TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN RAKA



Lagi dan lagi berita heboh dikabarkan dari keluarga Karina. Wanita itu kini hendak berbesan. Bram sampai shock mendapati cucunya akan melangsungkan pernikahan beberapa minggu lagi.


"Apa-apaan kau Karina!" sentak Bram kesal. "Kenapa cucuku cepat sekali menikah!"


Pria itu masih mengira Raka berusia dua belas tahun. Ia masih berpikir Raka yang memiliki keistimewaan yang manja dengannya. Ia lupa jika kini usia Raka sudah dua puluh enam tahun. Bahkan sudah menjadi CEO menggantikan kakeknya.


"Papa, Raka kan sudah punya kekasih, mereka pacaran sudah mau dua tahun. Masa Papa lupa!" pekik Karina di seberang telepon mengingatkan pria tua itu.


Bram terdiam ia pun duduk di kursinya. Ia lupa akan hal itu. Raka bukanlah pria kecil lagi. Kini, Raka sudah ingin mengarungi biduk kehidupan yang lain lagi.


"Tapi, kenapa cepat sekali?" cicit Bram masih ingin mengelak akan waktu.


"Pa, ini sudah direncanakan. setengah tahun sebelumnya. Masa Papa lupa lagi?" tanya Karina kini mulai melunak suaranya.


Wanita itu sangat sedih. Ia pun sebenarnya ingin mengulang waktu di mana Raka kecil dulu. Namun, pikiran itu segera ia alihkan. jika Raka kecil lagi, maka Raffhan dan Zhieka tidak akan lahir.


"Pa!" panggilnya pada sang ayah yang masih terdiam di ujung telepon..


"Ya, Nak," sahut pria itu.


"Papa nggak lupa lagi kan kalo udah tua?" tanya Karina menggoda ayahnya.


"Ish ... kamu ini. Ya, sudah. Papa akan lakukan yang terbaik. Bukankah semua sudah diatur oleh mertuamu di sana?" sindir Bram.


Sungguh pria itu tak mengerti dengan jalan pikiran besannya itu. Tetapi, ia pun tak mempermasalahkan, buktinya dia juga nyaris lupa akan pernikahan cucunya yang tertua.


Keluarga Pratama tidak begitu kerepotan dengan pernikahan, Raka. Selain Nugie yang memang menghandle semuanya. I juga balas dendam ketika Bram tak pernah mengikut sertakan dirinya ketika Haidar menikah dulu. Padahal pria itu juga lupa jika sebelum Karina menikah kembali dengan putranya, ia masih bermusuhan dengan besannya itu.


Terra cukup terkejut dengan undangan yang diberikan oleh kakak iparnya itu. Ia sempat ngambek dengan Karina.


"Jangan ngambek gitu sayang. Kau tahu, papa mertuaku itu yang mengatur semuanya begitu juga dengan keluarga calon besanku," jelas Karina.


Terra hanya menghela napas panjang. Ia pun akhirnya mengerti.


"Te akan bawa semua anak-anak, biar makanan cepat habis," sahut Terra masih kesal.


Karina terkekeh mendengar gerutuan adik ipar kesayangannya itu. Memang, ia dan Terra sudah jarang bertemu semenjak ia menikah lagi dengan Zheinra. Tetapi, hubungan mereka masih terjalin sangat baik.


"Maafin kakak ya, yang jarang ngumpul bareng," pintanya sendu.


"Iya kak. Te, ngerti kok," sahut Terra tak mempermasalahkan.


Terra mengakhiri teleponnya dengan Karina. Ia melihat Lidya yang baru beberapa bulan lalu menginjak usia tujuh belas tahun. Wanita itu tiba-tiba merasa sedih.


"Sayang," panggil Terra pada anak gadisnya.


Lidya kini tengah mengajukan Program Profesi atau KOAS dan mengikuti ujian sertifikasi dan melakukan internship agar mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter. Selama mengambil program kedokteran ia juga mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dalam ilmu kedokteran jiwa selama empat tahun. Gadis itu masih harus menjalani beberapa studi lagi agar dapat menempelkan gelar dokter di depan namanya.


"Jadi kamu masih tiga tahun lagi selesai menjadi dokter prikiatri?" tanya Terra.


"Iya, Ma. Yang Iya hadapi adalah anak-anak yang memiliki kecenderungan mental tertentu. Iya, harus belajar banyak dan serius, karena ilmu kejiwaan tidak bisa diukur dengan buku," jelas Lidya.


