
Sesuai janjinya. Jacob memberikan bantuan hukum pada Septian. Pemuda itu mendatangi kembali Prita, ia memutuskan hubungan, dengan alasan tak mampu memberi mahar yang diinginkan.
"Kau pembuat!' pekik Prita berang.
"Tak kusangka, kau hanya pria miskin!' sahut ayah Prita.
"Sudah, minta ganti rugi aja, selama kamu pacaran. Rugi waktu, tenaga dan perasaan!' sahut ibunya Prita.
"Dari mana ganti rugi? Selama ini saya yang bandar semuanya. Bahkan waktu saya jauh lebih banyak terbuang karena anak ibu!" sanggah Septian.
"Ya, sebagai pacar ya memang harus begitu dong!' sengit sang ibu.
"Kalo begitu Prita juga lumrah dong, secara dia itu pacar saya?" sahut Septian tak mau kalah.
Wanita itu terdiam Ia ingin menyela, tapi tak tau harus bicara apa.
"Aku nggak mau tau. akan kutuntut kamu atas pembohongan dan harapan palsu!" ancam Prita.
"Loh, gimana harapan palsu. Kamunya yang minta ke saya mahar terlalu besar. Saya, nggak sanggup, makanya saya berhenti dan memutuskan untuk memutuskan hubungan ini!" sahut Septian tegas.
Pengacara pun masuk.
"Siapa anda!" teriak ayah Prita.
"Saya pengacara dari Tuan Septian Dipto. Kami, bisa balik melaporkan anda dengan dugaan pemerasan. Kami sudah mengantongi bukti percakapan kalian!" ancam pengacara.
Ayah dan Ibu Prita terdiam. Prita yang hanya menggertak akan melaporkan pacarnya jika tak menuruti kemauannya, menjadi pucat.
"Mahar seratus juta dan meminta rumah menjadi atas nama anda itu namanya pemerasan!" ujar Pengacara tegas.
"Ayo, kita pergi ke Polsek. Kita laporkan seluruh keluarga ini dengan dugaan pemerasan tadi!' ajak pria itu pada Septian.
"Eeh ... eh ... eh, jangan gitu lah, Ian. Kan, kita tadi hanya bercanda. Ini prank!" sahut Prita tiba-tiba.
"Prank?" tanya sang ibu.
"Iya, ini hanya becanda kan Bu?" Prita meminta kerja sama sang ibu.
"Kan, kamu sendiri yang ngomong kalo mau minta mahar seratus juta sama rumah udah nikah setahun, kamu minta cerai?" ujar sang ibu membongkar rencana busuk putrinya.
Prita menatap kesal pada perempuan yang melahirkannya itu. Septian dan pengacara terbengong mendengar rencana itu.
"Semoga kau bahagia dengan pria lain, Prita!' sahut Septian.
Dua pria itu meninggalkan mereka. Prita berteriak memanggil mantan kekasihnya.
"Aku cinta kamu, sayang. Tidak ingatkah, masa indah kita, waktu pacaran!"
"Jangan ganggu aku lagi, Prita. Kita sudah putus. Dan jika kau masih nekat mengganggu keluargaku, tak segan-segan aku akan menjebloskanmu dalam penjara!" ancam pemuda itu.
Keduanya pergi dengan sedan mewah milik perusahaan. Prita menatap nanar. Ia yang terlalu serakah dan ingin berniat jahat pada pria yang mencintainya secara tulus, dari mereka masa sekolah.
"Aaahh ... gara-gara ibu nih!' gerutunya kesal.
Sang ibu hanya mengendikkan bahu saja. Ayah menjawil bokong istrinya.
"Dia kapok nggak digituin sama mantan pacarnya, Bu?' tanya pria itu.
"Sudah, kita lihatin saja, ikutin maunya. Lalu, kita bongkar tanpa sengaja kayak tadi," bisik wanita itu.
Septian kembali bekerja dengan giat. Kini, di rumah sakit, tampak Terra dan Haidar menjenguk ayah dari sahabat putrinya.
Dipto begitu terharu. Ia mengucap banyak terima kasih.
"Siapa yang bawa Bapak, ke rumah sakit ini?" tanya Haidar pada Putri.
Lidya sedang duduk bersama ibunya dan ibu dari Putri.
"Bu bidan Safitri," jawab Putri.
"Bidan Safitri?" Putri mengangguk antusias.
"Beliau menggendong ayah saya seperti menggendong bayi. Beliau kuat sekali!" puji Putri begitu bersemangat.
Dipto tampak malu. Ia baru tahu jika dirinya digendong oleh seorang anak gadis yang sangat kuat.
"Putri rasa sih, beliau bukan asli Indonesia deh, soalnya iris matanya abu-abu," jelasnya lagi.
Lidya mengangguk. Tentu ia tahu, siapa yang dibicarakan oleh sahabatnya itu.
"Dia yang menolong pasien yang gangguan mental karena diperkosa pamannya kan?" tanya Terra.
