TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
OKNUM LAGI? 2



Haidar dilaporkan oleh Warni sebagai penculik anak. Tentu saja sebagai warga yang melapor tindak kejahatan akan langsung ditindak lanjuti.


Kepolisian mendatangi Haidar memberi surat pemanggilan atas dugaan kasus penculikan anak. Berita tersebut menjadi viral. Banyak pihak tak percaya akan hal tersebut. Tapi, tak sedikit yang membuat berita ini menjadi simpang siur.


Bram sangat marah. Terra langsung melakukan pembelaan pada suaminya. Sofyan menjadi pengacara pun membuat satu alibi jika yang dilakukan Haidar bukan lah penculikan.


Kepsek taman kanak-kanak lepas tangan. Mereka tidak mau menjadi saksi. Mereka lebih menyarankan negoisasi secara damai.


"Kami tidak tahu menahu. Saya tidak akan mengatakan apa pun," sanggah kepsek Diana.


Terra menuntut pihak sekolah dengan dugaan pembiaran kekerasan terhadap anak yang terjadi di dalam ruang lingkup sekolah. Lagi-lagi pihak pendidikan nasional pun turun tangan. Memeriksa semua kelengkapan dan sertifikasi guru yang mengajar di taman kanak-kanak tersebut.


"Sekolah ini datanya lengkap dan sah secara hukum. Tetapi, ada beberapa sertifikasi guru yang tidak jelas keabsahannya. Sampai saat ini, kami akan terus melakukan penyidikan," begitu penjelasan salah satu direktorat diknas terkait.


"Pak, kenapa dari kemarin diknas selalu kecolongan. Semua anak dari saudari Terra menjadi korbannya. Apa selama ini diknas tidak menerima laporan dari korban lain?" tanya salah satu wartawan.


"Kami masih menyelidiki. Untuk semua kasus yang menimpa anak-anak didik kami terhadap oknum guru mereka!" jawab direktorat diknas lagi. "Untuk masalah kenapa baru anak-anak dari saudari Terra yang menjadi korban dan baru terekspos. Kami juga masih menyelidiki kasus serupa yang mungkin tidak dilaporkan atau ada ancaman lainya!"


"Lalu bagaimana kedepannya. Apakah anak-anak kami aman dititipkan pada sekolah? Jika nyawa anak kami terancam setiap harinya?" tanya wartawan lagi.


"Saya pastikan, anak-anak aman ditempatkan di sekolah. Ingat, hanya beberapa oknum saja yang terlibat dan hanya beberapa sekolah yang lepas tangan. Kita juga harus memberi dukungan pada sekolah yang benar-benar bagus di negara kita ini!" jelas direktorat diknas.


"Kasus kekerasan terhadap anak, sekarang masih diproses secara hukum. Kami selaku direktorat diknas setempat masih mengevaluasi. Menon-aktifkan guru yang terlibat dan harus wajib lapor!" jelasnya lagi.


Warni ditangkap pihak kepolisian atas dugaan kasus pencernaan nama baik dan tuduhan palsu.


"Ini tidak adil. Saya yakin dia memanipulasi semuanya. Dia kan orang kaya, jadi bisa menghukum orang miskin seperti saya!" teriaknya di depan wartawan.


Haidar geleng-geleng kepala. Pria itu tak habis pikir. Apa untungnya ia menculik Lana?


Budiman berada di rumah sakit tempat Lana dirawat. Komnas perlindungan anak juga mengawasi perkembangan kesehatan Lana.


"Lana, menderita gizi buruk. Selain trauma psikis berat yang mengguncang kejiwaannya. Anak ini juga menderita busung lapar. Sepertinya pasien tidak diberi makan secara layak dan standar gizi yang cukup," jelas dokter panjang lebar.


"Apa perlu penanganan konsultasi psikiater anak?" tanya Budiman miris melihat kondisi Lana.


"Untuk saat ini. Mungkin kasih sayang dan cinta dari keluarga yang ia butuhkan. Kami sekarang menangani gizi buruk dan busung laparnya," jelasnya lagi.


Kini Komnas perlindungan anak menuntut warni atas pelanggaran hak anak. Bukti medical cek up gadis kecil malang itu menjadi bukti betapa buruknya pengasuhan Warni.


Diana Spd yang di-no aktifkan pun kini merasakan bagaimana kekuasaan Haidar. Kepolisian menahan Diana sebagai pelaku tindak pidana penghambat penegak hukum.


"Saya bukan menghambat. Saya hanya ingin semuanya baik-baik saja. Mereka masih anak-anak jadi wajar jika nakal dan mengganggu temannya," begitu penjelasannya ketika ditanya oleh wartawan.


