TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CEK KEHAMILAN



Hari pun berlalu. Kini semua kembali pada tugas masing-masing. Saf dan Lidya telah membantu ibu mereka menyiapkan sarapan untuk keluarga.


"Ma, yang mandiin Arian dan Arraya, Saf aja ya?" pinta wanita itu semringah.


Terra mengangguk. Ia membiarkan menantunya memegang nyaris semua pekerjaan Saf memang sangat cekatan. Terra begitu terbantu oleh hadirnya menantu yang cantik itu.


"Mama," rengek Lidya.


"Apa sayang," sahut Terra.


"Kepala Iya kok pusing, ya?" tanya wanita itu.


"Duduk, dulu sayang. Kamu tadi malam tidur jam berapa?" tanya Terra menuntun putrinya untuk duduk.


Haidar, Darren, Demian, Rion, Nai, Sean, Al, Daud, Rasya dan Rasyid turun dari lantai dua. Mereka sudah rapi hendak pergi ke tujuan mereka masing-masing.


"Selamat pagi, Ma, Kak!" sapa Rio dan adik-adiknya kompak.


"Pagi sayang. Ayo, duduk sarapan!" titah Terra.


Semua duduk dan mengambil sarapan mereka. Terra menyiapkan makanan untuk suami dan putranya Darren. Sedang Lidya menyiapkan makanan untuk suami dan seluruh adik-adiknya.


"Kau pucat, sayang," ujar Demian khawatir.


Lidya hanya tersenyum lemah. Wajahnya memang sedikit pucat. Demian lalu menuntun istrinya untuk duduk.


"Ayo, sarapan dulu," ajaknya.


Lidya memalingkan wajahnya ketika Demian menyuapinya satu sendok nasi goreng.


"Hueek!" Lidya mual.


"Sayang," ujar Haidar, Terra dan Demian khawatir bersamaan.


Saf turun membawa dua bayi dalam gendongannya. Wanita itu tampak santai dan baik-baik saja. Ia meletakkan dua bayi dalam kursi khususnya. Arion dan Arraya sudah mengkonsumsi MPASI. Terra memberi mereka biskuit bayi untuk merangsang tumbuh gigi mereka.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Saf pada Lidya.


Lidya yang kepalanya bersandar pada bahu suaminya tampak pucat. Saf langsung memeriksanya. Satu tekanan pada beberapa titik di tubuh Lidya, membuat wanita itu pun berangsur membaik.


"Makan dulu, ya," ujar Saf.


"Mau disuap Mama Safitri," rajuk Lidya manja.


Saf dengan telaten menyuapi adik iparnya. Setengah piring nasi goreng pun sudah masuk di perutnya. Selanjutnya, ia menolak.


"Ya sudah. Yang penting ada isinya," ujar Haidar.


Terra sedih. Sepertinya awal kehamilan terjadi pada anak perempuan kesayangannya, Lidya.


Anak perempuan yang dulu rapuh dan ketakutan. Perlahan tumbuh menjadi sosok yang ceria dan sangat dewasa. Sosok penyembuh hati semua orang, kini tengah merasakan awal kehamilannya.


"Nanti, kita periksa ya," ajak Demian yang ditanggapi anggukan saja oleh istrinya.


"Kakak hamil ya?" tanya Sean.


Lidya mengangguk. Wanita itu yakin dengan apa yang ia rasakan. Mungkin janin itu belumlah tumbuh baru saja terbentuk. Tapi, ia sudah merasakan reaksi badannya yang aneh.


"Nanti, mau diperiksa sama Mama Saf aja ya," pinta Lidya manja.


Saf mengangguk. Ia sudah mendaftarkan dirinya untuk memeriksa. Ia juga merasakan keanehan pada tubuh terutama pada rahimnya.


Dua wanita yang memiliki kepekaan tinggi. Pasti langsung merasakan sesuatu yang terjadi pada tubuh mereka.


"Ya, sudah. Ayo kita berangkat," ajak Haidar.


Semuanya mencium punggung tangan ibu mereka kecuali Haidar yang mengecup kening istrinya.


"Assalamualaikum," sahut semuanya.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Terra.


Ani dan Gina menatap majikannya sendu. Mereka tentu mengenal Lidya dari usia empat tahun. Mereka sudah menganggap nona mereka anak sendiri.


"Nyonya, apa benar, Non Iya hamil?" tanya Gina dengan nada sendu.


"Iya, Bi. Sepertinya putriku hamil," jawab Terra dengan senyum samar.


"Mashaallah ... Non Iya ... moga Gusti Allah parengi kesehatan dan selamat sampai melahirkan!" sahut Ani berdoa.


"Aamiin," Terra dan Gina mengamini doa dan harapan Ani.


"Mba Rom ... Non Iya, hamil ... hiks!" gumam Ani haru.


