
Pangsit rebus pun jadi dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan para pengawal kebagian. Walau hanya masak berdua saja. Terra sangat senang dengan keahlian Saf yang cepat. Bahkan semuanya nyaris tanpa cicip.
"Ma, enak nggak?" tanyanya kurang yakin ketika semua masakan sudah jadi dan kini Terra mencicipi satu pangsit rebus.
Terra memotongnya dengan garpu. Aroma lezat langsung menyeruak ke penciuman.
"Enak!" puji Terra.
Wanita itu menyorongkan suapan ke mulut Saf. Gadis itu langsung memakan suapan itu.
"Pas!" sahutnya sambil mengangguk.
Makanan di hidangkan. Semua pun dapat. Para balita juga senang sekali.
"Ata' Babitli, bansitna emak setali," puji Sky.
Gomesh datang bersama anak dan istrinya. Mereka pun kebagian. Pria raksasa itu menatap Demian dengan datar.
"Kak," panggil Terra.
Gomesh memandang Terra yang tersenyum padanya. Ia menghela napas panjang. Demian sangat paham, apa arti Lidya bagi semua orang termasuk para pengawal. Terlebih mereka jauh lebih mengenal gadisnya itu.
"Semua sudah makan. Ayo, kita lanjutkan gamenya!" seru Rion.
"Nanti, sore Baby. Ini sudah siang. Matahari sudah terlalu tinggi," saran Terra.
Rion diam. Ia agak merengut. Para bayi menatap kakak panutannya sedang cemberut, mendatangi remaja itu.
"Ata'Ion. Banti sole aja, baina ... pita judha mawu itut," ujar Sky menenangkan.
Rion gemas, ia menciumi Sky hingga tergelak. Semua balita juga ingin diperlakukan sama. Dominic sangat senang dengan kehangatan, Jac jadi suka anak kecil.
"Semoga istriku dapat kepercayaan cepat. Aamiin," doanya berharap dalam hati.
"Ya sudah. Tapi, apa Kakak Demian akan sampai di sini hingga sore?" tanya Rion pada Demian penuh harap.
Demian mengangguk yakin. Rion tersenyum. Lalu ia melihat Saf.
"Kak Saf juga di sini sampai sore kan?" rajuknya.
"Kakak mah bebas sampai besok malam. Tanya Kak Aini dulu ya, apa dia ada tugas malam ini?" Saf mengalihkan pandangan ke arah Aini.
Gadis itu hanya duduk tenang dan menatap dua adiknya yang bermain.
"Dek!" panggil Saf.
Aini menoleh. "Ya?"
"Kamu ada dinas malam?" Aini menggeleng.
"Jadi Kak Saf, sampai sore ya!" sahut Rion antusias.
"Oke," ujar Saf..
Terra benar-benar iri. Safitri baru datang, tapi sanggup merebut perhatian bayi besarnya. Sejak tadi, Rion tak berhenti merengek dan merajuk pada Safitri. Berbeda ketika dengan Aini. Remaja itu sangat takut ditinggal oleh Kakaknya, Darren.
Waktu berlalu, kini matahari mulai sedikit redup, sore menjelang. Demian, Jac dan Saf berdiri satu barisan. Sedangkan di hadapan ketiganya Rion, Darren dan Budiman. Tadinya Gomesh ingin ikut. Tetapi, Budiman bersikeras dan menolak untuk digantikan.
"Kita main apa sih nih?" tanya Saf penasaran.
"Gobak sodor!" jawab Jac.
"Oh," sahut Saf pendek.
"Emang itu mainnya gimana?" tanya Saf lagi.
"Oh ... realy?" tanya Demian dan Jac menatap gadis itu.
Saf hanya memandang polos pada keduanya. Ia benar-benar buta akan permainan itu. Ia hanya ikut-ikutan saja.
Akhirnya Demian menjelaskan garis besar tata cara permainannya. Saf pun akhirnya mengerti.
"Baik. Karena yang main cuma tiga orang kita ubah sedikit permainannya. Satu kotak tak boleh lebih dua orang dan ketua yang harus menjebol gawang!" jelas Rion.
"Satu tertangkap, satu poin. Satu hangus tiga poin. Tapi, jika ketua bisa masuk, maka sepuluh poin!" lanjutnya.
"Emana pita tat poleh itut Bain?" tanya Bomesh.
"Tan puat selu-seluan ...?" lanjutnya.
Rion pun berpikir panjang. Akhirnya, para balita boleh main. Sky dan Bomesh ikut di tim Demian. Sedangkan Benua dan Domesh ikut tim Rion.
Permainan dimulai. Bart menjadi wasit. Semua pun bersorak menyemangati.
"Payo Ata' Babitli!"