"Kami serba salah. Ketika kami sedikit keras mengajar atau mendidik anak-anak. Kami dituntut dan dilaporkan. Sekarang ketika kami membiarkan adanya kekerasan yang dilakukan antar anak, kami pun disalahkan!" protesnya tak terima.


Para wali murid yang mendapat protes demikian pun unjuk bicara.


"Kami akan marah jika para guru seenaknya memukul anak-anak tanpa kejelasan. Terlebih hanya masalah tidak mengerjakan PR . Dulu kami juga sekolah. Hukuman kami lebih terdidik. Kami disuruh menulis satu buku penuh atau berdiri di depan kelas. Hingga membuat kami malu."


"Kami lebih respect kepada guru kami yang menegur kami secara empat mata. Memberi kami nasihat dan menghukum kamu mengerjakan pekerjaan rumah dua kali lipat dari sebelumnya!"


Adu argumen terus masih berlangsung antar guru dan murid. Karena oknum satu orang, menjelekkan satu wadah pendidikan.


Warni kini menerima hukumannya. Mulutnya tak bisa lagi berkoar-koar, ketika Komnas perlindungan anak menuntunnya.


Terra bisa bernapas lega. Anak-anaknya aman di sekolah. Ia yakin tidak ada lagi oknum guru yang bisa sembarangan menyiksa murid.


Dinas pendidikan pun mulai mengolah ulang sistem pendataan guru. Mendata seluruh sekolahan dan para pendidiknya.


"Mama, temannya Iya, belum setolah ladhi ya?"


"Belum sayang. Lana masih dalam proses penyembuhan," jawab Terra mencium pipi gembul Lidya.


"Tasyihan ya," sahutnya iba.


"Uuuh ... baik banget sih princess-nya Mama," puji Terra mencium putrinya sayang.


"Mama, palo Ion dedhe emnti, emba lada yan pisya satitin Ion. Ion batal putun dia!" ujar Rion dengan ekspresi galaknya.


"Mama!" Baby Nai memanggil ibunya.


Terra terkejut. Itu adalah bahasa pertama bayinya. Lidya bersorak kegirangan.


"Baby Nai bisya nomong!"


"Baby iputin Ata' Ion, ya," ajar Rion.


"Papa," lanjutnya.


"Baba!" sahut Baby Al.


"Baba!" sahut Baby Nai, Ar dan Daud bersamaan.


Rion bertepuk tangan.


"Om Pudi!" Rion menyebut satu nama lagi.


"Bom Dudi!" pekik keempat bayi Terra.


Terra menepuk keningnya. Akan hancur semua nama orang jika bayi-bayi ini dipaksa berbicara seperti Rion.


"Baby, sudah biarin adik-adiknya ya. Nanti juga bisa ngomong sendiri," ujar Terra.


"Emba pa'a-pa'a Mama. Ion emba pedelatan," ujar Rion menenangkan ibunya.


Terra hanya bisa pasrah. Lalu membiarkan Rion mengajari adik-adiknya berbicara. Begitu juga Lidya.


Darren baru saja tiba. Pria kecil itu sedih ketika adiknya terluka. Ia menangis tersedu ketika melihat luka di dagu Lidya.


"Ma, Iya nya udah sembuh kan?" tanya Darren untuk kesekian kalinya.


"Sudah sayang. Kamu jangan khawatir," jawab Terra menenangkan putranya itu.


Terra sangat tahu betapa dekatnya Darren dengan Lidya dan Rion.


"Ganti baju sana. Trus kita makan siang bersama. Ntar lagi Papa pulang," titah Terra lembut.


"Iya, Ma," sahut Darren menurut.


Haidar pulang dengan raut wajah lega. Semua masalah telah selesai hukum tengah diproses. Berita miring pun sudah tidak ada lagi.


"Assalamualaikum," ujarnya memberi salam.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Mas," balas Terra.


"Papa pulang!" pekik Lidya kegirangan.


Haidar tersenyum lebar melihat gadis kecilnya. Rion masih menjadi guru dari empat adiknya yang memandanginya penuh minat.


Setelah mencium kening istrinya. Pria itu mencium gemas semua anak-anaknya.


"Baba!" panggil keempat bayi sambil tertawa.


"Kok Baba sih?" Haidar tak terima.


"Baba!" pekik Rion tertawa juga.


"Ah ini dia oknum bayi yang mengajari adik-adiknya," sahut Haidar gemas pada Rion.


bersambung.


Baba!


next?