TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MOOD WANITA HAMIL



"Astaghfirullah, bu ... apa ibu sadar jika yang ibu lakukan itu membahayakan!" sentak Saf pada pasiennya.


Wanita itu tak habis pikir. Dirinya sudah berkali-kali mengingatkan betapa lemah kandungan wanita itu.


Safitri memeriksa kondisi janin. Sedang sang pasien sudah bermuka pucat dengan air mata berderai. Ia bukan tak mengingat pesan bidan cantik itu. Tapi, di rumah ia sendirian. Suami dan ibu mertuanya tak peduli sama sekali dengan keluhannya. Tapi, mereka memaksa adanya keturunan.


Melihat pasiennya menitikkan air mata, membuat Saf menyesal memarahi wanita itu.


"Maaf bu, saya terlalu emosi," ujarnya menyesal.


"Tidak apa-apa Bu bidan," sahut wanita itu lalu mengusap air matanya cepat.


"Untung janin ibu baik-baik saja. Tapi, tolong. Jika ibu bersikeras. Bukan hanya janin yang hilang tapi nyawa ibu juga," jelas Saf prihatin.


"Mungkin dengan begitu mereka puas Bu bidan!" sahut ibu yang kini duduk di hadapan Saf.


"Lalu membiarkan mereka begitu saja?" tanya Saf sedikit meninggi suaranya.


"Saya bisa apa, saya sudah lakukan segalanya. Membantah dan melawan suami dan mertua saya. Tapi sang mertua menyatakan dulu ia pernah mengandung dan ia baik-baik saja," akhirnya wanita itu mencurahkan keluhan di hatinya.


"Sungguh, saya nggak mau ceritain aib rumah tangga ini. Tapi saya lelah Bu bidan. Saya capek!" keluh wanita itu akhirnya menangis.


Saf menghela napas panjang. Selama ibu ini memeriksa kandungannya. Sang suami tak pernah mengantar. Begitu juga mertuanya. Saf tak bisa memberi saran apapun kecuali mempertahankan janin dari perempuan malang itu.


"Saya tak bisa memberi saran apa-apa. Saya takut salah di sini," ujar Saf pada akhirnya setelah mendengar keluhan hati pasiennya.


"Tidak apa-apa Bu bidan. Saya malah terima kasih telah mendengar keluhan saya. Mungkin sekarang waktunya saya menyerah," sahut wanita itu lirih.


"Jangan pikiran macam-macam, Bu!" tekan Saf takut.


"Ibu tau itu dosa!" peringatnya lagi.


Wanita itu tersenyum.


"Saya tak akan mengakhiri hidup saya Bu!" sahut wanita itu meyakinkan.


Saf menghela napas panjang. Setelah ia memberi resep pada pasien dan memberi banyak petuah agar terus menjaga kesehatan dan ketenangan pikiran.


"Serahkan pada Allah. Bukan kah Dia Yang Maha Pemilik Hati manusia," nasihat Saf sebelum wanita itu pergi dari ruangannya.


Wanita itu mengangguk. Lalu berlalu dari sana.


Sisca hanya mengelus dada setiap mendengar bidan cantik itu meninggi suaranya, ketika menangani para pasien.


"Kenapa bapak nggak cegah ibunya makan sembarangan?" cecar Saf pada salah satu pasiennya.


Pria itu hanya diam ketika Saf mengoceh panjang lebar. Kadar garam pada pasien terlalu tinggi hingga membuat hati dan limpanya membengkak.


"Maaf Bu bidan. Saya akan lebih memperhatikan istri saya," ujar pria itu lemah.


"Nah gitu. Jangan sampai istri anda mengalami obesitas setelah melahirkan!" sentak Saf lagi garang.


"Ibu jangan cengengesan lihat suaminya saya marahin!" omel Saf pada pasiennya.


"Maaf Bu bidan," sahut wanita itu dengan wajah takut.


Hampir seluruh pasien mendapat omelan wanita yang tengah hamil muda tersebut. Sisca sampai berkali-kali meminta maaf pada para pasien yang habis diceramahi pedas oleh Saf dengan nada tinggi.


"Nggak apa-apa, Mba sus! Emang kami juga salah kok. Lagi pula, kalo nggak diperiksa Ibu bidan, kami nggak nyaman. Walau marah kek tadi. Tangan Bu bidan tetap lembut pas megang perut," jelas salah satu pasien dan di angguki semua tanda setuju.


Pasien berkurang. Saf menghentikan prakteknya untuk makan siang. Sang suami sudah datang dan mengajaknya untuk makan bersama dengan Lidya.


Kini semuanya ada di kantin. Setelah drama pagi hari tadi, baik Saf dan Lidya tak membawa bekal. Hanya Putri yang membawa bekal untuk dia dan suaminya.


