TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GELAR BANGSAWAN



Besok, semua keluarga Terra harus memenuhi panggilan dari kesultanan Jawa. Sebuah penyematan gelar dan pencatatan silsilah keluarga.


"Semua diundang, Yah?" tanya Terra tak percaya.


"Iya, semuanya. Mereka akan diberi gelar kehormatan dari kesultanan. Hanya kau diberi gelar kebangsawanan utama karena Ibumu, Aura sedang anak-anak mu akan diberi gelar nomor dua. Rara Ayu untuk Nai dan Raden untuk Sean, Al, Daud, Rasya dan Rasyid. Sedang untuk yang lain disemat kan Daulat Raden untuk laki-laki dan Daulat Ayu untuk perempuan," jelas Herman.


"Waw ...," Haidar ternganga dengan gelar-gelar bangsawan itu.


"Kalau ayah sendiri gelarnya apa?" tanyanya.


"Kanjeng Gusti Pangeran Harya atau disingkat KGPH," jawab Herman.


"Jadi, Satrio, Dimas, Dewa pakai gelar itu?" Herman mengangguk.


"Kalau yang perempuan gelarnya Raden Ayu, itu untukmu nanti," jelas Herman lagi.


Terra hanya diam menanggapi. Sungguh, ia merasa berat memakai gelar itu terlebih, ia tidak begitu suka dengan status barunya. Tetapi, ini penting karena melestarikan budaya dan juga menjaga markah keturunan, agar tak hilang ditinggal jaman.


"Bukan karena gelarnya yang membuat kita bangga. Tetapi, kelestarian budaya lah, yang harus membuat mu bangga, Te!" tekan Herman mengetahui kemelut keponakannya itu.


"Kamu kira Ayah mau pakai gelar ini?" lanjutnya malas.


"Jujur, ketika Kakekmu masih hidup, aku dibawah kekangan menjomlo hingga usia enam puluh dua," lanjutnya.


"Iya, Yah," keluh Terra.


"Ayah," rengeknya kemudian.


"Apa?" sahut Herman.


Wanita itu bergelayut manja pada pamannya itu. Herman sangat paham jika Terra berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Sudah, sudah ... Ayah tak apa-apa," sahutnya.


"Ayah juga nggak menyesal karena Ayah sudah bahagia sekarang," lanjutnya.


Bart datang dengan tergopoh-gopoh. Leon sudah pulang dua hari lalu. Pria itu masih tak percaya jika ia dipanggil oleh kesultanan Jawa.


"Apa kau yakin aku juga diundang datang?" Herman mengangguk.


"Bram dan Kanya juga diundang hadir untuk disematkan kehormatan," jawab Herman.


Bart langsung heboh sendiri, ia bingung ingin pakai baju apa. Herman menyatakan jika semuanya nanti akan memakai baju adat.


"Jadi dari sini aku harus menyewa atau membeli baju itu?" tanya Bart lagi.


"Tidak, Dad. Di sana sudah disiapkan semuanya. Kita sekalian jalan-jalan ke candi Borobudur dan Prambanan juga candi Mendut," ajak Herman.


Bart pun lega. Ia sangat antusias. Terra juga belum pernah ke candi atau tempat wisata di Jawa. Ia akan memuaskan dirinya nanti.


"Sekalian bulan madu sayang," ujar Haidar lalu menempelkan dirinya.


Terra tersenyum penuh arti. Herman memutar mata malas. Usianya sudah terlalu tua untuk bermesraan dengan istrinya.


Terra menyuruh semua anak-anak untuk menyiapkan perlengkapannya sendiri. Undangan itu bertepatan dengan liburan panjang. Jadi semua tak perlu khawatir.


"Kita menggunakan kereta saja ya, biar seru!" sahut Herman memberi ide.


"Satu gerbong eksklusif aku sewa untuk semua keluarga!' lanjutnya bersemangat.


"Kalau naik kereta, mau berapa lama sampai?" tanya Bart.


"Hanya delapan jam saja jika kita pakai kereta cepat," jawab Herman lagi.


Bart pun mengangguk. Ia juga ingin mencoba sensasi baru menaiki kereta api. Pasti akan menyenangkan.


Mereka semua lupa dengan masalah Lidya kemarin. Gadis itu pun sudah kembali berdamai dengan adiknya Rion, karena memang remaja itu tak lagi memperkeruh suasana. Lidya tak mengetahui jika Rion sudah melakukan investigasi ala remaja itu.


Darren sudah mengambil cuti jauh-jauh hari. Begitu juga Lidya. Herman sudah memperingati keduanya. Haidar dan Rion pun sama. Budiman, David dan Virgou sudah diwanti-wanti oleh pria tua itu.


"Kita nurut aja. Jangan sampai Ayah ngamuk. Nggak aman kita kalo dia ngamuk," sahut Virgou ketika Budiman dan David enggan ikut.