Terra memeluk putrinya. Mencium kening Lidya. Wanita itu masih senang memanjakan anak gadisnya itu.


"Jadi, Mama masih lama ya melihatmu menikah?" tanya Terra takut-takut.


Lidya sedikit bingung arah pertanyaan ibunya. Lalu ia melihat undangan dari kakaknya tersayang, Raka. Ia pun tersenyum jahil.


"Iya, bisa kok. Ambil cuti setahun buat nikah dulu, trus kuliah lagi," jawabnya enteng.


"A-apa ...?" Terra shock mendengar jawaban putrinya.


Lidya terkikik geli. Lalu mencium Terra sayang. Terra pun menyadari jika sang putri tengah mengerjainya.


"Hais ... kamu ini," ujarnya gemas.


*Kecuali pria badut itu melamar Iya dalam waktu dekat ini. Siapa namanya ... euummm ... ah Damian Starlight!"


Di tempat lain.


"Hacchi!' sosok pria beriris biru bersin.


Kembali ke tempat Terra.


"Kau masih mengingat pria remaja itu?" tanya Terra mengagumi daya ingat putrinya.


"Iya ingat. Dia ganteng kan Ma?" tanya Lidya sambil menaik turun kan alisnya. Gadis itu masih setia menggoda ibunya.


Sedangkan di tempat lain, Demian berkali-kali bersin dan mengumpat.


"Hais ... kamu jadi genit gini. Mama akan adukan ini ke Papa, Daddy sama Ayah!" ancam Terra sebal.


"Ih ... Mama nggak asik!" rajuk Lidya.


Keduanya pun tertawa. Di sisi pintu Haidar mendengar semuanya. Ia begitu kesal akan perkataan putrinya yang akan menikah sekarang juga jika pria bernama Demian Starlight itu melamarnya.


"Ehem!" Haidar berdehem.


Lidya langsung bersembunyi di belakang ibunya. Terra memasang wajah datar pada sang suami.


"Papa pastikan kamu harus menyelesaikan studimu dulu!" ucap pria itu garang.


Lidya langsung memeluk Haidar, yang sedikit ngambek.


"Papa ... Iya hanya bercanda ..." rengek gadis itu.


"Lagi pula Iya baru tujuh belas tahun. Bisa jadi Kak Darren besok membawa anak gadis orang ke mari!' sahut Lidya mulai menakuti ayahnya.


Haidar sedikit panik mendengar itu. Pria itu langsung mencari keberadaan putranya.


"Pa, Darren masih di kantor!" ujar Terra mengingatkan.


Lidya kembali terkikik geli. Gadis itu bergelayut manja pada ayahnya.


"Papa, Iya sayang banget sama Papa. Papa adalah cinta pertama Iya," jelas gadis itu.


Haidar memeluk putrinya erat. Hal yang paling membuat ia takut adalah melepaskan putrinya ke tangan pria lain. Walau sulit, tetapi itu ia harus hadapi.


"Papa juga sangat sayang sama kamu, Nak. Papa percaya, kamu akan mendapat pria yang paling baik nanti," ujar Haidar menyelipkan doa untuk kebahagiaan putrinya.


"Aamiin, jadi boleh sekarang Iya cari pacar?" tanya Lidya.


"Kalau dia bisa ngalahin Daddy kamu, ya silahkan saja," sahut Haidar santai.


"Ih ... Papa nggak asik!"


Haidar mengabaikan gerutuan putrinya, ia pulang untuk makan siang. Terra membicarakan pernikahan Raka. Haidar juga cukup terkejut. Walau kini ia harus menerima jika dirinya sudah tua.


"Ternyata aku sudah tua, ya?" istrinya mengangguk setuju.


"Cuma, Papa nggak punya uban ya? Papa cat ya rambutnya?" tuduh Lidya.


"Sembarangan kamu!" elak pria itu.


"Hei .. ayo makan, tuh. Anak-anak pada lihatin papa dan kakaknya berantem di meja makan," sahut Terra.


Kean, Cal, Arimbi, Satrio, Nai, Sean, Al, Daud, Maisya, Affhan, Dimas, Rasya dan Rasyid hanya diam menonton orang dewasa yang tengah berdebat.


"Meleta nomon pa'a sih?" tanya Rasya yang ditanggapi gelengan oleh saudara kembarnya.


"Hus .. jangan campuri omongan orang tua!" sahut Rion sambil duduk.


Kini semuanya duduk dan makan dengan tenang.


bersambung.


et dah ... udah nyambung gitu yaa ...


next?