
Terra begitu kesal dengan cerita Aini. Wanita itu mengusap wajah basah gadis itu.
"Sayang, yang sabar ya. Terkadang orang-orang tamak memang susah untuk di bumi hanguskan," ujar Terra.
Aini terkekeh. Ia begitu nyaman bersama Terra. Ia merasa mendapat kasih sayang seorang ibu.
"Makasih Nyo ...."
"Panggil aku Mama!" potong Terra cepat.
"Mama?" tanya Aini heran..
Terra melipat bibirnya. Ia lupa jika putranya belum mengukuhkan dirinya untuk menjadi pasangan gadis itu.
"Jika kau tak keberatan sih," ujar Terra meralat ucapannya.
"Tapi ...," Aini masih ragu dengan semuanya.
"Panggil Tante juga tak apa-apa," sahut Terra lagi.
"Kalau saya manggilnya Ibu nggak?" pinta gadis itu takut-takut.
Terra tersenyum semringah. Ia pun mengangguk. Aini tersenyum. Lalu kemudian ia kembali meminta ijin untuk kembali bekerja. Terra meninggalkan Aini. Wanita itu akan mengunjungi putranya.
Sementara di rumah sakit, banyak berdatangan perawat baru. Lidya sangat antusias, Putri baru saja menyelesaikan studi keperawatannya. Lidya menginginkan sahabatnya itu menjadi perawatnya.
"Putri!" panggil gadis itu.
Si empunya nama menoleh. Gadis itu tersenyum. Setelah tiga tahun tak bertemu, kini ia kembali bersama sahabat baiknya, Lidya.
"Lidya!"
Keduanya berpelukan erat. Putri jauh lebih tinggi dari Lidya, bahkan tubuhnya juga lebih besar.
"Kamu semok sekali?" sindir Lidya.
"Ya, padahal makanku juga sama banyaknya dengan yang lain. entah kenapa jadi seperti ini," ujar Putri mengeluhkan berat badannya.
Lidya terkekeh. Putri harus melaporkan diri dulu. Lidya sudah menyusun semuanya, sahabatnya itu akan menjadi asistennya.
Setelah mendata diri. Putri akhirnya kini bekerja satu ruangan dengan Lidya. Gadis itu begitu cepat beradaptasi.
Setelah bekerja, makan siang datang. Seperti biasa Putri membawa bekal begitu juga Lidya. Kedua gadis itu tersenyum, lalu menukar kotak makan mereka.
"Ibu masih enak masakannya," puji keduanya pada makanan masing-masing.
Lidya dan Putri pun tersenyum. Lalu mereka pun menikmati makan siang mereka di ruang praktek Lidya.
Lidya yang memang sulit membaur dengan sembarang orang dari dulu. Gadis itu hanya berteman dengan beberapa orang saja termasuk dokter Aini.
"Dok, aku dengar kamu kuliah lagi ya ambil jurusan management rumah sakit?" Lidya mengangguk.
"Iya, Kakek yang nyuruh. Paling dua atau tiga tahun lagi lah, baru lulus," jawab Lidya.
"Jadi sekarang jabatanmu di sini apa. Nggak mungkin cuma Dokter aja?" tanya Putri lagi penasaran.
"Ya, masih itu. Kepala rumah sakit masih di pegang sama Profesor dokter Andi Suhandi PhD," jawab Lidya.
"Tiga tahun lagi beliau pensiun, langsung digantikan denganku," lanjutnya menyudahi makanannya.
Bekal keduanya kosong. Mereka pun kembali merekap data pasien. Putri mencatat beberapa jadwal Lidya yang akan melakukan konseling dengan beberapa pasien.
"Dok, lima belas menit lagi, anda akan ada janji konseling dengan pasien bernama Vero," sahut Putri memberitahu.
"Baik lah, persiapkan semuanya. Kau sudah mencatat apa saja yang menjadi perubahan dasarnya kan?" Putri mengangguk.
Untuk pertama kalinya, Putri berhadapan dengan pasien yang mengalami gangguan pada jiwanya. Dan rata-rata pasien Lidya adalah orang berada. Walau tak menutup kemungkinan ada orang kaum papa juga.
Sementara di benua lain. Demian memandangi jam tangan pemberian gadisnya. Ia juga memakai dasi yang dibelikan Lidya.
Pria itu kembali fokus bekerja setelah membelai dasi kesayangannya itu. Jacob juga sedang sibuk dengan laptopnya.
"Tuan, kita ada pertemuan dengan perusahaan Vox," ujar pria bawahannya.
Ada helaan napas terdengar di sana. Sungguh, ia ingin membatalkan pertemuan ini. Tetapi, demi profesionalitas. Akhirnya ia pun pergi juga bersama Jacob.
