
"Darren juga harus masuk ke dunia mafia!"
"Darren!" peringat Virgou.
"Daddy," rengek pria itu.
Saf membola. Prianya tiba-tiba berubah jadi anak kecil yang merajuk pada ayahnya. Darren sangat ingin sekali seperti Rion.
"Daddy, boleh ya ... Darren mau seperti Baby. Jadi penguasa dunia hitam dan dunia aslinya," ujar pria itu memohon.
"Kenapa anakku mau jadi mafia semua," keluh Terra.
"Darren nanti kita ngobrol. Sekarang, kalian baru datang. Istirahatlah dulu," titah Haidar.
"Bawa pasangan kalian ke kamar kalian!" lanjutnya.
Darren menuruti perintah ayahnya. Begitu juga Lidya. Mereka membawa pasangan mereka masing-masing ke kamar.
"Sekarang, Baby bawa adik-adikmu ke teras. Semua sudah diputuskan!" ujar Haidar lagi.
Rion mengangguk. Ia pun mengajak adik-adiknya menyusun rencana. Menjebak peneror dirinya dan Sean.
"Mas, masa kita biarkan Baby menyelesaikan masalahnya sendiri," ujar Terra khawatir.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita biarkan Baby mengatasi masalahnya, aku yakin dia bisa menyelesaikan sendiri," sahut Haidar.
Terra menghela napas berat. Ia memang harus belajar melepas putra-putrinya menyelesaikan sendiri masalah mereka. Ia sebagai orang tua hanya bisa memantau dan memberi arahan saja.
"Benar dugaanku. Lidya dan Darren pasti memiliki insting kuat pada masalah yang dihadapi saudara mereka," ujar Bart.
Semua mengangguk setuju. Kedekatan mereka memang tak bisa dipisahkan. Terra sangat senang akan hal itu. Semua saling melindungi satu sama lain.
Sementara di tempat lain. Sosok pria menampar beberapa anak buahnya. Mereka tak bisa bergerak karena polisi sudah menyelidiki dan mereka nyaris saja tertangkap.
"Apa kalian tidak bisa membunuh lalat saja!" bentak pria dengan kumis melintang itu.
"Tapi, lalat itu dilindungi oleh pasukan terkuat yang pernah ada Tuan!"
"Diam kau!" bentaknya tak terima.
Pria itu menampar lagi anak buahnya hingga terkapar di lantai dengan mulut sobek dan berdarah.
"Aku tak peduli. Mereka terlalu banyak memonopoli bisnis. Nyaris semua bisnis mereka kuasai!" seru pria itu tak terima..
"Bagaimana dengan dunia hitam, apa kerjasama kita dengan klan BlueStar bisa diteruskan?" tanya pria itu.
"Hanya itu harapan kita, Tuan. Ketua Klan BlueStar bernama Kierra Zavias sangat ingin menghabisi keluarga Hudoyo!" jawab pria lain.
Bruno Folks mengangguk puas. Pria itu adalah salah satu kolega yang dikalahkan tendernya oleh Sean dan Rion. Dua remaja yang ia kira bisa ia pancing dengan kecantikan wanita dan harta melimpah. Sayangnya, pria itu tak menemukan Sean atau pun Rion di klub malam mana pun.
"Aku punya rencana paling muktahir. Sebar rumor jika Rion Hudoyo dan Sean Pratama memiliki hubungan sejenis!" titah pria itu.
"Tapi Tuan, mereka ...."
Plak! Belum habis pria itu mengatakan sesuatu sudah dipukul lagi dengan keras.
"Turuti saja perintahku bodoh!" teriak Bruno marah.
"Mereka kakak beradik!" teriak anak buahnya.
"Bilang saja incest!" teriak Bruno tak mau kalah.
Pria itu terdiam. Ia tak berpikiran untuk ke arah hubungan sedarah.
"Edit foto Rion dan Sean seakan melakukan tindakan tak terpuji!" ujar pria itu dengan kilatan mata licik.
"Maka semua pebisnis akan menghujat mereka!"
Mengalir lah rencana licik keluar dari mulut pria bertubuh sedikit gempal itu. Ia memang sangat membenci dua keluarga yang kini sudah merajai bisnis. Pratama dan Hudoyo. Pria itu membutakan mata untuk mengetahui seluk beluk semuanya.
"Mereka terlalu serakah dalam bisnis," ujarnya.
Padahal kualitas lah yang membuat semua proposal Bruno kalah telak di setiap proyek. Pria itu mengandalkan wanita cantik untuk memperoleh tender. Walau sumber daya manusia dan sumber daya tekhnologi yang ia miliki hanya berkelas standar. Bahkan Pria itu tak mengandalkan modal besar. Berbeda dengan perusahaan pesaing lainnya yang mengajukan kualitas, baik itu sumber daya manusianya mau pun tekhnologi yang ditawarkan.