"Iya, Ma. Ternyata, Bu Bidan Saf juga punya ilmu akupuntur alamiah. Beliau tau titik-titik yang vital dan tepat. Hingga membuat efek stress pada pasien sedikit hilang," jelas Lidya panjang lebar penuh nada bangga.
"Mashaallah! Lalu kemana dia?"
"Sistim yang membungkamnya, sayang," sahut Haidar menjawab keingintahuan istrinya.
"Senin, baru beliau kembali bekerja," jelas Putri lagi.
Terra makin penasaran dengan sosok bernama Safitri Aurelie itu. Ia akan mencaritahu dari BraveSmart ponsel.
"Eh, mana Aini?" tanya Terra tiba-tiba.
'Aini kan lagi sibuk, tuh pasiennya bejibun!' jawab Lidya sambil menunjuk tempat praktek calon kakak iparnya itu.
Terra mengangguk. Ia melihat ada sekitar dua puluh orang pasien duduk menunggu giliran untuk diperiksa.
Terra dan Haidar cukup lama berbincang-bincang dengan kedua orang tua Putri. Hingga waktu makan siang tiba. Hendra membawa beberapa bekal makanan. Ternyata Terra ingin makan siang dengan orang tuah sahabat dari Lidya. Bahkan kedua anak itu juga ikut makan. Terra menunggu Aini, tetapi pintu yang tadi terbuka, mendadak tertutup rapat.
"Loh, kok pintunya ketutup?" tanya Terra.
"Siapa, Ma?" tanya Haidar.
"Itu Aini, padahal Mama tadi sengaja duduk dekat sini, biar dia liat langsung dan menyambangi. Kok, malah tutupan. Apa nggak liat ya?"
Lidya diam. Ia sangat hapal tabiat calon kakak iparnya. Beberapa hari lalu Rion datang mengunjunginya sendiri. Remaja itu baru pulang dari kuliahnya, ia mengeluh sedikit pusing.
Lidya dengan jelas Aini sudah keluar dari ruang praktek nya, lalu ia masuk lagi dan menutup rapat pintu. Entah apa yang ditakuti oleh gadis itu.
"Mungkin, nggak liat Mama kali," sahut Lidya.
Gio kesal. Ia tadi melihat, Aini sempat melongo di jendela. Pria itu mendatangi ruang praktek gadis itu lalu mengetuknya. cukup lama, baru lah gadis itu keluar.
"Nona, calon mertua Anda ada di sini? Kenapa anda tak mengunjunginya?' tanya Gio.
Nyes!
Tiba-tiba hatinya begitu sakit. Gio sampai menekan dadanya. Terra yang melihat dari jauh cukup terkejut. Aini lebih panik lagi.
"Astaghfirullah, sakit sekali!' pekik tertahan dari bibir Gio.
Terra bangkit dan berlari menuju ruang Aini. Haidar yang melihatnya langsung terkejut. Begitu juga yang lainnya. Haidar menyusul istrinya.
"Ada apa?" tanyanya gusar.
"Gio!" sahut Terra dengan wajah panik sedang Aini langsung menangis.
"Mas .. Mas Gio nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Om Gio!' dua adik Aini juga sedih.
Terra dan Haidar hanya terbengong. Terlebih pria itu. Ia menatap pengawal dari putrinya itu.
"Kita, ke dalam ya, saya periksa," ajak Aini lembut.
Sepasang suami istri itu hanya diam mengamati. Sedang Gio hanya memejamkan mata, nyeri itu masih ada.
"Kenapa, ada apa dengan hatiku?" tanyanya dalam hati. "kenapa aku merasa tak terima jika Aini adalah calon istri dari tuan muda Darren?"
"Saya, tidak apa-apa, Dok!' sahutnya tegas.
"Apa, Mas yakin?' tanya Aini masih khawatir.
"Ya, saya tidak apa-apa. Kemungkian saya tadi sedikit kena serangan jantung mendadak," jawabnya.
"Kalau begitu kamu harus cek up Gio!" titah Haidar.
"Tidak perlu, Tuan. Saya sudah merasa baikan," ujar Gio yakin.
"Maaf, jika mengkhawatirkan anda berdua Tuan, Nyonya!" sahut Gio lalu membungkukkan badan.
"Saya permisi," ujarnya lalu meninggalkan semuanya.
Ia menatap Aini dan menunduk tanda hormat. Haidar merasakan sesuatu. Ia sangat yakin itu. Terra juga bukanlah tak tau apa yang terjadi. Tetapi, ia hanya berharap jika itu hanya pikiran buruk yang menyerang.
"Sayang, ayo makan bersama. Ayahnya Putri dirawat loh di sini," ujarnya.
"Oh ya?" tanya Aini pura-pura tidak tau.
"Mba, lapal," rengek Radit.
"Ayo, makan yuk," ajak Terra.
Aini pun mengangguk, ia tak bisa menghindar. Kini semuanya pun makan bersama.
bersambung.
ah ... ketahuan kah?
next?