarga Pratama. Frans ikut dengan mereka, pria itu juga memiliki sedikit urusan tentang kerja sama dengan perusahaan Terra.
Mereka juga akan mendirikan perusahaan cyber milik Terra di Eropa. Leon sudah mengurus semua ijin dan legalitasnya. Hanya beberapa dokumen yang mesti diselesaikan.
Kanya menangis sambil menciumi Raka. Bram sampai berkali-kali memperingati istrinya.
"Ma, Raka pergi untuk sembuh!"
"Aku sudah terbiasa ada Raka yang menggangguku ... hiks ... hiks!"
"Jika sayang, kenapa malu membawa Raka dan memperkenalkannya di depan umum," omel Zhain.
"Oma ... Raka mau naik burung!" Raka meronta dalam pelukan Omanya.
Kanya akhirnya mengurai pelukannya. Bram memberi ciuman pada cucunya itu. Memang berat berpisah dari Raka. Tapi ini semua demi kesehatan cucu laki-lakinya itu.
"Ma, Karina pergi dulu ya," pamitnya.
Karina segera mengusap air matanya. Memeluk ayah dan ibunya. Haidar tak bisa ikut mengantar. Perusahaannya kini sedang dalam masa jayanya.
"Mama Ria, Karina pergi dulu," pamitnya pada mertua perempuannya.
Riani Subagya adalah Ibu dari Zhainra Adi Wijaya. Perempuan itu sebenarnya sangat kesal akan keputusan putranya meninggalkan Karina dulu. Tapi sifat arogan sang suami tak bisa membuatnya bebas bergerak. Ia pun memeluk menantunya dan memberikan doa yang baik.
Nugie memeluk Karina. Kata maaf terus keluar dari bibir pria itu.
"Maafkan Papa, Nak!" pintanya memohon dengan tulus.
"Iya, Pa. Karina juga minta maaf," ucap Karina tak kalah tulus.
Zhain memeluk ayah dan ibu mertuanya. Lalu memeluk kedua orang tua kandungnya. Raka sudah mengoceh kesal.
"Papa ayo cepat. Nanti burungnya terbang duluan!"
Zhain terkekeh. Ia pun langsung merangkul putranya dan membawa sang putra menuju jet pribadi milik Bram, mertuanya.
Frans berjabat tangan dengan semuanya. Bart tidak ikut mengantar, ayahnya sedang diajak Virgou ke perusahaan baja miliknya.
Baiklah, semoga selamat sampai tujuan," ucap Bram.
Frans mengangguk. Ia pun menyusul Zhain dan Raka. Barang-barang mereka telah di bagasi jet. Karina kembali memeluk Ayah, ibu juga kedua mertuanya.
"Jangan lupa, begitu sampai langsung kasih kabar!' pekik Ria mengingatkan Karina.
"Iya, Ma!' pekik Karina membalas.
"Assalamualaikum!" salamnya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," ke-empatnya menjawab salam Karina yang sudah menghilang.
Kanya menatap Ria. Ia sungguh malu sebenarnya dengan wanita di depannya ini. Ria berulang kali memintanya untuk membicarakan masalah yang dulu dengan kepala dingin.
Sayang. Ego Kanya begitu tinggi. Ia memutuskan langsung tali silaturahmi.
"Jeng Kanya," panggil Ria.
Kanya langsung memeluk besannya. Membisikkan kata maaf. Ria yang usianya lebih muda darinya, ternyata memiliki kedewasaan dalam berpikir.
"Sudah, Jeng. Semua sudah berlalu. Kedepannya kita akan lebih baik lagi. Setuju?" Kanya mengangguk.
"Setuju."
Mereka berdua saling mengulas senyum. Bram bersalaman dengan Nugie. Dua pria egois yang nyaris saja menghancurkan anak-anak juga cucu mereka berdua.
"Kita harus banyak belajar dari semua kejadian ini. Semoga pernikahan keduanya mendapat keturunan yang sehat wal'afiat. Jika pun kita diuji lagi. Kita harus siap menerimanya," ujar Nugie dengan legowo ditanggapi anggukan setuju dari Bram.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan bandar pribadi milik, Bram.
Di dalam jet. Raka berkali-kali berteriak kesenangan ketika, Zhain menunjukan burung-burung yang terbang dekat jet mereka.
"Papa, itu burung!" pekiknya kegirangan.
Zhain mengangguk. Ia begitu gembira putranya bahagia. Karina sedikit iri. Zhain yang baru hadir dalam kehidupan Raka, langsung bisa mengambil alih putranya.
Namun ia kemudian tersenyum. Teringat sesi panas tadi malam membuat kembali merona. Zhain melihat itu.
Pria itu ingin sekali menggoda istrinya. Tapi, ia melihat Frans tak jauh duduk di sana dengan mata terpejam. Ia pun urung menggoda Karina.
"Nanti di panthouse. Kita ulangi yang tadi malam," ujarnya berbisik.
bersambung.
apaan sih yang tadi malam itu? Othor kan polos ðŸ¤
next?