Butuh waktu sepuluh menit, untuk sampai di restauran tempat di mana mereka mengadakan meeting. Ada beberapa perusahaan ikut serta.
Meeting berjalan sempurna hingga ketika hendak menandatangani kontrak. Jacob membaca poin-poin yang sedikit aneh. Demian juga ragu untuk menandatangani berkas persetujuan itu.
"Oh ya Tuan-tuan semuanya. Saya ingin memperkenalkan direksi baru untuk menggantikan saya," ujar George Vox tiba-tiba.
Sosok gadis cantik masuk dengan anggunnya. Demian langsung memasang wajah tak suka.
"Tuan ... Anda tidak bisa begitu. Anda tahu, jika putri saya adalah satu-satunya ahli waris yang saya punya!" teriak George Vox.
Demian tak menanggapi teriakan itu. Kedua pria paling berpengaruh mendadak pergi, membuat semuanya jadi urung menandatangani berkas kerjasama itu. Sedang sebagian yang sudah tanda tangan langsung menyesal.
Ditinggal oleh salah satu investor besar merupakan aib bagi seorang pengusaha seperti George Vox. Pria itu sudah puluhan tahun merintis usaha, semua sepak terjang para pebisnis sangat ia ketahui.
Makanya, ia berani mengajukan poin-poin yang sebagian menguntungkan perusahaan yang ikut bergabung.
Sayang, ia lupa jika Starlight Co, tak perlu perusahaan seperti miliknya. Masih banyak perusahaan lain yang berkecimpung di bidang yang sama dengannya.
George kini duduk sambil mengurut kepalanya. Deborah duduk di sisi sang ayah. Ia meminta maaf, karena dirinya nyaris saja sebuah proyek yang dikerjakan ayahnya gagal.
"Daddy, maafkan aku!"
"Sudahlah tak apa. Ini adalah resiko yang harus kujalani. Kau jangan lagi memperkeruh suasana. Kita bisa mencari investor lain," ujar pria itu menekankan pada putrinya.
Deborah mengangguk. Ia kurang yakin melihat kemarahan Demian tadi. Ia sudah menyusun rencana.
"Aku pastikan dia kembali padaku," gumamnya dalam hati.
Kembali ke tempat Terra. Wanita itu sudah pulang dari tadi. Anak-anak sudah bangun dari tidur siang.
"Ayo mandi!' ajak Terra.
"Mama kita sudah besal, jadi pisa mandi seundili!' sahut Samudera menolak dimandikan.
Kaila, Rasya, Rasyid, Dewa dan Dewi mengangguk setuju. Balita-balita itu sudah mulai lancar bahasanya. Walau jika mereka kesal, mereka akan menggunakan bahasa yang hanya dia dan Tuhan yang tau artinya apa.
Terra memberengut kesal. Walau akhirnya membiarkan mereka mandi sendiri-sendiri.
Wanita itu meyiapkan semua baju-baju anaknya.
Setelah semuanya mandi, mereka turun ke bawah untuk mengganggu para pengawal yang bekerja.
Hari ini hari jumat, semuanya ingin menginap karena Sabtu besok hari libur. Rion datang bersama Haidar. Ia langsung mencari adik-adiknya. Rupanya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Babies, sini!" titahnya.
Semua anak-anak langsung mendekati kakak mereka, seperti anak itik yang mengerubungi induknya. Terra sampai terbengong melihatnya.
"Sayang, sini, biarkan mereka!" ajak sang suami lalu menarik tangan istrinya.
Mereka masuk kamar. Terra menyiapkan air mandi untuk Haidar dan juga pakaian rumah.
Setelah siap. Ia dan sang suami turun Terra mencari keberadaan anak-anak. Budiman sudah pulang, ia tersenyum lebar.
Tak lama, Herman datang bersama istrinya begitu juga Virgou. Lalu kemudian, Dav juga datang bersama Seruni yang makin lama makin kelihatan perutnya. Bart juga datang. Bram dan Kanya juga. Rumah Terra penuh dengan manusia.
Mereka semua membawa makanan enak dari luar. Terra bertanya pada Khasya ada apa gerangan.
"Nggak tau, Rion minta kita datang bawa banyak makanan," jawab wanita itu.
Tiba-tiba lampu redup. Rion sudah memegang mik. Musik pun terdengar. Remaja itu pun mulai bernyanyi.
"Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama ..."
Semua anak pun bernyanyi. Bersama, Darren dan Lidya juga ada di sana.
Darren memberikan buket bunga untuk semua wanita yang ia sayangi.
"Selamat hari ibu, Mama. Ba bowu!"
bersambung.
Selamat hari Ibu Readers ... ba bowu ❤️❤️❤️
next?