
Hari ini kelas Rion sedikit lengang. Gurunya mendadak sakit. Anak-anak baru boleh pulang setelah bel berbunyi. Rion berinisiatif ke kelas kakaknya.
Pria kecil berusia mau tujuh tahun itu mengetuk pintu. Sosok wanita berhijab membuka pintu. Guru itu tersenyum manis.
"Bu, boleh nggak Ion jadi murid kelas tiga, sebentar aja," pinta Rion dengan wajah memelas.
Siapa yang tak luluh dengan tatapan menghiba dari bocah tampan nan cerdas itu. Sang guru pun mengijinkan, pria kecil itu masuk. Lidya tersenyum melihat adiknya. Putri yang duduk di sebelahnya langsung memanggil Rion untuk duduk di antara mereka. Putri mengambil kursi kosong yang ada di belakang.
Rion menyambangi kursi yang diletakkan di tengah-tengah mereka.
"Terima kasih Kak Putri," ungkap Rion sambil tersenyum manis.
"Sama-sama, Dik," sahut Putri.
Mereka pun duduk kembali menyimak pelajaran gurunya. Kali ini membahas perkalian puluhan. Tentu dengan cepat bocah lelaki itu menangkap pelajaran tersebut.
"Oh, jadi jika puluhan dikali dengan satuan. Yang pertama kali dihitung itu satuannya dulu, ya Kak, baru beranjak yang ke puluhan?" tanya Rion.
"Benar Baby. jadi misalnya dua belas dikali dua. Jadi yang dijumlah dulu adalah dua dikali dua terlebih dahulu. Lalu jawabannya letakkan di bawah angka satuan. Baru setelahnya. Angka satuan dua ini kita kali puluhan yakni sepuluh. Dua kali sepuluh hasilnya?" jelas Lidya sambil memberi pertanyaan.
"Dua puluh!" jawab Rion.
Lidya meletakan angka dua puluh dengan angka nol di bawah angka satuan tadi. Rion bertanya.
"Kok taruh di bawah Kak? Bukan di sebelah angka empat tadi?"
"Kan yang dikali angka puluhan, Baby," jawab Lidya.
Rion mengangguk tanda mengerti. Maka, jumlah dari dua belas kali dua sama dengan dua puluh empat. Bocah lelaki itu begitu antusias belajar perkalian itu. Guru sangat senang melihat Lidya mengajari adiknya dengan sabar.
Bel berbunyi. Tanda waktu pulang. Mereka pun keluar bersama. Tiba-tiba dua anak laki-laki mencegat langkah mereka bertiga.
"Hei, Lidya ... ini buat kamu," ujar pria itu memberi satu kuntum bunga yang entah dipetik dari mana.
Rion menatap laki-laki yang sepertinya kakak kelas mereka. Pria kecil itu memandang Rion, lalu berusaha akrab dengannya.
"Hai adik, aku Kak Brahma," ujarnya memperkenalkan diri.
Rion hanya menatapnya tajam. Pria kecil itu tiba-tiba mundur teratur bersama dua kawannya. Rion hanya maju dua langkah. Mereka mundur empat langkah. Kembali Rion maju satu langkah. Mereka bertiga mundur dua langkah.
Rion menggertak mereka. Ketiganya langsung lari tunggang langgang. Lidya hanya menggeleng. Bunga pemberian kakak kelas itu direbut Rion lalu dibuangnya begitu saja.
"Baby!" protes Lidya.
"Apa kak!" sentak Rion memandang horor kakak perempuannya.
Lidya terdiam. Rion bukan bayi kecil lagi. Kini pria kecil itu akan melindungi kakaknya dari gangguan siapa pun.
"Ayo pulang!" ajaknya lalu menggandeng tangan sang kakak menuju mobil golf dan para pengawal yang menunggu keduanya.
Sampai rumah. Lidya mengadu pada sang ibu perihal kelakuan Rion.
"Mama, masa teman Lidya digalakkin Baby," adunya.
"Masih kecil udah ngasih-ngasih bunga, Ma!" Rion pun tak kalah mengadu kelakuan teman pria sang kakak.
"Sayang, yang Baby lakukan itu benar, Nak. Baby ingin melindungi kamu dari gangguan pria-pria genit, seperti temanmu itu," jelas Terra membela kelakuan Rion.
"Iya, Mama. Makasih ya Baby," Rion mengangguk.
Perlakuan Rion pun sampai pada pendengaran Haidar. Pria itu malah menyuruh putranya harus lebih garang.
"Kalau Papa yang ada di sana. Papa yang akan injek-injek bunganya. Ingat Lidya. Papa nggak main-main ini!" ancam Haidar.
"Iya, Papa," ujar Lidya menurut.
Lidya pun masuk kamarnya untuk mengerjakan tugasnya. Sedang Rion tengah bermain dengan empat adiknya. Haidar hanya mendengkus kesal.