"Kenapa tegang begini?" tanya Jac berbisik pada istrinya.


Putri mengendikkan bahu. Demian sudah memesan makanan. Saf hanya diam dengan wajah merengut. Ia masih kesal dengan pasiennya yang tak berhenti dari masalah.


Suasana sedikit tegang. Karena Lidya juga takut melihat wajah kakak iparnya yang galak.


"Sayang," panggil Darren penuh kesabaran pada istrinya.


"Apa!" ketus Saf.


"Astaghfirullah, sayang. Kenapa ketus sama suami?" tanya Darren tak suka dengan sifat istrinya.


"Pasien Iya juga dari tadi nyebelin," cicit wanita mungil itu.


Makanan datang. Ekspresi Saf langsung berubah ceria. Begitu juga Lidya. Mereka makan dengan semangat. Saf lupa dengan permasalahan barusan.


Usai makan. Darren membawa istrinya kembali ke ruangan prakteknya. Pria itu melihat pengawal adiknya baru keluar dari tempat praktek istrinya. Gio membungkuk hormat pada atasannya. Darren balas mengangguk.


Darren masuk bersama istrinya. Wanita itu duduk dengan mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


Darren mengecup perut istrinya mesra. Saf terkikik geli. Ia paling tak bisa dicium perutnya. Itu adalah area sensitifnya.


"Sayang," panggil wanita itu mesra pada sang suami.


Darren tersenyum lebar pada istrinya. Ia melabuhkan bibirnya pada bibir Saf, lalu memagutnya dengan lembut. Hanya sebentar, karena Darren harus mengontrol dirinya. Napasnya menderu. Menutup mata untuk menetralkan hasratnya.


"Sayang," sahut pria itu.


"Apa mas percaya jika janin di sini lebih dari satu?" Darren membelalak.


Tentu pria itu tak percaya jika istrinya mengandung janin lebih dari satu.


"Apa kau serius, sayang?" Saf mengangguk yakin.


Wanita itu sudah merasakan dari berat badannya. Ia pun memeriksa diri dengan meraba perutnya sendiri. Menekan di suatu tempat. Ia merasakan jika janinnya lebih dari satu.


"Aku ingin lihat sayang," pinta pria itu.


Saf mengangguk. Ia mengajak suaminya dan meminta Sisca untuk menangani para pasien selama ia memeriksakan diri.


Seorang dokter kandungan perempuan memeriksa kehamilan Saf. Ketika di USG. Dokter sangat terkejut dengan dugaan pasiennya yang tepat jika janinnya lebih dari satu.


"Wah, benar sekali. Janinnya ada dua eh tiga!" teriak dokter itu.


Darren mengucap hamdalah berkali-kali. Ia terharu melihat tiga kantung kecil berupa embrio. Kandungan Saf baru tujuh minggu. Tentu bentuknya belum sempurna.


"Alhamdulillah ya Allah ... ini anakku!" isaknya penuh haru.


Saf tersenyum, ia juga terharu. Keinginannya banyak anak seperti ibu mertuanya tercapai.


Lidya mengantar suaminya ke halaman parkir ditemani Gio dan Felix.


"Sayang," panggil Lidya mesra.


"Iya sayang," sahut pria itu.


"Kalau Iya hamil lebih dari satu bagaimana?" tanya wanita itu penasaran.


Demian terhenti lalu menatap istrinya. Wanita itu membalas tatapan suaminya. Binaran mata wanita itu begitu polos dan jujur. Demian benar-benar tak percaya dengan berita yang ia dengar kali ini.


"Kau tidak sedang bercanda kan?" Lidya menggeleng.


"Tidak sayang. Iya, tak bercanda. Iya hamil kembar dua!" tuturnya dengan bahagia.


Demian memeluk erat wanita itu. Seribu ketakutan dan kegelisahan sirna seketika ketika memeluk istrinya. Sedang Gio dan Felix terkejut mendengar berita itu.


"Nona!" panggil keduanya penuh haru.


Lidya memeluk dua pria itu. Gio terisak begitu juga Felix. Dua pria itu sangat mengenal nona mudanya. Mereka begitu dekat.


"Sudah jangan lama-lama meluknya!" tegur Demian cemburu.


Ketiganya terkekeh sambil mengurai pelukan. Gio mengucap selamat begitu juga Felix.


Demian pun pergi diantar oleh Felix. Gio kembali dengan senyum lebar di pipi. Ia bahagia mendengar berita yang baru saja ia tahu. Ia pun langsung masuk ke ruang praktek istrinya. Pria itu memberitahu pada Aini perihal kehamilan kembar nona mudanya.


"Alhamdulillah ... mudah-mudahan sehat semua ya sampai lahir!" ujar Aini lalu mengelus perutnya yang sudah berusia enam bulan.


bersambung.


wah Mama Terra langsung dapat cucu lima.


next?