
Virgou datang dalam keadaan kacau. Ia berteriak memanggil istrinya.
"Sayangku cintaku!'
"Iya Daddyku!' sahut Nai ikut-ikutan..
"Hei anak kecil, di mana Mommy-mu!' sahut Virgou asal pada Nai.
"Kak!" tegur Terra.
"Nai tidak tahu di mana Mommy-ku berada Daddy-ku!. Mungkin ia tengah diculik pria lain?" sahut Nai menimpali kegilaan Daddynya.
"Astaghfirullah, Nai!" tegur Terra.
"Apa! Siapa pria yang berani menculik bidadariku, Nai!" seru Virgou mengabaikan teguran Terra.
"Atulah yan mendulit bistlimu!" sahut Rasya sambil mendongakkan dagunya.
"Hei ... tolong, hentikan kegilaan kalian!" sentak Terra kesal.
"Mama, tenapa Mama pidat buan latsasa danten imi!" seru Dewa ikut-ikutan.
"Subhanallah, tolong hentikan!" ucap Terra makin stress dibuat pria dewasa yang memulai kegilaan.
"Hi, cantik! Kau diam saja ya," tiba-tiba Haidar langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.
"Mas!" Terra makin kesal.
"Ada apa ini? Kenapa keributan ini terjadi!" seru Puspita tiba-tiba. Wanita itu baru saja dari kamar di atas ia menuruni tangga.
"Oh, bidadariku!" sambut Virgou.
Terra makin melongo melihat kegilaan keluarganya.
"Assalamualaikum," Darren pulang bersamaan dengan Lidya.
"wa'alaikumussalam," sahut semuanya.
"Alhamdulillah, akhirnya," ujar Terra.
"Hai kau pemuda mau apa kau datang ke rumahku!' seru Virgou tiba-tiba.
Lidya dan Darren saling tatap.
"Oh tidak!" sahut Terra nelangsa.
"Aku ingin menjemput Mommy!" sahut Lidya.
"Cukup! hentikan!" teriak Terra.
Semua menoleh padanya. Terra sendiri kaget dengan suaranya yang cukup keras. Melihat Dewa dan Rasya ketakutan membuat Terra menyesal.
"Kenapa kalian mencari Mommy, sedang ada Mama di sini!" lanjutnya ikut-ikutan berakting.
Dan drama pun dimulai. Semua mengambil peran sesuka hati. Bahkan Bart yang keluar karena teriakan cucunya ikutan berdrama begitu juga Dave.
"Mama, lapan!" teriak Kaila yang memang dari tadi hanya diam.
"Sudah siap semua Baby," sahut Terra sambil membungkuk hormat.
"Badhus! Ila binta puapin!" sahutnya layaknya boss.
"Baik Baby!"
Kini semuanya duduk di kursinya masing-masing. Seperti permintaan Kaila, ia pun disuapi Terra. Usai makan, semua anak-anak main sebentar. Rion sedikit lelah, ia ingin istirahat cepat.
"Ma, Ion bobo duluan ya, ngantuk!" ujarnya pamit sambil menguap lebar.
"Iya, sayang," ujar Terra.
Rion pun naik ke atas bersama semua anak-anak. Mereka mengikuti ketua mereka.
"Jadi, Senin besok, David sudah bekerja di kantormu, Te?" tanya Virgou.
"Ya, dia akan pergi bersama Darren besok," jawab Terra.
"Kau tahu, perusahaanku lagi-lagi diserang hacker. Aku jadi pusing melihatnya," ujar Virgou lagi.
"Bagaimana jika tukar tempat, Te ingin Darren belajar dengan Daddy nya, David akan menjadi CEO di perusahaan Terra," usul Terra.
"Kau pikir bisa semudah itu!" seru Virgou dengan memutar mata malas.
Terra hanya terkekeh. Herman pun hanya geleng-geleng kepala. Bart juga merasa salah taktik, mestinya Darren tak perlu diangkat dulu sebagai CEO. Tapi, semua sudah terjadi.
"Aku akan membantumu Kak, toh di perusahaan Terra aku hanya sebagai pengawas via BraveSmart ponsel. Aku bisa dibilang pasukan bayangan perusahaan," ujar David menenangkan kakak sepupunya itu.
"Kau tau. Aku baru memecat sekretarisku tadi," adu Virgou.
"Loh emangnya kenapa?" tanya Herman.
"Dia tadi mencoba menggodaku," adunya lagi.
"Wah, enak dong!' celetuk Puspita.santai.
Virgou menganga mendengar celetukan istrinya. Semua menatap wanita lima anak itu. Puspita malah menatap aneh pada semuanya.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Suamimu digoda. Kamu bilang, enak?" tanya Terra.
"Lah, nggak enak gimana, kan digoda cewe cantik," jawab Puspita enteng.
"Kamu nggak cemburu, sayang?" tanya sang suami sedikit kesal.
"Eemm ... cemburu," jawab wanita itu.
"Trus kok kamu jawab kek tadi?" tanya Virgou makin kesal.
"Nggak apa-apa sih, cuma biar kamu kesel aja," jawab Puspita enteng.
"Astaghfirullah, istriku ini kenapa ya Allah!' pekik Virgou gemas pada istrinya.
Semua hanya menggeleng kepala. Budiman yang kini tengah mengamati pergerakan di layar BraveSmart ponsel, tiba-tiba berseru.
"Tuan Virgou. Ada gerakan mencurigakan di bagian divisi suplai listrik. Sepertinya mereka mencoba menyabotase!"
"Atasi Bud!" titah Virgou langsung.
Budiman langsung mengetik beberapa kata lalu. Di perusahaan di mana orang hendak menyabotase suplai listrik. Dikejutkan suara sirene.
Orang itu pun pura-pura sibuk mengamankan sesuatu. Ketika tangannya menyentuh panel power dan menekan push agar bertanda "Off".
Suplai listrik padam. Hanya sepersekian detik suplai pendukung menyalakan power kembali. Pria itu terkejut bukan main. Tangannya berkali-kali memencet tombol power agar off tapi tampaknya sudah tidak berfungsi.
Pria itu pun membenahi seragamnya. Lalu meninggalkan panel suplai listrik. Sedang di tempat lain Virgou tampak geram melihat gerakan pria tersebut.
"Dav. Kau bisa bantu aku kan?"
"Of course!' sahut Dav menjawab tegas ajakan kakak sepupunya dengan seringai kejam di wajahnya.
Herman dan Haidar juga ikut mengepalkan tangan mereka.
"Sepertinya sudah lama kita tak pesta otak," sahut Haidar.
"Sekarang waktunya otot yang bekerja," ucap Virgou menimpali.
Puspita dan Khasya merasakan aura dingin dari Virgou dan David. Kemudian keduanya menatap Terra. Wajahnya pun tak kalah menyeramkan.
"Jika ada Gisel di sini, pasti lebih menakutkan lagi," ucap Khasya yang ditanggapi anggukan oleh Puspita.
Gisel sedang bekerja. Ia akan pulang sebentar lagi mendatangi rumah Bart bersama kedua orang tua Budiman.
bersambung.
duh ... siapa lagi itu ... cari perkara.
next?