TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEDATANGAN ORANG TUA BUDIMAN



Suatu sore, Budiman tengah bercengkrama dengan istrinya di teras. Hari ini dia sedang menikmati liburnya. Tidak itu saja, ia juga tengah menyiapkan pesta resepsi ke dua, dan itu kejutan untuk Gisel.


Gisel berada dipangkuan suaminya. Budiman merangkul mesra dan berciuman lembut dengan sang istri. Tak ada yang mengganggu seperti acara kencan dulu.


"Sayang," panggil Budiman setelah melepas tautan bibirnya.


"Hmm ...," sahut Gisel dengan napas keduanya memburu.


"Aku merindukan kita diganggu Tuan Baby," ujar Budiman menggosok hidung sang istri dengan hidungnya.


Netra biru itu menatap jenaka pada iris hitam di depannya. Gisel tersenyum mengingat kejadian itu. Delapan kali kencan dan delapan kali berakhir menjadi makan malam bersama dengan Rion.


"Aku juga merindukan itu. Suatu saat, ketika dia berkencan, aku akan merecokinya!" sahut Gisel balas dendam.


Keduanya pun terkekeh. Budiman mengangguk menyetujui rencana istrinya. Mereka kembali berciuman. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan panas. Untung, rumah mereka berpagar tinggi dan kokoh. Hingga tak satu mata mengintip.


Belum lagi para penjaga yang ada di post mereka. Mereka belum memiliki ART tinggal di rumah. Hanya saja tukang cuci dan bersih-bersih rumah datang pagi dan pergi setelah mengerjakan semua tugasnya.


Budiman mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar. Baru saja melangkah tiba-tiba sebuah bel berbunyi. Menandakan tamu datang. Budiman menghentikan aksinya.


Bel berbunyi lagi. Gisel turun dari gendongan suaminya. Lalu memencet intercom yang berhubungan dengan penjaga gerbang.


"Ada apa Pak?" tanya Gisel.


"Ada tamu ingin bertemu dengan Tuan Budiman, Nyonya?" sahut penjaga gerbang.


"Siapa?" kini Budiman bertanya.


"Mereka mengaku orang tua anda Tuan."


Jawaban penjaga gerbang membuat Budiman tegang. Sudah tujuh belas tahun ia pergi meninggalkan orang tua yang menyiksanya. Tangan pria itu terkepal. Ia berusaha menekan semua emosinya.


"Bang," panggil Gisel.


Wanita itu menatap dalam sang suami. Ia tahu pergulatan hati pria yang baru menikahinya hampir satu bulan itu.


"Ingat Kak Terra, Bang," sahut Gisel tersenyum penuh arti.


Budiman bungkam. Ia sangat ingat siapa Terra. Seorang gadis remaja yang dititipkan tiga orang anak sekaligus. Bahkan anak-anak itu hasil perselingkuhan ayah Terra.


"Mereka hanya ingin meminta maaf Tuan!" sahut penjaga lagi.


"Bang!" panggil Gisel.


Budiman masih bergeming. Ia ragu. Hatinya tak seluas Terra. Masih sakit, ia rasakan tendangan dan pukulan sang ayah. Buku-buku pelajaran yang disobek juga hinaan dari mulut pria yang semestinya memberikannya perlindungan.


"Aku ...."


"Jangan sampai Abang menyesal," Gisel memotong perkataan pria itu.


"Biar bagaimanapun mereka adalah orang tua Abang," ujar Gisel lagi.


Hati Budiman masih ragu. Walau kerinduan perlahan merasuk hatinya. Ia tidak tahu lagi kabar kedua orang tuanya. Seperti apa kondisi mereka.


"Bang!" panggil Gisel kini mulai meninggikan suaranya.


"Jangan kalah dengan ego Abang!" peringat Gisel.


"Anakmu butuh Kakek Neneknya!" sahutnya lagi.


Budiman menatap Gisel penuh selidik. Gisel akhirnya pun mengangguk Berita gembira yang mestinya jadi kejutan itu harus dia ungkapkan segera.


"Aku hamil, Bang," ujar Gisel. "Sudah dua minggu."


"Alhamdulillah ya Allah!" Budiman mengangkat tinggi-tinggi dan memutar istrinya.


Gisel terpekik. Mencium lama bibir suaminya. Tak ada pagutan. Hanya ciuman sayang. Gisel menatap sang suami.


"Susul Ayah dan Ibu Bang, suruh mereka masuk dan menyambut cucu mereka," pintanya dengan suara lembut.


"Aduh, Abang sayang. Kenapa nggak nyuruh petugas aja membawa masuk Ayah sama Ibu!" ujarnya gemas sambil geleng-geleng.