Demian benar-benar harus bekerja keras memutar otak untuk mengecoh lawan. Sayang, yang ia hadapi adalah keluarga Dougher Young yang tentunya sudah tiga kali bermain permainan ini, tentu lebih paham.
Semua berteriak ketika Saf nyaris membongkar gawang lawan. Darren yang menjaga belakang, menangkap gadis itu.
"Kena!" seru Darren tertawa.
Deg ... deg ... deg!
Jantung keduanya berdetak cepat. Darren menikmati tubuh padat dalam rengkuhannya.
"Ehem ... sampai kapan pelukan terus?!'
Darren merona malu begitu juga Saf. Keduanya saling melepas rangkulan mereka.
"Pie ... pie ... pie ... Ata'Dallen belut-belut Ata' Babitli!" goda Bomesh centil.
Tim Rion menang angka tipis. Tentu saja. Demian salah strategi. Padahal, tadi timnya sempat memimpin nilai. Bahkan Saf sudah berteriak keras jika Demian harus mengorbankan diri. Sayang, Bomesh yang harusnya menjadi kepala regu langsung ditangkap Budiman.
"Ah ... Baba matan atuh!" ujar Bomesh langsung menyerah.
"Pita talah?" tanya Sky.
"Iya, Baby. Maaf ya?" ujar Demian menyesal.
"Pidat pa'a-pa'a. Yan bentin pemua senan," sahut bayi itu bijak.
Demian gemas bukan main. Pria itu menciumi perut bayi itu hingga tergelak. Semua juga mau dicium oleh pria itu. Dominic sangat bahagia bersama keluarga super besar itu.
Darren menangkap Aini yang bersama Gio. Tatapan gadis itu sangat berbeda pada pengawalnya itu. Ia pun tersenyum.
"Kak Gio emang cocok untukmu, Dek," gumamnya dalam hati.
Semua pun kembali ke dalam mansion dengan napas terengah. Demian mengaku kalah dari remaja itu.
"Jadi, apa kakak harus mengalahkan mu dulu, baru bisa mendapatkan Iya?" tanya pria itu.
"Nggak Kak," jawab Rion sambil menggeleng.
"Jika Kak Iya bahagia dengan kakak. Ion bisa bilang apa. Toh, Papa, Daddy dan Ayah sudah tua untuk menjaga Kak Iya," jawab remaja itu enteng.
"Apa kau bilang?" sergah Virgou tak percaya.
Pria beriris biru itu langsung menggelitik bayi besar itu. Rion langsung meminta ampun, ia tak tahan geli.
"Daddy, ampun!"
"Aku bisa melempar Demian jika mau," sahut Virgou sombong.
"Kak," tegur Terra.
"Bempal Ata' Pemian pemana Daddy?" tanya Sky.
Virgou kicep. Sedang mata jernih Sky menuntut jawab. Balita itu penasaran. Kemana Daddynya akan melempar Demian.
"Emana Ata' Pemian pola ya? Pisa pilempan?" tanya Bomesh ingin tau.
Terra mendengkus. Virgou memilih kabur dan tak menjawab pertanyaan para bayi itu.
"Itu hanya bercanda Baby," sahut Demian menjawab rasa penasaran para balita.
"Oh ... buman pejanda," sahut Sky sok tahu.
"Loh kok peja ...."
"Shut up Dem!' peringat Herman.
Demian terkekeh. Ia yakin jika diteruskan pasti akan mendapat banyak perdebatan.
"Papi ... bawu palotean don!" pinta Bomesh pada Dav.
Pria itu baru datang sore karena ia keluar kota menggantikan Virgou. Seruni juga baru datang setelah melihat perkembangan pabrik roti dan kue juga cafe nya. Azha dititip pada Khasya. Wanita itu kangen ngasuh bayi katanya.
"Mau nyanyi apa Baby?" tanya Dav.
"Bawu ladhu pewasa don," jawab Bomesh.
"Lagu dewasa? Lagu apa?" tanya Dav bingung.
"Ladhu bandud ... bandul!" jawab Bomesh.
"Bandul? Lagunya kayak apa?" tanya Darren bingung.
"Bemana pidat pahu?" semua menggeleng.
"Ladhuna taya dhini woh ... beubuluh Pahu pudah pita beulumah tanda. pati pelum judha ... peunpanat tan butla .... janan peulsyedih ... panan beulduta .. pohon badana ... bala beuldoa ....!"
Semua menganga lebar. Menatap Gomesh. Pria yang ditatap mengendikkan bahu. Mereka menatap Maria juga sama.
"Dari mana Bomesh tahu lagu Mandul?" tanya Virgou gusar.
bersambung.
Dari mana sih anak bayi denger lagu Mandul?
next