TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HUKUMAN UNTUK SESIL



Rekontruksi gelar perkara sudah dilakukan oleh model dari kepolisian. Bahkan rekaman dari kemera pengintai di sekitar kantor membantu penyelidikan petugas. Sesil hanya bisa pasrah menerima hukuman hasil perbuatannya.


Sidang pertama adalah pembacaan BKP. Kehadiran saksi-saksi juga pemberian barang bukti. Semua menyudutkan Sesil sebagai pelaku tunggal. Gadis itu hanya bisa tunduk. Samidah menangis pilu melihat putri kesayangannya memakai baju tahanan. Pengacara yang membela pun tak dapat berbuat banyak kecuali mencoba meringankan hukuman bagi tersangka.


Sidang berhenti dan akan dilanjutkan tiga hari lagi. Yaitu, pembelaan terdakwa dan motif penyerangan. Sesil kembali dikonfontir berapa pertanyaan. Bahkan Terra, Haidar dan juga Budiman.


Jawaban dari Terra, Haidar dan Budiman sama. Sedang Sesil selalu berubah. Gadis itu banyak melamun dan mulai tertekan. Ia pun banyak menangis sambil meminta maaf tanpa menjawab pertanyaan.


"Nyonya. Saya mohon cabut laporan ini. Dia adalah putri kesayangan saya. Dia tidak bisa hidup lama jika dipenjara. Saya, mohon, Nyonya!"


Samidah tiba-tiba mendatangi Terra sambil bersimpuh. Budiman langsung menarik tubuh wanita itu. Bambang hanya bisa diam, matanya memerah menahan segala emosi dalam dirinya. Istrinya terlalu memanjakan putri bungsunya, dan ia membiarkannya.


"Saya selaku Ayah Sesil meminta maaf atas segala kelakuan putri saya," ungkap Bambang tulus.


"Saya memaafkannya, Pak. Tapi, maaf hukum harus berjalan, agar Sesil belajar banyak dari kejadian ini," ujar Terra bijak.


"Terima kasih, Nyonya," ujarnya berterima kasih.


"Sama-sama."


Bambang berlalu, ia pergi ke luar gedung pengadilan di mana Budiman menahan istrinya di sana. Ia menyambangi pria yang mencengkram kuat tangan Samidah. Wanita itu tak bisa berkutik.


"Terima kasih dan maaf," ujarnya lagi sambil meminta Budiman melepas cengkraman nya.


Budiman pun melakukan apa yang diminta oleh pria beruban itu. Kemudian ia pun masuk kembali ke gedung pengadilan di mana klien dan suaminya berada.


Tiga hari kemudian.Kondisi Sesil memburuk. Gadis itu sakit demam berdarah. Sidang pun ditunda hingga Sesil sembuh.


Terra dan Haidar cukup lelah dengan persidangan ini. Ia pun mulai iba dengan kondisi pelaku. Ia pun berembuk dengan pengacara mereka.


"Terserah anda berdua Tuan dan Nyonya Pratama," ujar Hendra S.H.


"Sidang akan tetap berjalan walau anda berdua mencabut laporannya," jelasnya.


"Kita lanjutkan saja ya. Kita nggak bisa menyepelekan hukum jika kita seenaknya berhenti di tengah jalan. Sedangkan para penyidik sudah melimpahkan waktunya. Mestinya dari awal ketika Bu Samidah meminta jalur kekeluargaan kita setuju," jelas Terra panjang lebar.


"Baiklah kita lanjutkan. Kota akan kembali menghadiri sidang ketika Sesil sembuh!" ujar Haidar menyetujui apa kata Istrinya.


Mereka pun akhirnya menunggu sidang selanjutnya. Hingga Sesil dinyatakan sembuh.


Satu minggu berlalu, sidang kembali dilanjutkan. Sesil sembuh. Tubuh gadis itu lebih kurus dari semula. Sang ibu tak berhenti mengeluarkan air mata. Sedang sang ayah hanya menatap nanar putrinya yang duduk di kursi pesakitan.


"Tidak ada yang mulia!" jawab Sesil lemah.


Wajah gadis itu masih pucat. Sidang terus berjalan dengan pembacaan tuntutan.


"Baiklah, setelah membaca dan melihat juga mendengar berbagai saksi. Semuanya memberatkan anda sebagai tersangka utama. Anda terbukti melanggar undang-undang ....."


Hakim membaca tuntutan pada Sesil. Gadis itu hanya menunduk. Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia benar-benar menyesal melakukan perbuatan kriminal.


"Dengan ini, saya sebagai hakim ketua memutuskan saudari Sesil Adinda Putri binti Bambang dinyatakan bersalah dan diberi hukuman lima belas tahun penjara dipotong masa tahanan tiga bulan. Atau bisa membayar denda sebesar seratus delapan puluh juta.!"


Palu hakim diketuk tiga kali. Sesil menangis. Samidah pun langsung berhambur memeluk putrinya. Para sipir mulai mengurai pelukan itu. Hakim menyuruh mereka digiring ke tempat yang lain.


Terra, Haidar dan Budiman pun bernapas lega. Setelah berbulan-bulan mengikuti sidang perkara, akhirnya selesai semua. Terra bisa tidur dengan nyenyak nanti malam.


Sepuluh orang menjadi pelindung Terra dsn Haidar dari sorotan kamera wartawan. Keduanya enggan menanggapi pertanyaan. Pengacara Hendra yang meladeni mereka.


Terra dan suaminya menaiki mobil. Di depan Budiman dan Iskandar duduk mengawal. Sedangkan dua mobil bodyguard pun mengamankan mobil Terra. Kini Haidar menambah penjagaan untuk istrinya.


"Kak, kita langsung pulang ya. Aku lelah," pinta Terra.


Belum juga Budi menjawab tiba-tiba ponsel Terra berbunyi. Rommy menelponnya. Ia harus datang ke kantor untuk melakukan meeting dengan perusahaan DY company milik Bart, kakeknya.


"Kak, kita ke kantor. Te lupa ada meeting nanti sore!" titah Terra.


"Baik, Nona!"


"Mas, mau pulang atau ikut Terra atau mau ke kantor?" tanya Terra pada suaminya.


"Ikut kamu aja," jawab Haidar.


Mereka pun menuju kantor mereka. Siapa sangka Bart datang khusus sekalian bertanya perihal persidangan. Pria renta itu baru bisa datang hari ini karena di sana ia dan dua putranya mengurusi perusahaan.


Bersambung.


maaf ya othor nulis nya dikit-dikit ... kepala othor agak pusing. Jika kuat akan dilanjut nulis ... jika nggak maaf satu ini aja yaaa


next?