TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AWAL BENCANA



"Sudah satu tahun, kematian mantan istrimu. Kapan kau perkenalkan aku sebagai istrimu yang sah?" tanya Frisha pada Ben, suaminya.


"Istri sah?" Ben tersenyum miring.


"Kau lupa, kalau menikahimu karena sebuah jebakan?" ujar Ben mengingatkan awal pernikahannya dengan Frisha, sekretarisnya.


"Kau sudah kuingatkan, bukan? Bahwa kau tidak akan bisa menjadi istri sah ku. Karena selamanya kau hanya istri simpanan!"


Perkataan Ben, membuat Frisha marah. Bukan ini maksudnya menjebak pria yang dulu adalah atasannya itu.


"Bahkan kau menjebakku dua kali. Kini, lahir Lidya. Aku tak tahu, kenapa aku bisa buta dengan wanita picik seperti mu!" lanjut Ben muak.


Sungguh, selama ia menikah sirri dengan Frisha, hidupnya seperti di neraka. Memang ini bukan murni kesalahan wanita yang kini telah memberinya dua anak. Ia juga turut andil dalam hal ini.


Istri yang sangat ia cintai memiliki phobia pada keramaian. Ia tidak bisa melihat banyak orang. Bahkan wanita cantik itu sangat sensitif dengan udara. Hingga sering membuatnya tidak pernah mengikuti Ben kemana-mana.


Frisha seorang wanita cantik. Tubuh molek dan juga cerdas. Ia menyukai atasannya, Ben, sejak pertama kali bekerja sebagai sekretaris pria itu.


Ingin hidup mewah, dan tidak mau susah..Frisha menargetkan Ben sebagai pria incarannya. Tidak perduli jika pria itu memiliki istri yang sangat cantik di rumah.


Ben dicekoki minuman beralkohol tinggi, hingga ia tak sadarkan diri.


Ketika sadar, ia mendapati dirinya tanpa busana bersama Frisha, sekretarisnya yang juga telanjang.


Ben sangat panik melihat dirinya saat itu. Kepalanya pusing. Belum lagi, tiba-tiba pintu kamar yang ia tempati didobrak. Mereka terpergok. Lalu terjadilah pernikahan sirri itu.


Ada saja yang Frisha perbuat agar, Ben tidak bisa pulang ke rumah untuk berkumpul bersama anak dan istrinya.


Hingga semua kelakuan Ben menyimpan wanita lain, tercium oleh sang istri. Dari sana lah, istrinya mulai sakit-sakitan.


Ben sebenarnya ingin menemani Aura, istrinya. Tapi, Frisha selalu bisa membuat pria itu batal untuk melakukan tugasnya sebagai suami.


Bahkan ketika istrinya dinyatakan meninggal. Ben, tidak berada di sisi wanita yang sangat ia cintai itu, karena Frisha membuat dirinya pendarahan hebat.


"Tidak ada pernikahan sah antara kita. Karena selamanya kau hanya wanita simpanan!" ucapan Ben mampu membuat Frisha marah.


Semenjak perkataan Ben saat itu. Ia tak mempedulikan lagi Darren juga baby Lidya.


Wanita itu sibuk menghabiskan kartu unlimited pemberian suaminya. Bersenang-senang bersama teman sosialitanya.


Hingga suatu hari, Ben terpaksa membawa Frisha di sebuah party anniversary sebuah perusahaan ternama.


"Bagaimana, apa sekarang kau bahagia?" tanya pria itu.


Suara seksi itu mampu membangkitkan hasrat Frisha. Terlebih, dengan berani pria bermata biru dengan kulit eksotik itu melingkarkan tangannya ke perut rata Frisha.


Nafasnya berhembus di telinga wanita itu. Frisha memejamkan mata, mendesah. Tangannya membelai tangan yang melingkar erat perutnya.


"Ck ... ia tetap menganggap ku sebagai simpanan saja," jawab Frish dengan suara berat.


Pria itu menjilati leher jenjang Frisha, hingga wanita itu menggelinjang.


"Jangan di sini, sayang," desah Frisha berbisik.


"Baik. Aku menunggumu di kamar hotel ini nomer 25. Sudah lama aku tidak menikmati tubuhmu," bisik pria itu dengan suara berat dan seksi.


Setelah melepaskan dan memberi kecupan ringan di leher Frisha. Pria itu berlalu meninggalkan keriuhan pesta.


Kini, Frisha harus memutar otak agar bisa melampiaskan libido yang telah membakar tubuhnya itu.


Jangan harap Ben bisa memberinya kenikmatan. Pria itu menyentuhnya jika Frisha memberinya obat perangsang secara diam-diam.


Frisha mendekati Ben. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok wanita yang ternyata tema masa kuliahnya.


Frisha memperkenalkan teman wanitanya itu pada Ben. Dengan alasan ingin bereuni bersama temannya inilah Frisha bisa keluar dan pergi ke kamar hotel setelah perbincangan dengan temannya ini.


"Eh, gue mesti ke laki gue ni, udah di SMS," jelas Frisha ketika melihat pesan singkat pada ponselnya.


"Ah, ya. Gue juga mau pulang udah dijemput Ama adik gue di depan lobby," jelas temannya itu.


Mereka berpisah. Jika temannya itu benar-benar pulang. Sedangkan Frisha ke kamar hotel yang telah dipesan oleh kekasihnya.


Frisha melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu sekita dua jam lagi, pesta bubar. Ia sangat tahu kebiasaan Ben, suami sirrinya itu.


Ben akan selalu menghabiskan malam pesta hingga akhir. Entah apa alasannya, Frisha tidak tahu.


"Main sebentar, sudah itu pulang," ujar Frisha bermonolog.


Lalu dengan langkah cepat ia menuju lift dan mengantarkannya ke kamar, di mana pria itu menunggu.


bersambung.