Terra menitikkan air matanya. Ia pun membayangkan jika Romlah masih ada. Sosok wanita yang selalu bersamanya saat ia merawat ketiga anaknya. Darren, Lidya dan Rion. Romlah yang berlarian ke sana ke mari mengikuti Terra dan menggendong salah satu, entah itu Rion atau Lidya.


"Aamiin," Terra menangis.


Ani dan Gina memeluk majikannya. Sedangkan pembantu yang lain hanya menatap sendu peristiwa yang berlangsung.


Demian telah meminta ijin terlambat masuk karena hendak memeriksakan istrinya. Darren pun sama. Gio, Budiman Felix dan Hendra mengikuti mereka. Gio masih mengawal Lidya dan bertambah dengan suaminya. Bahkan Hendra yang menyetir mobil Pajero milik Lidya.


"Selamat pagi Dok!" sapa Aini dengan senyum ramah.


"Pagi Kak," sahut Lidya lemah.


Aini sedih melihat rekan seprofesinya berwajah pucat. Ia mengingat awal kehamilannya.


Lidya masuk ke ruangan praktek kakak iparnya. Saf lalu meminta wanita itu duduk. Ia pun mengecek tekanan darah Lidya dengan sebuah alat.


"125/80. Sedikit di atas normal," ujar Saf.


"Kita USG ya," Lidya mengangguk.


Ia benar-benar lemas. Kini dirinya telah berbaring di tempat brankar. Saf menutup sebagian kaki hingga perut, lalu menyingkap gamis yang dipakai Lidya. Mengoles gel di perut dan lalu menempelkan alat dan sedikit menekan


"Ini lihat, calon embrio!" seru Saf semringah.


Demian dan Darren langsung mendekati Safitri dan melihat pergerakannya. Tak ada yang berarti kecuali gelembung-gelembung kecil yang menyatu.


"Ini namanya calon embrio!" jelas Saf.


Lidya dan Darren tampak terharu melihatnya. Demian lalu mencium kening istrinya. Budiman dan Gio yang penasaran lalu masuk ke ruangan dan melihat layar kecil.


"Itu titik kecil itu adalah calon embrio?" tanya Budiman tak percaya.


Dulu, kehamilan Gisel saja, ia tak berani masuk ke ruang pemeriksaan. Bahkan ketika istrinya melahirkan, Virgou lah yang menemani Gisel di ruang bersalin. Budiman terlalu takut untuk masuk. Pria itu menangis sepanjang mendengar istrinya yang merintih kesakitan di luar ruang persalinan.


"Nona," panggilnya dengan suara tercekat.


"Baba ... itu calon anak Iya, Baba ... hiks!"


Semua terharu. Demian tak berhenti menciumi istrinya. Setelah memeriksa. Saf memberi catatan pada adik iparnya di sebuah buku.


"Ini pemeriksaan paling awal yang pernah dilakukan oleh tim bidan," jelas Saf haru.


"Semoga sehat dan berkembang baik ya Dek!" lanjutnya berharap.


"Aamiin!" sahut Lidya juga penuh harap.


"Bagaimana dengan hubungan badan. Apa masih boleh?" tanya Demian sedikit penasaran.


Saf sebenarnya ingin mengerjai adik ipar tampannya itu. Tapi urung ia lakukan.


"Tentu saja boleh. Asal hati-hati ya," jelasnya kemudian.


Demian tersenyum penuh kelegaan. Saf memberi pria itu resep berbagai vitamin untuk Lidya.


"Sebenarnya ini vitamin penambah napsu makan," ujar Saf. "Jadi jangan khawatir ya."


Demian mengambil resep itu dan langsung menebusnya.


"Aku berangkat kerja dulu, ya," pamitnya.


"Iya, Mas!" sahut Lidya.


Setelah mencium sang istri, pria itu pun pergi bersama Darren. Padahal Darren ingin memeriksakan kehamilan istrinya.


"Nanti, satu atau tiga minggu lagi," ujar Saf.


Wanita itu tentu tahu apa yang harus ia lakukan. Beda orang beda treatment bukan. Saf tidak seperti Lidya yang langsung merasakan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Walau sama. Tapi, Saf memilih menunggu hingga janin itu benar-benar sudah terbentuk.


"Iya, praktek dulu ya, Ma!" pamit wanita itu.


"Iya, sayang," ujar Saf lalu ia mengantar Lidya ke luar ruangan.


Gio dan Hendra ada di sana. Sedang Felix mengantar Demian ke kantornya. Sedang Darren dan Budiman sudah ke perusahaan.


Putri datang bersamaan dengan Sisca asisten dari bidan Saf. Setelah menyapa, mereka pun masuk ke ruang prakteknya masing-masing.


bersambung.


wah ... bumil


sory othor cuma satu up ... sakit perut.


next