TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DARREN YANG PROTEKTIF



Mobil sudah masuk halaman rumah. Darren yang tengah mengawasi adiknya bermain di halaman depan, senang melihat ibunya pulang.


Namun sejurus kemudian, pria kecil itu menatap pria lain turun dari mobil dan hendak membuka pintu untuk ibunya, walau pintu itu sudah terbuka.


Lidya langsung berlari ke arah Terra. Sedang Rion berjalan tertatih. Balita montok itu memang sedikit kesulitan berjalan karena tubuh montoknya.


Terra menggendong Lidya dan Rion bersebelahan. Darren masih menatap tajam sosok pria yang belum dikenalnya.


Mendapat tatapan tajam dan begitu menusuk dari bocah usia delapan tahun itu, membuat Budiman sedikit bergidik. Pria yang dilatih ketahan fisik dan mental bertahun-tahun di sebuah camp khusus itu. Mampu dibuat tunduk oleh tatapan tajam Darren.


"Mama ini siapa?' tanya Darren dingin. Begitu dingin hingga bisa membekukan suasana.


Budiman menelan saliva kasar. Baru kali ini ia mendapat ancaman sebegitu kuat. Dan siapa sangka, jika ancaman itu dia dapatkan dari anak laki-laki berusia delapan tahun.


"Ah ... perkenalkan, dia Om Budiman. Om ini akan mengawal Mama dan kalian kemana pun," jawab Terra.


Jawaban Terra mencairkan tatapan juga pandangan Darren pada pria itu. Budiman langsung menilai jika putra dari majikannya ini sedang membuat benteng kokoh untuk melindungi ibunya.


"Ayo masuk," ajak Terra.


"Maaf Nona, saya akan tunggu di luar saja," ujar Budiman sambil menunduk hormat.


"Tenapa di luan? Mashuk aja eundak apa-apa, boleh tan Mama?" ujar Lidya centil.


Terra tersenyum. Budiman menahan senyumnya. Sedang Rion hanya acuh.


"Masuklah, Kak," titah Terra.


Budiman menurut. Pria itu masuk dan kemudian ia mengamati ruangan. Pria itu seperti mencari sesuatu. Darren yang sedikit tahu tugas seorang bodyguard akhirnya membiarkan pria itu masuk dan mengamati rumah ibunya.


Terra meletakkan Lidya dan Rion. Menyuruh salah seorang asisten rumah tangga untuk membuatkan minuman untuk Budiman. Sedang ia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


Sedang di sebuah ruangan nampak dua orang beda usia sedang beradu argumen.


Haidar protes pada sang ayah karena mengirimkan beberapa bodyguard pada Terra. Padahal pria itu sudah melakukan hal yang sama. Tetapi, tidak langsung terjun menemui Terra seperti apa yang ayahnya lakukan.


"Papa pakai dari perusahaan mana?" tanya Haidar masih kesal.


"Dari perusahaan "SavedLife" dari negara A," ujar Bram sedikit merasa bersalah.


Pria itu mengira putranya tidak menyewa pengawal untuk keamanan calon menantunya itu. Tenyata Haidar sudah melakukannya diam-diam.


Haidar mengingat perusahaan penyedia layanan khusus pengawalan untuk para kepala negara dan para konglomerat kaya raya. Bram juga memakai jasa perusahaan itu untuk keamanan Karina juga Kanya.


"Iya, tapi kelamaan. Cheryl nya udah kuusir keluar negara ini!" jelas Haidar.


"Iya, memang ada keterlambatan karena kendala cuaca di negara A yang sedang badai empat hari lalu. Mereka baru sampai tadi sore dan langsung menuju lokasi di mana Terra berada," jelas Bram lagi.


Tentu saja Haidar tahu. Para pengawal bayangan Terra melaporkan kejadian itu padanya. Sayang, bodyguard ayahnya sudah menciduk duluan tiga begundal itu.


"Papa tau jika Terra sudah tidak aman?" tanya Haidar.


Bram mengangguk. "Ya, Papa tau."


"Aku kurang suka sama sifat Terra. Gadis itu tidak melakukan apa pun padahal ia tahu jika dirinya dalam bahaya," jelas Haidar kesal.


"Apa itu trik Terra?" terka Bram. "Kau tau sendiri pacarmu itu penuh kejutan!"


Haidar mengangguk. Ia baru tahu jika kekasihnya itu bisa bela diri. Padahal di biodata gadis itu tidak menunjukan apa pun kecuali data lahir dan alamat juga jalur pendidikan.


"Ah ... diakan seorang IT terselubung. Siapa yang bakal tahu data dirinya secara komplit, jika ia menyembunyikan semua hal penting tentang dirinya sendiri!" pekik Haidar baru menyadari sesuatu.


Bram pun tercerahkan akan asumsi putranya. Pria itu juga baru menyadari. Jika anak dari salah satu mantan rekan juga saingan bisnisnya itu begitu spesial.


Bram mengenal Ben ketika mendiang ayah dari calon menantunya sedang merintis bisnis. Kepiawaian Ben dalam berbisnis patut mendapat acungan jempol. Siapa sangka hanya dalam jangka waktu dua tahun. Perusahaan yang didirikan melaju pesat.


Bahkan tak jarang Bram kalah tender dengan Ben ketika berebut sebuah proyek besar. Bram memuji kegeniusan Ben. Pria itu yakin jika Terra dituruni otak ayahnya, Ben.


Haidar berdiri. "Mau kemana kau?" tanya Bram.


"Ke rumah pacar lah!' jawab Haidar malas.


"Kau ini!" sungut Bram kesal.


Haidar pergi meninggalkan Bram. Pria itu pergi ingin menemui kekasihnya sambil melihat penampakan bodyguard Terra.


bersambung.


nah loh ... mas Haidar mau nemuin bodyguard Terra yang ganteng itu?


apa yang terjadi yaaaa ...


next?