"Mana mereka?" tanya Budiman ketika sampai gerbang dengan napas terengah-engah.


"Mereka sudah pergi, baru saja," jawab petugas satpam sambil menunjuk sepasang suami istri yang sudah melangkah jauh.


Budiman menatap dua punggung ringkih yang saling bergandengan tangan. Terkadang tangan pria itu merangkul bahu kurus wanitanya dan mencium pucuk kepala wanita itu. Mengusap-usap seperti menenangkannya.


"Bapak, Ibu!" teriak Budi memanggil.


Karena jarak yang terlalu jauh, kedua insan itu tak mendengar panggilan Budiman. Hanya saja sang wanita berhenti.


"Pak, aku denger ada yang manggil?" tanyanya.


"Sudah lah, Bu. Nggak usah banyak berkhayal. Kita sudah berusaha menemukannya selama ia pergi dari rumah. Kini, dia sudah sukses. Apa iya dia masih mau mengakui kita sebagai orang tuanya?"


Sang istri menunduk. Ia ingat semua perlakuannya. menjadi seorang pelacur karena dijual oleh suaminya sendiri. Setelah kepergian putra mereka, baru tersadar kesalahan berat yang mereka lakukan.


Fery ingat, ia menyembah sang istri, mencium kaki wanita itu ketika hendak menjajakan diri. Mia yang seperti orang linglung pun terhenyak sadar. Apa yang baru saja ia lakukan selama ini.


"Sayang ... maafkan aku .. hiks ... hiks ... maafkan aku!" ujar Fery memohon maaf sambil mencium kaki istrinya.


Tubuh Mia luruh ke lantai. Biang dari kesalahan adalah dirinya sendiri. Hingga membuat sang suami gila dan dia juga ikutan gila.


"Mana Budiman?" tanya Mia mencari keberadaan putra mereka.


Semenjak itu. Mereka terus mencari kemana Budiman. Semua teman tidak ada yang tahu di mana keberadaan putra mereka. Kini, setelah delapan belas tahun pencarian mereka membuahkan hasil.


Fery membeli koran yang menampakkan wajah putranya yang ia cari. Ia sangat yakin, terlebih dengan bekas luka yang ada di tangan kanan pria itu. Fery lah pembuat luka itu.


Berkali-kali ia mengusap foto Budiman yang ada di koran tersebut. Mia pun menciuminya penuh kerinduan.


"Kita pasrah saja, ya Bu. Toh, kesalahan kita memang tidak pantas dimaafkan," sahut Fery menenangkan istrinya.


Langkah terseok dan tertatih menuju jalan utama. Mereka akan menaiki bis terakhir. Hari sudah mulai sore. Kaki Mia mulai bengkak. Gerimis tiba-tiba datang.


"Pak, kaki Ibu, sakit," keluh Mia meringis.


"Tahan, sayang. Sebentar lagi kita sudah sampai depan jalan besar. Tahan sebentar lagi, ya," pinta sang suami dengan lembut.


Mereka berjalan saling menuntun. Kaki Mia menyeret. Ia tak kuat lagi. Wanita itu pun jatuh. Sang suami tak mampu menahan topangan tubuh sang istri ikut terjatuh.


Bug!


"Aduh!" ringis keduanya. Lutut Mia berdarah.


Fery menangis melihat lutut istrinya terluka. Ia meminta maaf berkali-kali pada sang istri.


"Maafkan aku, sayang ... maafkan aku ... hiks ... hiks!"


"Ibu yang salah ... ini semua salah Ibu ... Pak ... maafin Ibu ya Pak ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


Kedua insan lanjut usia itu saling berpelukan dan menangis. Gerimis kecil perlahan menjadi besar. Tubuh keduanya basah. Sang suami mencoba mengangkat tubuh istrinya. Tapi tak bisa. Kakinya juga sakit akibat terjatuh tadi, sepertinya ia terkilir.


"Pak ... hujan, Pak!" ujar Mia sambil terisak.


Mereka menengadahkan wajah mereka ke langit. Meresapi tetesan air hujan yang membasahi tubuh mereka.


Tiba-tiba sebuah payung besar menutupi mereka dari derasnya hujan. Mereka berdua heran. Keduanya membuka mata. Sosok tampan menatap mereka dengan mata memerah.


Guratan kekecewaan, kesedihan tampak pada raut tampan yang selama ini mereka rindukan. Sosok yang sudah lama mereka cari. Putra mereka.


Bersambung.


Duh ... othor nangis kejer ... 😭😭😭😭😭


next?