"Pipis masih belum lempeng. Berani-beraninya kasih bunga ke anak gue!" gerutunya.
Terra hanya menggeleng. Sebagai seorang ayah, tentu akan protektif pada putrinya. Ia tak mau terjadi hal buruk pada sang putri Lidya.
"Sebentar lagi akan ada yang apelin Lidya deh," sahut Terra usil.
"Kuusir cowonya yang berani ngapelin putriku!" ancam pria itu.
"Siapa yang mau apelin Lidya?" tanya Budiman yang baru saja masuk.
"Bagus Tuan Baby. Jika ada pria yang coba-coba ganggu Kakak mu. Sikat saja!" titah Budiman dengan suara tegas.
"Astaghfirullah, kok ngajarin yang nggak bener sih!" protes Terra.
"Biar Mama. Nggak apa-apa. Rion akan lakukan apa pun untuk menjaga semua saudara Rion!" sela Rion dengan mimik muka garang.
"Ata', emanna penata? lada pan dandutin Ata Iya?" tanya Sean lagi.
"Iya, baby tadi ada yang kasih bunga buat Kakak Lidya," jawab Rion masih kesal.
"Loh, butannya badhus ya dipasih puna?" sahut Nai heran.
"Nggak boleh kalau yang ngasih laki-laki apa lagi masih kecil!" sela Rion dengan suara meninggi.
"Nanti kalau ada yang kasih bunga ke Baby Nai. Kakak Ion buang bunganya!" ancam Rion.
Nai diam. ia sangat takut jika kakaknya itu marah. Ia pun mengangguk.
"Iya, Ata' manti palo lada pan tasih puna. Nai peldili ban puan ipu puna!" sahut Nai tegas.
"Bagus, langsung buang bunganya kalo ada yang ngasih!"
Terra hanya menghela napas panjang. Jika ajarannya seperti itu. Anak-anaknya akan menjadi kasar dan arogan.
"Jangan main buang sayang. Ditolak secara baik-baik saja, itu lebih bagus," saran Terra.
"Padhi, manti Daud, pendat poleh tasih puna tama pelempuan?" tanya Daud serius.
"Tidak boleh!" seru Terra langsung.
"Oteh Mama!" sahut Daud mengerti.
Haidar hanya tersenyum masam. Ia sangat protektif pada anak gadisnya. Tetapi membiarkan sifat Don Juan mengalir pada para bujang kecilnya.
Pagi menjelang. Darren sudah siap. Pria remaja itu kini tengah mengikuti ujian akhir kelulusan. Hanya satu tahun saja, ia sudah ingin lulus SMP bersama empat sahabatnya. Keno, Genta, Cello dan Ferry.
Pengaruh Darren begitu kuat di sekolah. Terutama bagi empat murid laki-laki yang dulu pernah mengolok-oloknya. Para orang tua dari keempat anak itu pun sangat berterima kasih pada Darren.
"Ma, Pa. Darren berangkat dulu, ya. Assalamualaikum," pamitnya lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Terra mencium kening Darren sayang. Begitu juga Haidar. Dari sekian banyak anak remaja pria yang masih mau dipeluk ibunya di depan umum hanya Darren.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati, sayang," peringat Terra.
"Iya, Mama," sahut Darren.
Pria itu diantar pengawal dengan mobil Pajero sport merah milik Terra. Sedang Lidya dan Rion menggunakan mobil golf. Dengan pengawal empat orang. Mereka pun berangkat setelah pamit.
Kembali di sekolah, ketika pulang. Rion dihadang oleh tiga kakak kelas mereka. Keempat pengawal yang berdiri dibelakang anak-anak yang menghadang Rion menatap tuannya.
Rion hanya memberi kode saja, untuk tetap diam. Mereka diam di tempat. Ketiga anak itu pun mulai mengancam Rion.
"Eh, anak kecil. Kamu jangan sok berani sama kita-kita ya!" gertak salah satu dari mereka. "Kalo enggak, awas!"
"Emangnya saya takut gitu?" tantang Rion.
Ketiganya saling pandang. Tiba-tiba mereka mengeluarkan ular mainan dari tasnya. Banyak anak-anak berhasil kabur dengan mainan itu. Tetapi tidak bagi Rion.
Dengan sigap. Ia menarik mainan itu dari tangan anak yang menghadangnya. Lalu dilemparnya jauh-jauh mainan itu.
"Eh, itu harganya mahal!" teriak salah satu.
Rion mulai bosan meladeni. Ia pun menyingkirkan dua di antaranya. Keduanya bergeser memberi jalan. Salah satu dari mereka menarik tali tas Rion hingga putus.
Bug!
"Huaaa!" bocah lelaki yang memutuskan tali tas Rion kena bogem mentah dari pemilik tas sendiri.
bersambung.
ah ... cari perkara!
next?