"Ck ... kenapa ayah harus bangsawan sih!' keluh Budiman.


"Yee ... mana kutahu!' sungut Virgou kesal.


Akhirnya, semua pun ikut. Herman menyewa tiga gerbong eksklusif untuk keberangkatan mereka. Membeli karcis online berangkat pulang pergi.


"Dik, aku akan pergi selama seminggu," pamitnya.


"Mau ke mana Mas?" tanya gadis itu.


"Ke Surakarta," jawab pemuda itu.


"Oh, hati-hati ya," ujar Aini lalu menunduk.


"Dik," panggil Darren lagi.


"Ya," sahut Aini.


"Tolong rindukan aku, ya," pinta Darren.


Blush! Rona merah menjadi di pipi gadis itu. Budiman memutar mata malas. Tetapi, sejurus kemudian ia pun mengingat kisah cintanya dengan sang istri dulu. Boro-boro ia bisa bermesraan dengan Gisel waktu, itu. Acara romantisnya berantakan karena diganggu. Ia pun tersenyum miring.


"Jangan lama-lama pegangan tangannya. Kan nggak lagi mau nyebrang kan?" sindirnya sarkas.


Aini melepas genggaman tangan Darren. Sedangkan dua adik Aini sedang pergi belajar mengaji, di sekolah TPA terdekat.


"Kamu mau oleh-oleh apa dari Mas?" tanya Darren mesra.


Rona merah lagi-lagi menyemburat di pipi gadis itu.


"Aini nggak ingin apa-apa, yang penting, Mas pulang dengan selamat dan masih ada Aini di hati Mas Darren," jawab gadis itu malu-malu.


Darren tersenyum lebar mendengar jawaban gadis itu. Ia memastikan tak akan ada gadis lain, selain Aini Citra.


"Kalau begitu, Mas pulang dulu, ya. Assalamualaikum," salam Darren pamit.


"Wa'alaikumussalam, Mas. Salam untuk semuanya, hati-hati di jalan!"


Darren melambaikan tangannya. Gadis itu membalas lambaian tangan pria itu. Ia pun menekan dadanya yang berdetak kencang. Lalu tiba-tiba ia beristighfar.


"Ah, adik-adikku!"


Gadis itu nyaris lupa untuk menjemput adik-adiknya. Lokasinya memang tak terlalu jauh dari rumah sewanya, tetapi, karena Ditya dan Radit masih baru. Jadi Aini takut jika adik-adiknya nyasar. Ia pun mengunci pintu dan bergegas menuju motor dan menjemput kedua adiknya.


Sedang Lidya pun kini berpamitan pada Putri. Kedua sahabat itu saling berpelukan erat. Lidya benar-benar lupa dengan kejadian kemarin. Terlebih, Demian juga tak menghubunginya kembali. Sedang Putri masih terngiang dengan ungkapan Jacob padanya. Kemarin malam ia iseng bertanya pada ayah ibunya.


"Yah, jika tiba-tiba ada laki-laki yang melamar Putri, gimana?"


"Ya, selama laki-laki itu baik dan sayang sama kamu, kenapa ditolak. Yang penting dia seiman dan bertanggung jawab," jawab sang ayah.


"Kenapa, memangnya ada yang deketin Putri?" tanya pria itu sambil terkekeh.


"Emang Putri punya pacar?" kini sang Ibu yang bertanya.


"Cieee ... Mba Putri sudah ada yang punya," ledek adiknya.


"Put?" panggil Lidya membuyarkan lamunan sahabatnya.


"Lagi mikir apa?" tanyanya.


"Nggak ... nggak ada," jawab Putri.


"Hmmm ... oke deh. Jangan kangen gue, ya," ujar Lidya.


"Ye, cuma seminggu doang," sungut Putri.


"Eh ... umur nggak ada yang tau loh," sahut Lidya.


"Ih ... jangan ngomong gitu, ah!" tegur Putri tak suka.


"Iya ... iya maaf," sahut Lidya menyesal.


Keduanya pun beristighfar. Putri tak pulang, karena hari ini dia berjaga malam. Aini juga akan ikut berjaga. Gadis itu membawa dua adiknya turut serta.


Esok pagi. Semua sibuk. Herman sudah membangunkan mereka di pagi buta sebelum subuh. Semua harus bersiap dan berangkat jam tujuh pagi dari stasiun. Bram dan Kanya juga tak ketinggalan mendapat alarm keras dari besannya itu. Hingga semuanya kini sudah ada di stasiun. Semua orang menatap kedatangan rombongan itu. Herman sudah memesan semuanya.


Tiga gerbong sudah dipersiapkan. Semua masuk ke kelas ekslusif. Duduk dengan nyaman. Tak ada yang tertinggal. Terdengar bunyi peluit stasiun. Perlahan kereta panjang itu pun berjalan meninggalkan kota.


bersambung.