"Tuan, kami tak mendapatkan Foto Sean Pratama atau pun Rion Hudoyo tengah bercengkrama secara intim!" sahut salah satu anak buahnya.
"Aku tak peduli!" bentak Bruno murka.
"Sudah kubilang. Sebar dulu beritanya!"
Anak buahnya pun mengangguk lalu mulai menyebar berita itu.
Hanya dalam waktu lima menit. Sebuah portal berita online mengangkat tema.
"Sean Pratama dan Rion Hudoyo terlibat asmara terlarang?"
Seperti diketahui masyarakat. Jika sekarang kepemimpinan Hudoyo Grup dipegang oleh anak kemarin sore yang baru menginjak lima belas tahun. Sedangkan perusahaan Bermegah Pratama diambil alih oleh Rion Hudoyo. Bukankah itu cukup mengherankan? Kenapa bukan keturunan asli masing-masing untuk memimpin perusahaan? ...
Begitulah berita yang tertuang di halaman portal itu. Semua orang pun mulai berpikir.
"Eh, bener juga ya. Kenapa bukan Rion yang menjadi wakilnya Darren namun Sean. Mereka kan om dan ponakan!"
"Benar itu. Terra merupakan kakak dari Darren sedang Sean adalah putranya. Tentu mereka memiliki hubungan darah. Apa itu sengaja agar kepimpinan terbalik seperti itu?"
Rentetan pertanyaan diajukan oleh para pebisnis yang tadinya tak mempermasalahkan soal kepemimpinan perusahaan keluarga Pratama dan kelurga Hudoyo.
"Aku dengar jika kepemimpinan Hudoyo cyber tech juga tidak dipimpin oleh putra Terra atau adiknya. Melainkan keponakan Terra yakni Calvin Black Dougher Young!"
"Loh, kenapa bukan Ali Narendra Hovert Putra Pratama yang menjadi direktur utamanya?" tanya salah satu pebisnis.
Kericuhan terdengar di telinga Terra. Wanita itu kesal bukan main. Ia yang memiliki perusahaan bahkan pada pemegang saham tidak pernah keberatan sama sekali tentang anak-anaknya yang memegang kendali bisnis.
"Itu perusahan ku. Kenapa mereka pusing dengan siapa yang memimpin. Apa mereka tidak tahu bagaimana putraku melewati proses penerimaan kerja?"
Wanita itu kesal bukan main. Bahkan kini berita portal sudah berada digenggaman tangannya. Ia benar-benar marah.
"Sepertinya aku akan menuntut berita portal ini karena menyebarkan berita tidak benar!" tekad Terra.
Wanita itu langsung melaporkan tagat berita yang menyebarkan isu. Tentu saja. Berita itu langsung diblokir oleh pemerintah. Berita tentang kepemimpinan perusahaan pun mulai mereda. Bahkan banyak orang tertangkap akibat berita itu.
"Nyonya Pratama. Kami mendapatkan berita itu dari sumber tak dapat dipercaya, kami tidak tau!" sanggah kepala tagat berita.
"Itu masalah anda, Pak. Kenapa tidak bertanya dan konfirmasi pada kami?" sahut pengacara keluarga Terra.
"Kami tidak peduli. Kami akan tetap menuntut portal berita yang tidak benar itu karena sudah mencoreng nama baik klien kami!" seru pengacara.
Pihak portal berita online tak bisa berkutik. Mereka memang melakukan kesalahan besar hanya asal mengambil berita tanpa tau sumbernya dari mana. Bahkan ketika mereka dimintai bukti, mereka tak bisa mengeluarkan bukti apa pun.
"Dari mana berita tentang hubungan asmara terlarang itu?" tanya Haidar gusar ketika melihat berita tentang dua putranya terlebih ia tak mengenal para narasumber.
"Tahu apa mereka tentang anak-anak ku!" pekiknya kesal luar biasa.
Ia melempar ponsel seharga dua puluh tiga juta itu. Haidar benar-benar tak habis pikir.
Seluk beluk Rion pun kini banyak orang menyelidiki. Dulu yang semuanya tak peduli dari mana asal remaja itu. Kini semua mengungkit asal usul Rion.
"Eh, bukankah dia putra dari hasil hubungan gelap mendiang Ben Hudoyo?" tanya salah satu pebisnis.
bersambung.
Kacau ... kacau jika sudah menyangkut masalalu.
Next?